Sabtu, 21 Mei 2022

KOMENTAR SINGKAT TENTANG SPIRITUALITAS ALA DANIEL MANANTA

Oleh: Join Kristian Zendrato

Siapa yang tidak mengenal Daniel Mananta, pembawa acara terkenal Indonesian Idol.

Daniel telah membuat channel YouTube yang mayoritas berisi wawancara-wawancaranya kepada tokoh-tokoh tertentu, semisal pak Ahok, Ari Lasso, Ahmad Dhani, Luna Maya, Boy William, dsb. 

Menariknya, Daniel yang dikenal sebagai Kristen sering bertanya kepada narasumbernya tentang perjalanan spiritualitas mereka. Dalam wawancaranya dengan Ahmad Dhani dia membedakan antara spiritualitas dan religius. Baginya, spiritualitas berarti hubungan atau relationship dengan "Allah." Sedangkan religiusitas adalah ritual-ritual keagamaan. 

Dalam wawancaranya dengan narasumber-narasumbernya, Daniel memberi kesan bahwa memang setiap manusia memiliki semacam relationship kepada "Allah." Relationship itu bersifat subjektif dan berbeda bagi tiap orang. Kesan yang saya dapatkan lagi adalah bahwa Daniel sepertinya membenarkan setiap macam relationship tersebut. Biasanya dia berkata "wow."

Saya terkejut melihat dan mendengar semua hal ini, sebab saya tahunya Daniel adalah seorang Kristen. Apa yang di "wow" kan oleh Daniel mengenai spiritualitas sangat bertentangan dengan Injil Yesus Kristus. 

Kenapa demikian? Sebelum kita berbicara mengenai relationship dengan Allah (spiritualitas dalam defenisi Daniel) maka seharusnya seorang Kristen perlu bertanya terlebih dahulu, "Bagaimana saya, seorang berdosa, bisa berhubungan dengan Allah yang kudus?" Sebab secara alamiah kita terpisah dari Allah karena dosa-dosa kita. 

Tapi saya melihat dalam pemikiran Daniel, setiap orang secara alami memang bisa mempunyai relasi dengan Allah, sehingga Dia bisa meminta narasumbernya untuk menceritakan mengenai relasinya itu dengan Allah. 

Hal ini mengingatkan saya tentang seorang pengkhotbah bernama Joel Osteen yang digambarkan oleh Profesor Michael Horton sebagai seorang yang "berbicara kepada para pembacanya seolah-olah setiap orang adalah 'anak-anak Allah yang Mahatinggi,' tanpa sekalipun menyebut Kristus sebagai Mediator dari relasi ini" (lihat Michael Horton, Kekristenan Tanpa Kristus [Surabaya: Momentum, 2012], hal. 82).

Padahal, secara alami, kita terpisah dari Allah karena dosa. Atau dalam bahasa Paulus, "Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu" (Efesus 2:1).

Keterpisahan kita dengan Allah ini hanya bisa dibangun kembali oleh Pribadi dan Karya Yesus Kristus. Tanpa itu, tidak ada relasi dengan Allah. Yang ada hanyalah keterpisahan. Dan itulah Injil, Kabar Baik yang tidak dipikirkan Daniel. 

Saya menulis ini bukan untuk gagah-gagahan, tetapi lebih kepada tujuan supaya kita tidak menganggap bahwa semua kita memiliki relasi atau hubungan secara alami kepada Allah Tritunggal. No. Kita pada dasarnya "mati" secara rohani dan dengan demikian terpisah dari Allah. Hanya melalui karya Kristus di kayu salib dan kebangkitan-Nya, kita akhirnya bisa memiliki relasi dengan Allah. Itulah sebabnya Yesus disebut sebagai The Mediator (sang Pengantara) - seperti judul sebuah buku karya Emil Brunner. 

Akhirnya, pesan saya, kritislah dalam melihat dan mendengar hal-hal rohani yang digaungkan oleh tokoh-tokoh terkenal bahkan ketika mereka adalah seorang Kristen. Bacalah Alkitabmu. Belajarlah kepada orang yang teologinya bagus "sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan" (Efesus 4:14).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KOMENTAR SINGKAT TENTANG SPIRITUALITAS ALA DANIEL MANANTA

Oleh: Join Kristian Zendrato Siapa yang tidak mengenal Daniel Mananta, pembawa acara terkenal Indonesian Idol. Daniel telah membuat channel ...