Selasa, 18 Januari 2022

ALLAH DAN WABAH COVID-19

Oleh: Join Kristian Zendrato

Kita telah melalui banyak hari dengan berita seputar Covid-19 (Corona Virus Disease 2019) yang melanda dunia. Hingga saat ini, wabah Covid-19 sudah membuat banyak masalah: kematian, ekonomi yang merosot, dan sebagainya. 

Dalam problem seperti ini kita mungkin tergoda untuk berpikir bahwa Allah telah lepas tangan atas dunia. Kita bisa mengakui tangan Allah dalam kondisi yang baik dan aman, tetapi kita kesulitan mengakui tangan-Nya dalam wabah penyakit yang menimbulkan berbagai macam penderitaan. 

Jika kita berpikir seperti itu, saya harus mengatakan bahwa pikiran kita telah jauh melenceng dari ajaran Kitab Suci. 

Saya percaya bahwa Allah tak pernah lepas tangan, dan Covid-19 ini terjadi karena rencana dan ketetapan Allah yang berdaulat. Covid-19 ini tidak pernah mengejutkan Allah. Dan bahkan segala sesuatu yang terjadi tidak pernah mengejutkan Allah, sebab segala sesuatu yang terjadi, betapapun anehnya, dan remehnya terjadi karena Allah menghendakinya untuk terjadi. 

Dalam Matius 10:29-30 Yesus berkata, "Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekor pun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya."

Dalam ayat di atas, Yesus menyebutkan burung Pipit yang harganya sangat murah, tetapi seekor burung pipit itu tidak akan pernah jatuh atau mati (apapun penyebabnya) jika hal itu tidak dikehendaki Allah. Demikian juga rambut kita, semua terhitung oleh Allah yang menunjukkan kepedulian Allah bahkan terhadap hal yang sangat remeh. Dengan demikian rambut kita pun hanya mungkin bisa rontok jika itu dikehendaki Allah. 

Dengan pemahaman seperti itu, saya juga menganggap bahwa jika kejatuhan burung pipit hanya terjadi jika Allah menghendakinya terjadi, maka Covid-19 dan segala sesuatu yang terjadi, terjadi karena Allah menghendakinya terjadi. 

Itulah mengapa, Rasul Paulus berkata dalam Roma 11:33, "Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!"

Dalam ayat itu, Paulus mengajarkan dengan eksplisit bahwa sumber segala sesuatu (dengan demkian termasuk Covid-19) adalah "dari Dia" yakni Allah. 

Dan kebenaran ini kembali ditandaskan oleh Paulus ketika ia berkata bahwa Allah adalah "... Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya" (Efesus 1:11). Ya, segala sesuatu, tidak kurang dari itu. Maksudnya adalah keputusan Allahlah yang menyebabkan segala sesuatu itu terjadi (termasuk Covid-19).

Inilah yang membuat Ayub, setelah ditimpa oleh berbagai macam bencana berseru, "TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!" (Ayub 1:21). Sekali lagi, Ayub mengenali sumber pertama dari penderitaannya yaitu Allah (TUHAN yang mengambil). 

Jadi, apapun yang terjadi tidak pernah membuat Allah menjadi heran atau terkejut karena segala sesuatu yang terjadi merupakan rencana dan ketetapan Allah termasuk Covid-19. Jika ada satu saja yang terjadi yang bisa mengejutkan Allah, maka Allah tidak maha tahu, dan ada sesuatu yang berada di luar kontrol Allah. Dan dengan demikian sesuatu itu melampaui kuasa Allah. Jika itu terjadi maka Allah bukan Allah. Jadi jika ada satu saja yang terjadi di luar rencana dan ketetapan Allah, maka kita harus mempercayai atheisme. 

Jika kita menyetujui poin-poin yang sudah dijabarkan sejauh ini, maka adalah natural untuk bertanya: apa tujuan Allah merencanakan dan menetapkan Covid-19 (dan segala macam penderitaan lainnya)?

