Sabtu, 21 Mei 2022

KOMENTAR SINGKAT TENTANG SPIRITUALITAS ALA DANIEL MANANTA

Oleh: Join Kristian Zendrato

Siapa yang tidak mengenal Daniel Mananta, pembawa acara terkenal Indonesian Idol.

Daniel telah membuat channel YouTube yang mayoritas berisi wawancara-wawancaranya kepada tokoh-tokoh tertentu, semisal pak Ahok, Ari Lasso, Ahmad Dhani, Luna Maya, Boy William, dsb. 

Menariknya, Daniel yang dikenal sebagai Kristen sering bertanya kepada narasumbernya tentang perjalanan spiritualitas mereka. Dalam wawancaranya dengan Ahmad Dhani dia membedakan antara spiritualitas dan religius. Baginya, spiritualitas berarti hubungan atau relationship dengan "Allah." Sedangkan religiusitas adalah ritual-ritual keagamaan. 

Dalam wawancaranya dengan narasumber-narasumbernya, Daniel memberi kesan bahwa memang setiap manusia memiliki semacam relationship kepada "Allah." Relationship itu bersifat subjektif dan berbeda bagi tiap orang. Kesan yang saya dapatkan lagi adalah bahwa Daniel sepertinya membenarkan setiap macam relationship tersebut. Biasanya dia berkata "wow."

Saya terkejut melihat dan mendengar semua hal ini, sebab saya tahunya Daniel adalah seorang Kristen. Apa yang di "wow" kan oleh Daniel mengenai spiritualitas sangat bertentangan dengan Injil Yesus Kristus. 

Kenapa demikian? Sebelum kita berbicara mengenai relationship dengan Allah (spiritualitas dalam defenisi Daniel) maka seharusnya seorang Kristen perlu bertanya terlebih dahulu, "Bagaimana saya, seorang berdosa, bisa berhubungan dengan Allah yang kudus?" Sebab secara alamiah kita terpisah dari Allah karena dosa-dosa kita. 

Tapi saya melihat dalam pemikiran Daniel, setiap orang secara alami memang bisa mempunyai relasi dengan Allah, sehingga Dia bisa meminta narasumbernya untuk menceritakan mengenai relasinya itu dengan Allah. 

Hal ini mengingatkan saya tentang seorang pengkhotbah bernama Joel Osteen yang digambarkan oleh Profesor Michael Horton sebagai seorang yang "berbicara kepada para pembacanya seolah-olah setiap orang adalah 'anak-anak Allah yang Mahatinggi,' tanpa sekalipun menyebut Kristus sebagai Mediator dari relasi ini" (lihat Michael Horton, Kekristenan Tanpa Kristus [Surabaya: Momentum, 2012], hal. 82).

Padahal, secara alami, kita terpisah dari Allah karena dosa. Atau dalam bahasa Paulus, "Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu" (Efesus 2:1).

Keterpisahan kita dengan Allah ini hanya bisa dibangun kembali oleh Pribadi dan Karya Yesus Kristus. Tanpa itu, tidak ada relasi dengan Allah. Yang ada hanyalah keterpisahan. Dan itulah Injil, Kabar Baik yang tidak dipikirkan Daniel. 

Saya menulis ini bukan untuk gagah-gagahan, tetapi lebih kepada tujuan supaya kita tidak menganggap bahwa semua kita memiliki relasi atau hubungan secara alami kepada Allah Tritunggal. No. Kita pada dasarnya "mati" secara rohani dan dengan demikian terpisah dari Allah. Hanya melalui karya Kristus di kayu salib dan kebangkitan-Nya, kita akhirnya bisa memiliki relasi dengan Allah. Itulah sebabnya Yesus disebut sebagai The Mediator (sang Pengantara) - seperti judul sebuah buku karya Emil Brunner. 

Akhirnya, pesan saya, kritislah dalam melihat dan mendengar hal-hal rohani yang digaungkan oleh tokoh-tokoh terkenal bahkan ketika mereka adalah seorang Kristen. Bacalah Alkitabmu. Belajarlah kepada orang yang teologinya bagus "sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan" (Efesus 4:14).

