Senin, 07 Februari 2022

GELAR AKADEMIK TAK SELALU MENJAMIN SESEORANG MENGAJARKAN AJARAN YANG BENAR

Oleh: Join Kristian Zendrato

Beberapa waktu yang lalu saya menonton kuliah lama dari R.C. Sproul berjudul "Contradiction vs. Mystery: The Mystery of the Trinity." 

Sproul dalam kuliah itu menceritakan tentang seorang profesor yang suatu kali dalam kelas yang diikuti oleh Sproul membuat pernyataan demikian, "God is absolutely immutable in His essence, and God is absolutely mutable in His essence" (Allah secara absolut tidak berubah dalam esensi-Nya, dan Allah secara absolut berubah dalam esensi-Nya).

Sproul berkata bahwa di antara para mahasiswa yang mendengar hal itu, banyak yang menganggap bahwa pernyataan profesor tersebut sebagai sesuatu yang luar biasa. "That's deep" (Itu mendalam), kata para mahasiswa tersebut.

Tetapi bagi Sproul sendiri, kata-kata profesor tersebut adalah kata-kata yang berkontradiksi, tidak benar dan nonsense. Sproul berkata, "That's nuts. That's whacky" (Itu gila. Itu sinting).

Sproul benar. Karena Allah tidak mungkin absolutely immutable in His essence (secara absolut tidak berubah dalam esensi-Nya) dan absolutely mutable in His essence (secara absolut berubah dalam esensi-Nya) pada saat yang sama. 

Pernyataan profesor itu jelas melanggar hukum non-kontradiksi yang secara sederhana dapat dirumuskan sebagai berikut: A bukan A dan Non-A pada saat yang sama dan dalam relasi yang sama. Demikian juga, Allah tidak bisa memiliki sifat yang tidak berubah dan sifat yang berubah pada saat yang sama dan dalam relasi yang sama. Itu adalah kontradiksi.

Lalu kenapa tetap saja ada orang yang menganggap bahwa pernyataan profesor itu sebagai sesuatu yang luar biasa dan mendalam, padahal itu jelas pernyataan yang kontradiksi?

Sproul mengatakan bahwa, "...if you have enough education and a position of authority in the academic world, you can make nonsense statements and have people walk away impressed by how profound you are."

Terjemahannya sebagai berikut, "...jika Anda memiliki pendidikan yang cukup dan posisi yang berotoritas dalam dunia akademik, Anda dapat membuat pernyataan-pernyataan yang tidak masuk akal [omong kosong] dan membuat orang-orang terkesan oleh betapa dalamnya [pemikiran] Anda."

Kata-kata Sproul ini memang tidak bisa dimutlakkan. Tetapi bagaimana pun, kejadian seperti ini banyak terjadi. Orang-orang yang memiliki kedudukan tertentu, jabatan tertentu seringkali menyatakan banyak omong kosong dan bahkan menyatakan hal-hal yang kontradiksi dan tak masuk akal (absurd), tetapi tetap saja banyak orang yang menyanjung mereka.

Ini jelas bahaya. Dan dalam dunia teologi orang-orang seperti itu banyak. 

Saran saya, jangan hanya gara-gara kedudukan akademis, gelar yang mentereng, maka kita menganggap bahwa kata-kata seseorang itu pasti benar.

Gelar akademik, kedudukan akademik tidak menjamin seseorang mengajarkan hal yang benar. Ujilah segala sesuatu dengan Alkitab, dan jangan lupa juga gunakan selalu akal sehat.

"Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik" (1 Tesalonika 5:21).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KOMENTAR SINGKAT TENTANG SPIRITUALITAS ALA DANIEL MANANTA

Oleh: Join Kristian Zendrato Siapa yang tidak mengenal Daniel Mananta, pembawa acara terkenal Indonesian Idol. Daniel telah membuat channel ...