Jawaban untuk pertanyaan ini tidak mudah. Tetapi sebelum berusaha menjawab, kita perlu mengingat bahwa penetapan Allah atas segala sesuatu yang terjadi tidak pernah terjadi secara arbitrer. Tetapi tetap terjalin bersama-sama dengan kebijaksanan-Nya dan kekudusan-Nya.

Lalu apa tujuannya Allah merencanakan dan menetapkan segala penderitaan dalam dunia ini? Jawaban untuk ini begitu luas. Setiap kasus yang terjadi memiliki tujuan spesifik di mata Allah. Dan itu bisa saja tidak bisa kita pikirkan secara komprehensif. 

Kita harus menanamkan dalam kepala kita bahwa segala pekerjaan Allah tak mampu kita selami dan pahami secara komprehensif. Finitum non possit capere infinitum. Paulus menulisnya demikian, "O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!" (Roma 11:33).

Tetapi satu hal yang perlu kita aminkan sebagai orang percaya adalah bahwa segala sesuatu yang terjadi, yang merupakan realisasi dari rencana dan ketetapan kehendak Allah yang absolut bertujuan "untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah" (Roma 8:28).

Anda mungkin bertanya kebaikan apa itu? Kebaikan apa yang saya dapatkan atas terjadinya wabah Covid-19 atau penderitaan lainnya? Saya tidak mungkin bisa menjawab hal itu secara komprehensif. Itu bisa saja supaya kita lebih bergantung kepada-Nya, atau supaya kita kembali ke jalan yang benar, atau supaya kita tidak melulu memikirkan dunia dan membawa kita sejenak untuk memikirkan sorga dan neraka, atau supaya kita bisa menunjukkan kasih kita kepada sesama. Dan banyak kemungkinan lainnya. Intinya, bagi kita yang percaya, segala sesuatu yang terjadi membawa kebaikan bagi kita, bahkan jika itu kematian itu hanya membuat kita menjadi bersama-sama dengan Kristus di surga. 

Mempercayai bahwa segala sesuatu yang terjadi merupakan rencana dan ketetapan Allah, dan tidak ada apapun yang terjadi diluar kehendak Allah merupakan "obat kuat" dalam menjalani hidup di dunia ini. Itu berarti hidup dan mati adalah keputusan Tuhan. Sakit atau sehat adalah keputusan Tuhan. 

Jika kita berada dalam bahaya apapun percayalah bahwa Allahlah yang memegang kontrol. Satu helai rambut pun tak akan jatuh kalau dia tak menghendaki. Dan jika kita mengalami hal yang pahit tetap percaya bahwa itupun adalah tangan Allah yang akan selalu membawa maksud baik bagi kita yang percaya.

John Ryland pernah menulis sebuah syair yang sangat indah yang isinya memuat kebenaran ini:

"Plagues and deaths around me fly; Till He bids, I cannot die; Not a single shaft can hit, Till the God of love sees fit."

Terjemahan bebas:

"Penyakit dan kematian melingkupiku; Tapi ajal takkan menjemputku tanpa seizin-Nya; Tak satu pun tongkat yang dapat menyentuhku, Sampai Allah yang kasih memandangnya perlu."

Itulah kata-kata yang keluar dari mulut yang mempercayai penetapan Allah atas segala sesuatu. Tak ada yang bisa terjadi, apa pun itu, di luar ketetapan dan rencana Allah. 

Tetapi saya ingin mengingatkan secara singkat bahwa semua ini tidak boleh membuat kita membuang tanggung jawab kita. Kita tetap wajib melakukan yang terbaik yang kita bisa, tetapi dengan tetap mencamkan bahwa hasil akhir dari segala usaha, bahkan usaha itu sendiri, berada dalam dan tidak pernah terlepas dari rencana dan ketetapan Allah yang absolut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KOMENTAR SINGKAT TENTANG SPIRITUALITAS ALA DANIEL MANANTA

Oleh: Join Kristian Zendrato Siapa yang tidak mengenal Daniel Mananta, pembawa acara terkenal Indonesian Idol. Daniel telah membuat channel ...