MEMIKIRKAN KEKEKALAN

Oleh: Join Kristian Zendrato

Sadar atau tidak dan suka atau tidak, kita uscue et uscue hidup di bawah bayang-bayang maut. Apalagi saat ini dengan adanya wabah virus Corona, setiap hari kita bisa membaca berapa korban-korban meninggal terbaru dari madia-media sosial. Begitu dekatnya kita dengan kematian. 

Dalam kondisi seperti ini, saya tak mengatakan bahwa kita harus membiarkan diri kita mati. Kita tentunya harus melakukan yang terbaik supaya bisa tetap hidup, dengan makan makanan sehat, olahraga, mematuhi protokol kesehatan dari pemerintah, dan sebagainya.

Tetapi bagaimanapun itu, kita tetap terbuka bagi kematian, entah Anda kaya, miskin, bersahaja, berkedudukan, tua, muda, dan sebagainya. "Memento mori." Kematian datang kapan saja tanpa izin, dan dengan cara yang berbeda-beda bagi tiap manusia.

Hal ini seharusnya menuntun kita untuk berpikir tentang kehidupan setelah kematian - kekekalan. Berpikir tentang kekekalan surga dan neraka sering kali dicemooh. Tetapi bagi saya yang fana dan akan mati suatu saat, memikirkan kekekalan merupakan hal yang sangat penting. Penting karena itu diajarkan oleh Yesus dan Kitab Suci dan karena itu benar.

Lagipula, manusia berbeda dengan binatang dan tumbuhan. Manusia dan tumbuhan tidak ada lagi setelah ia mati. Kematian adalah akhir eksistensi dari binatang maupun tumbuhan. Berbeda dengan itu, manusia diciptakan oleh Tuhan sedemikian rupa dengan menanamkan kekekalan dalam hati manusia (Pengkhotbah 3:11), sehingga bahkan setelah kematian, manusia tetap eksis walaupun dalam cara eksistensi yang berbeda dengan cara eksistensi saat ini.

Perlu juga dicatat bahwa kepercayaan terhadap kehidupan setelah kematian mempengaruhi etika hidup kita sekarang di bumi ini. Paulus menganggap bahwa tanpa kehidupan setelah kematian maka seluruh tatanan moral akan hancur berantakkan dan kita bisa berbuat apa saja (lihat 1 Kor. 15:32).

Memikirkan hidup yang kekal yang mulia juga merupakan penghiburan bagi orang percaya yang menderita dalam dunia ini. Setelah mengikut Kristus, Paulus tidak terlepas dari penderitaan, justru sebaliknya penderitaannya semakin banyak. Dia menulis tentang penderitaannya sebagai berikut: "Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa. Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami. Sebab kami, yang masih hidup ini, terus-menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya juga hidup Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini" (2 Korintus 4:8-11). Dan lagi, "Apakah mereka pelayan Kristus? — aku berkata seperti orang gila — aku lebih lagi! Aku lebih banyak berjerih lelah; lebih sering di dalam penjara; didera di luar batas; kerap kali dalam bahaya maut. Lima kali aku disesah orang Yahudi, setiap kali empat puluh kurang satu pukulan, tiga kali aku didera, satu kali aku dilempari dengan batu, tiga kali mengalami karam kapal, sehari semalam aku terkatung-katung di tengah laut. Dalam perjalananku aku sering diancam bahaya banjir dan bahaya penyamun, bahaya dari pihak orang-orang Yahudi dan dari pihak orang-orang bukan Yahudi; bahaya di kota, bahaya di padang gurun, bahaya di tengah laut, dan bahaya dari pihak saudara-saudara palsu. Aku banyak berjerih lelah dan bekerja berat; kerap kali aku tidak tidur; aku lapar dan dahaga; kerap kali aku berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian, dan, dengan tidak menyebut banyak hal lain lagi, urusanku sehari-hari, yaitu untuk memelihara semua jemaat-jemaat. Jika ada orang merasa lemah, tidakkah aku turut merasa lemah? Jika ada orang tersandung, tidakkah hatiku hancur oleh dukacita? Jika aku harus bermegah, maka aku akan bermegah atas kelemahanku. Allah, yaitu Bapa dari Yesus, Tuhan kita, yang terpuji sampai selama-lamanya, tahu, bahwa aku tidak berdusta. Di Damsyik wali negeri raja Aretas menyuruh mengawal kota orang-orang Damsyik untuk menangkap aku. Tetapi dalam sebuah keranjang aku diturunkan dari sebuah tingkap ke luar tembok kota dan dengan demikian aku terluput dari tangannya" (2 Korintus 11:23-33). Dan lagi, "Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri. Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku. Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku" (2 Korintus 12:7-9).

Lalu apa penghiburan bagi Paulus dalam penderitaannya yang luar biasa banyak itu? Salah satunya adalah pemikirannya tentang kehidupan setelah kematian - kekekalan. Paulus mengekspresikan ini dalam kata-katanya berikut ini: "Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita" (Roma 8:18). Selanjutnya dalam suratnya kepada jemaat Korintus ia menulis hal serupa, "Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari. Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami" (2 Korintus 4:16-17). 

C. S. Lewis menangkap hal ini dengan sangat baik ketika ia menulis sebagai berikut: 

“Buku mengenai penderitaan yang tidak mengatakan apa pun tentang sorga adalah sebuah kekurangan yang hampir menghilangkan sisi penting dari tulisan tersebut."

Lewis melanjutkan:

“Kitab suci dan tradisi iman terbiasa menempatkan sukacita sorgawi ke dalam skala yang bertentangan dengan penderitaan di bumi, dan tidak ada solusi atas masalah rasa sakit yang tidak terkait dengan sukacita sorgawi, yang bisa disebut sebagai solusi Kristiani. Kita sangat malu menyebutkan sorga di zaman sekarang. Kita takut dengan ejekan tentang sorga sebagai imajinasi ‘kue di langit’… tetapi kemungkinannya memang hanya dua; apakah sorga itu memang ada atau tidak sama sekali. Jika sorga tidak ada, maka kekristenan salah, karena doktrin tersebut ditenun ke dalam seluruh kepercayaan Kristen. Jika sorga ada, maka kebenaran ini, seperti halnya kebenaran lain, harus dihadapi…" [C. S. Lewis, The Great Divorce (Signature Classics, 2012), hal. 427, dikutip oleh John Lennox, Where is God in A Coronavirus World? (Perkantas Jawa Timur, 2020), hal. 70].

Fakta bahwa ada sorga yang kekal, tidak membuat semua orang yang memikirkan dan percaya pada kehidupan setelah kematian akan pergi ke surga. Mitos ini ditentang oleh Alkitab. Yesus dan Perjanjian Baru mengajarkan bahwa ada sisi kekekalan lain yang akan dihadapi oleh manusia di luar Kristus yaitu neraka yang kekal. 

Semua orang akan menghadapi kehidupan setelah kematian - sorga dan neraka. Bagi orang-orang yang telah ditebus oleh darah Kristus akan mewarisi sorga yang mulia (Yoh. 3:16; Ro. 8:1). Bagi mereka yang lain akan mewarisi neraka untuk dihukum karena dosa-dosa mereka (Yoh. 3:36).

Ada orang-orang tertentu yang menyangkal tentang adanya neraka yang kekal dan menggantikannya dengan anihilasi. Bagaimanapun konsep ini bertentangan dengan Alkitab. Demikian juga pandangan yang mengatakan bahwa memang ada orang-orang yang akan dihukum tetapi tujuan penghukuman itu adalah memurnikan dan sementara. Ini juga bertentangan dengan Alkitab. Alkitab mengajarkan bahwa tidak ada pembebasan atau pemurnian apapun dalam neraka. Penghukuman dalam neraka itu kekal selama-lamanya. John Owen mengatakan, "Tak ada penyucian di sorga atau neraka, karena di sorga tak ada dosa dan di neraka tak ada amandemen" [John Owen, Works, vol. XXIV, hlm. 260, dikutip oleh Sinclair B. Ferguson, Children of the Living God - Anak-anak Allah yang Hidup (Surabaya: Momentum, 2003), hal. 129-130].

Jadi hanya, dan hanya bagi orang-orang yang menaruh kepercayaannya kepada Yesus sebagai satu-satunya Juruselamat akan mendapati bahwa pemikiran tentang kekekalan membawa sukacita dalam penderitaan, dan dalam menghadapi kematian. Sukacita kekekalan itu dilukiskan dalam Kitab Wahyu: 

“Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan lautpun tidak ada lagi… Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka. Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu.” (Why. 21:1, 3b-4).

Saya menulis ini bukan dalam rangka meninabobokan kita dengan sorga dan tidak mempedulikan kehidupan saat ini. Saya tetap mendorong kehidupan yang produktif selama kita hidup, tetapi dengan satu pemikiran bahwa pada akhirnya kita harus siap menghadapi realitas kehidupan setelah kematian.

Saya ingin menutup tulisan ini dengan mengutip kata-kata dari Profesor John C. Lennox dalam buku terbarunya Where is God in A Coronavirus World? Profesor Lennox berbicara mengenai orang-orang Kristen pada abad-abad awal Kekristenan yang kehidupan mereka sangat dekat dengan kematian. Ia berkata:

"Orang Kristen mula-mula, hidup dalam situasi dunia yang berbahaya yang mana mereka semua dikelilingi oleh berbagai bentuk ancaman dan angka harapan hidup yang sangat pendek. Namun mereka diberi kekuatan untuk menjalani hidup penuh pengorbanan, seperti yang memang mereka tampilkan, serta berkontribusi bagi kesejahteraan hidup orang lain. Semua itu didasarkan pada fakta bahwa mereka memiliki pengharapan yang hidup dan nyata, yang melampaui kematian" [John C. Lennox, Where is God in A Coronavirus World? (Perkantas Jawa Timur, 2020), hal. 69-70].

REFLEKSI MENGENAI PERJALANAN HIDUP YANG DATANG SEPOTONG DEMI SEPOTONG

Oleh: Join Kristian Zendrato

Tancredo de Almeida Neves adalah presiden Brazil ke-34. Neves mencalonkan diri sebagai presiden Brazil pada 1984. Pada masa kampanye, Neves mengatakan, "Bila mendapat 500 ribu suara dari partai saya sendiri maka takkan ada yang bisa mendepak saya dari kursi kepresidenan bahkan Tuhan sendiri."

Neves memang terpilih menjadi presiden Brazil pada 15 Januari 1985, naasnya, Neves jatuh sakit parah pada malam pelantikannya, dan akhirnya meninggal beberapa minggu kemudian.

Kisah Neves mengingatkan saya akan kata-kata dalam Alkitab, "Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi TUHANlah yang menentukan arah langkahnya" (Amsal 16:9). "Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan TUHANlah yang terlaksana" (Amsal 19:21).

Allah seakan-akan berteriak kepada saya, "Kehendak-Ku lah yang akan terjadi bukan kehendak manusia."

Terkadang kita terlalu percaya diri menjalani hidup - saya juga sering begitu, dan menganggap bahwa apa yang kita rencanakan dan pikirkan pasti akan terealisasi dan benar. Kita lupa bahwa ada Allah Tritunggal yang mahatahu dan yang kehendak-Nyalah yang akan terjadi. 

Kita sering merencanakan untuk melakukan sesuatu dan berpikir secara pasti bahwa itu akan terjadi tanpa mengakui bahwa hanya kuasa Allahlah yang memampukan kita untuk bertindak ini dan itu. Kita lupa bahwa di bawah matahari rencana-rencana kita bisa gagal karena berbagai macam faktor termasuk kematian. Yakobus mencatat: "Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: 'Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung', sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap" (Yakobus 4:13-14).

Yakobus sepertinya mau mengatakan kepada kita agar kita jangan terlalu percaya diri kala kita merencanakan sesuatu, sebab rencana-rencana kita bisa gagal. Dalam ayat selanjutnya, bertentangan dengan kepercayaan pada diri sendiri, Yakobus mengajak kita memperhatikan apa yang seharusnya kita lakukan kala kita merencanakan sesuatu: "Sebenarnya kamu harus berkata: "Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu" (Yakobus 4:15).

Prinsip yang ingin Yakobus tanamkan dalam pikiran kita adalah tetaplah bergantung pada kehendak Allah. Jika kita merencanakan sesuatu kita tetap harus berkata: "Jika Tuhan menghendaki." Sebab kehendak Tuhan adalah "rahim dari segala sesuatu" (Herman Bavinck).

Itulah sebabnya ketika Paulus meninggalkan Efesus, ia berpesan kepada orang-orang yang ingin menahannya di sana, "'Aku akan kembali kepada kamu, jika Allah menghendakinya.' Lalu bertolaklah ia dari Efesus" (Kisah Para Rasul 18:21). 

Sikap seperti inilah yang seharusnya ada dalam diri setiap orang percaya. Dalam melakukan apapun, entah berpergian, menjalankan bisnis, bersekolah, dsb, kita tetap harus percaya kepada Tuhan bukan kepada diri sendiri dan berkata dengan iman, "jika Allah menghendaki, aku akan melakukan ini atau itu."

Inilah sikap yang rendah hati dan sadar bahwa kita tidak mengetahui misteri hari esok. "Janganlah memuji diri karena esok hari, karena engkau tidak tahu apa yang akan terjadi hari itu" (Amsal 27:1). 

Keadaan kita saat ini bukan keseluruhan cerita kita. Ini masih sepotong cerita yang esoknya bisa berubah total. Jika hari ini masih bernafas, siapa yang menjamin bahwa besok kita masih bernafas? Jika hari ini kita baik-baik saja, siapa yang bisa menjamin bahwa besok pun kita akan tetap baik-baik? Hidup dan mati adalah di tangan Tuhan. 

John Piper dalam buku terbarunya Corona Virus and Christ (Perkantas Jawa Timur, 2020) menulis sebuah paragraf yang berkaitan dengan masalah ini. Ia menyatakan:

"Orang-orang sering bertanya sebelum saya didiagnosis mengidap kanker, “Bagaimana kesehatan Anda?” Dan, saya akan menjawab, “Baik-baik saja.” Sekarang saya tidak menjawab seperti itu lagi. Sebaliknya, saya berkata, “Saya merasa baik-baik saja.” Ada perbedaan antara jawaban-jawaban ini. Pada hari sebelum saya mengikuti pemeriksaan kesehatan tahunan itu, saya merasa baik-baik saja. Pada keesokan harinya, saya diberitahu bahwa saya mengidap 

kanker. Dengan kata lain, saya tidak baik-baik saja. Maka, ketika saya menulis kata-kata ini, saya sesungguhnya tidak tahu apakah saya baik-baik saja. Saya merasa baik-baik saja; jauh 

melebihi yang layak saya dapatkan, sebab, yang saya tahu, saya sekarang mengidap kanker, atau penggumpalan darah, atau mungkin virus corona. Apa maksudnya? Maksudnya adalah ini: alasan terutama kita seharusnya tidak berkata, “Saya baik-baik saja” adalah bahwa hanya Allah yang mengetahui dan memutuskan apakah Anda baik-baik saja—sekarang. Mengatakan “Saya baik-baik saja” padahal Anda tidak tahu apakah Anda baik-baik saja, dan Anda tidak dapat mengendalikan keadaan Anda, sama dengan mengatakan, “Besok saya akan pergi ke kota Chicago dan berbisnis di sana” padahal Anda tidak tahu apakah Anda masih hidup esok hari, apalagi melakukan bisnis di Chicago." (Piper, Coronavirus and Christ, hal. 14-15).

Piper menulis dengan tepat. Kita memang tidak tahu keadaan kita dengan pasti sekarang, entah baik atau tidak. Jika kita merasa baik sekarang, maka itu hanya penglihatan kita semata karena kita tidak mahatahu. Yang tahu seluruh keadaan kita hanyalah Allah. 

Semua ini mengajarkan kita bahwa kita tidak bisa bersandar pada diri dan kekuatan kita sendiri. Rencana-rencana kita hanya bisa terlaksana jika Allah menghendakinya. Kita, saat ini tidak mengetahui seluruh kehidupan kita. Kita hanya mengetahui sepotong cerita kita, sedangkan Allah mengetahui semuanya. 

Untuk itu buanglah kesombongan. Keadaan-keadaan kita bisa berubah. Rencana-rencana kita bisa gagal. Satu-satunya harapan yang bisa dipercaya adalah Allah Tritunggal, bukan diri kita sendiri. Kita harus seperti Yesus saat berdoa di Getsemani, "Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki" (Matius 26:39).

KETIKA KELUCUAN DIJADIKAN SEBAGAI STANDAR UNTUK MENILAI BENAR TIDAKNYA SEBUAH KHOTBAH ATAU AJARAN

Oleh: Join Kristian Zendrato

"Khotbahnya bagus!" kata seseorang. Lantas ketika ditanya, "Apa alasannya?" dia menjawab, "Banyak lucu-lucunya." 

Percakapan singkat di atas merupakan representasi dari standar kebanyakan orang (entah orang awam, mahasiswa teologi, dsb) kala menilai baik tidaknya atau benar tidaknya sebuah khotbah atau ajaran. Ya, standarnya adalah kelucuan. Kelucuan dijadikan sebagai sebuah sine qua non dalam khotbah.

Saat ini, jika Anda berhasil membuat orang tertawa terbahak-bahak dalam acara pemberitaan firman maka khotbah Anda dianggap sudah benar. 

Apa yang dicari orang sekarang adalah lawakan, bukan kebenaran. Banyak orang sangat menikmati hal-hal yang membuat mereka tertawa bahkan ketika hal-hal itu sebenarnya absurd dan bertentangan dengan akal sehat dan di atas segala-galanya tidak Alkitabiah.

Kondisi lapangan inilah yang sering dimanfaatkan oleh para pengkhotbah lawakan. Mereka cukup membaca ayat-ayat dengan ditambahi banyak lelucon "un-faedah" dan tolol sepanjang acara pemberitaan firman.

Pengkhotbah-pengkhotbah kita sekarang hampir tidak bisa dibedakan dengan komedian penghibur, dan sayangnya itulah kesukaan kebanyakan orang Kristen.

Inilah salah satu kondisi yang mungkin termasuk dalam kata-kata Paulus berikut ini: "Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng" (2 Timotius 4:3-4).

Paulus menuliskan hal ini tentunya bukan supaya kita melakukan tindakan membuka diri bagi dongeng. Paulus sebaliknya menuliskan ini sebagai contoh penyimpangan yang harus kita jauhi dan lawan.

Fenomena yang telah dijelaskan di atas jelas merupakan penyimpangan dari Firman Allah. Orang percaya seharusnya tidak boleh candu terhadap setiap lawakan mimbar yang tak berguna, apalagi memakainya sebagai standar untuk menilai benar tidaknya suatu khotbah atau ajaran, karena kelucuan tak pernah membuat khotbah seseorang menjadi benar.

Jika benar tidaknya suatu khotbah atau ajaran dinilai dari kelucuannya maka para pelawak adalah pengkhotbah terbaik. Siaran-siaran komedi semisal Stand Up Comedy akan menjadi acara yang paling terberkati.

Sebaliknya, standar kebenaran khotbah atau ajaran adalah Alkitab Firman Allah. Apa yang kita lihat dalam khotbah bukanlah kelucuannya tetapi apakah khotbah atau ajaran itu Alkitabiah atau tidak. Orang percaya seharusnya meniru orang-orang Yahudi yang mendengar khotbah Paulus di Berea, yang dalam Kisah Para Rasul digambarkan sebagai berikut: "Orang-orang Yahudi di kota itu lebih baik hatinya dari pada orang-orang Yahudi di Tesalonika, karena mereka menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian" (Kisah Para Rasul 17:11).

Orang percaya harus mengubah pemikirannya (mindset) sekarang. Kita harus mencintai khotbah-khotbah yang serius, berbobot, dan Alkitabiah usque et usque. Khotbah-khotbah itulah yang harus kita dengar, bukan khotbah-khotbah lawakan tak berguna dan tolol.

Juga untuk para hamba Tuhan dan pengkhotbah, kita harus tetap mengingat bahwa tugas kita bukan melawak di atas mimbar, melainkan seperti Paulus, "tidak lalai memberitakan seluruh maksud Allah kepadamu" (Kisah Para Rasul 20:27), dan yang terus mengusahakan "supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu" (2 Timotius 2:15).

Tugas pengkhotbah adalah menjelaskan teks Kitab Suci dengan setia - usque et usque - bukan melawak. Seperti yang dinyatakan John Piper, "Semua khotbah Kristen harus menjadi penguraian dan penerapan TEKS Alkitab. Otoritas kita sebagai para pengkhotbah yang diutus oleh Allah akan bertahan atau runtuh bersama kesetiaan kita yang nyata kepada TEKS Kitab Suci" (John Piper, Supremasi Allah Dalam Khotbah, hal. 29).

Pengkhotbah tidak boleh melalaikan penjelasan teks Kitab Suci - usque et usque - dengan bertanggungjawab dan tidak boleh menggantikannya dengan berbagai macam lawakan demi menyenangkan pendengarnya. Pengkhotbah harus menyenangkan Allah bukan manusia. Kalau sampai tujuan pengkhotbah adalah menyenangkan manusia maka Dia bukan hamba Tuhan. Paulus berkata, "Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus" (Galatia 1:10).

KENETRALAN ADALAH MITOS - IT DOES NOT MAKE SENSE

Oleh: Join Kristian Zendrato

Saya sering mendengar, "Sesama Kristen tak boleh saling serang. Sesama Kristen tak boleh saling mengkritik. Sesama Kristen tak boleh saling mempermasalahkan ajaran satu aliran dengan aliran lain. Semua ajaran sama benarnya."

Kata-kata semacam demikian di atas simply tidak benar. Semua ajaran yang diusung oleh setiap aliran kadang-kadang saling bertentangan frontal satu dengan yang lain. Misalnya Arminianisme mengajarkan bahwa Yesus mati untuk setiap manusia tanpa terkecuali, sedangkan Calvinisme atau Reformed mengajarkan bahwa Yesus mati hanya untuk sebagian manusia yakni umat pilihan Allah. Itu hanya satu contoh. Dan kalau anda mempunyai pikiran yang waras, anda tidak mungkin mengakui bahwa ajaran-ajaran yang saling bertentangan itu sama-sama benar.

Juga perlu diingat bahwa semua doktrin yang kita percayai, entah dinyatakan secara langsung atau tidak, pada esensinya merupakan penolakan terhadap doktrin yang lain yang bertentangan dengannya. Kita tidak bisa menciptakan daerah netral dimana kita bisa berdiri. It does not make sense. 

Inilah sifat dari kebenaran. Kebenaran ber-antitesis dengan kesalahan. Jika ada sebuah klaim kebenaran, maka klaim itu ber-antitesis dengan klaim yang bertentangan dengannya. Seperti yang diungkapkan oleh Douglas Groothuis: "Bagi satu 'ya' teologis terdapat jutaan 'tidak.' Apa yang benar menyingkirkan semua hal yang bertentangan dengannya" [Douglas Groothuis, Pudarnya Kebenaran: Membela Kekristenan Terhadap Tantangan Postmodernisme (Surabaya: Momentum, 2003), hal. 64].

Jika anda mempercayai bahwa Allah itu Tritunggal (1 Hakikat, 3 Pribadi), maka entah dinyatakan secara langsung atau tidak, kepercayaan itu merupakan penolakan terhadap doktrin Unitarianisme. Jika Anda mempercayai bahwa Alkitab adalah satu-satunya Firman Allah yang sejati dan benar, maka entah dinyatakan secara langsung atau tidak, kepercayaan itu merupakan penolakan terhadap kepercayaan lainnya. Jika anda mempercayai bahwa manusia hanya bisa diselamatkan melalui iman kepada Yesus yang mati dan bangkit, maka entah dinyatakan secara langsung atau tidak, kepercayaan itu merupakan penolakan terhadap ajaran keselamatan karena perbuatan baik. Jika anda mempercayai bahwa Yesus hanya mati untuk umat pilihan, maka entah dinyatakan secara langsung atau tidak, kepercayaan itu merupakan penolakan terhadap ajaran Arminianisme yang mengajarkan bahwa Yesus mati untuk semua orang. Jika anda menyatakan bahwa Yesus adalah Allah sejati dan Manusia sejati, maka entah dinyatakan secara langsung atau tidak, pernyataan itu merupakan penolakan terhadap ajaran yang menyangkal keilahian Yesus.

Douglas Groothuis berkomentar, "... jika Yesus adalah Allah yang berinkarnasi, maka Ia BUKAN SEKEDAR (1) nabi dari Allah (Islam), (2) reformator yang salah arah (Yudaisme), (3) satu avatar dari Brahman (Hinduisme), (4) satu manifestasi dari Allah (iman Baha'i), (5) guru yang sadar akan Allah (Zaman Baru), (6) nabi sosial yang terinspirasi tetapi bukan ilahi (teologi liberalisme/pembebasan), dan seterusnya." Groothuis melanjutkan dengan berkata, "Jika Allah adalah keberadaan yang berpribadi yang bereksistensi secara kekal sebagai tiga pribadi yang adalah esa (Bapa, Anak, dan Roh Kudus), maka realitas ilahi BUKAN (1) esa dalam dalam pengertian unitarian (Islam, Yudaisme, atau Unitarianisme), (2) kesadaran yang impersonal - imoral (beberapa aliran pemikiran Hinduisme, Buddhisme, dan Zaman Baru), (3) non-eksisten (Buddhisme Theraveda, Jenisme, dan bentuk-bentuk sekuler ateisme), (4) banyak allah (Mormonisme, Shinto, dan bentuk-bentuk politeisme dan animisme lainnya), dan seterusnya" [Douglas Groothuis, Pudarnya Kebenaran, hal. 162, 163]. 

Jadi intinya, dua atau lebih ajaran yang saling bertentangan tidak bisa sama-sama benar. Bisa sama-sama salah. Atau hanya salah satunya yang benar. Tidak ada posisi netral (tidak berpihak) dalam kasus seperti ini. Jika Anda mempercayai satu ajaran, maka otomatis anda harus menolak yang lain sebagai salah. 

Jadi merupakan kesalahan kalau kita mengatakan bahwa "semua ajaran sama saja benarnya, yang penting Kristen." Itu bodoh dan absurd. Dan lebih bodoh lagi untuk berkata "semua ajaran agama sama." Itu sama saja dengan berkata 1+1=2 adalah benar, dan 1+1=3 adalah benar. It does not make sense.

Dalam hal ini, jika ada sebuah ajaran maka ajaran itu hanya bisa salah atau benar. Benar atau salah itulah masalahnya. Tidak ada titik netral dalam hal ini. Kenetralan adalah mitos. It does not make sense.

KOMENTAR SINGKAT TENTANG SPIRITUALITAS ALA DANIEL MANANTA

Oleh: Join Kristian Zendrato Siapa yang tidak mengenal Daniel Mananta, pembawa acara terkenal Indonesian Idol. Daniel telah membuat channel ...