Sabtu, 21 Mei 2022

KOMENTAR SINGKAT TENTANG SPIRITUALITAS ALA DANIEL MANANTA

Oleh: Join Kristian Zendrato

Siapa yang tidak mengenal Daniel Mananta, pembawa acara terkenal Indonesian Idol.

Daniel telah membuat channel YouTube yang mayoritas berisi wawancara-wawancaranya kepada tokoh-tokoh tertentu, semisal pak Ahok, Ari Lasso, Ahmad Dhani, Luna Maya, Boy William, dsb. 

Menariknya, Daniel yang dikenal sebagai Kristen sering bertanya kepada narasumbernya tentang perjalanan spiritualitas mereka. Dalam wawancaranya dengan Ahmad Dhani dia membedakan antara spiritualitas dan religius. Baginya, spiritualitas berarti hubungan atau relationship dengan "Allah." Sedangkan religiusitas adalah ritual-ritual keagamaan. 

Dalam wawancaranya dengan narasumber-narasumbernya, Daniel memberi kesan bahwa memang setiap manusia memiliki semacam relationship kepada "Allah." Relationship itu bersifat subjektif dan berbeda bagi tiap orang. Kesan yang saya dapatkan lagi adalah bahwa Daniel sepertinya membenarkan setiap macam relationship tersebut. Biasanya dia berkata "wow."

Saya terkejut melihat dan mendengar semua hal ini, sebab saya tahunya Daniel adalah seorang Kristen. Apa yang di "wow" kan oleh Daniel mengenai spiritualitas sangat bertentangan dengan Injil Yesus Kristus. 

Kenapa demikian? Sebelum kita berbicara mengenai relationship dengan Allah (spiritualitas dalam defenisi Daniel) maka seharusnya seorang Kristen perlu bertanya terlebih dahulu, "Bagaimana saya, seorang berdosa, bisa berhubungan dengan Allah yang kudus?" Sebab secara alamiah kita terpisah dari Allah karena dosa-dosa kita. 

Tapi saya melihat dalam pemikiran Daniel, setiap orang secara alami memang bisa mempunyai relasi dengan Allah, sehingga Dia bisa meminta narasumbernya untuk menceritakan mengenai relasinya itu dengan Allah. 

Hal ini mengingatkan saya tentang seorang pengkhotbah bernama Joel Osteen yang digambarkan oleh Profesor Michael Horton sebagai seorang yang "berbicara kepada para pembacanya seolah-olah setiap orang adalah 'anak-anak Allah yang Mahatinggi,' tanpa sekalipun menyebut Kristus sebagai Mediator dari relasi ini" (lihat Michael Horton, Kekristenan Tanpa Kristus [Surabaya: Momentum, 2012], hal. 82).

Padahal, secara alami, kita terpisah dari Allah karena dosa. Atau dalam bahasa Paulus, "Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu" (Efesus 2:1).

Keterpisahan kita dengan Allah ini hanya bisa dibangun kembali oleh Pribadi dan Karya Yesus Kristus. Tanpa itu, tidak ada relasi dengan Allah. Yang ada hanyalah keterpisahan. Dan itulah Injil, Kabar Baik yang tidak dipikirkan Daniel. 

Saya menulis ini bukan untuk gagah-gagahan, tetapi lebih kepada tujuan supaya kita tidak menganggap bahwa semua kita memiliki relasi atau hubungan secara alami kepada Allah Tritunggal. No. Kita pada dasarnya "mati" secara rohani dan dengan demikian terpisah dari Allah. Hanya melalui karya Kristus di kayu salib dan kebangkitan-Nya, kita akhirnya bisa memiliki relasi dengan Allah. Itulah sebabnya Yesus disebut sebagai The Mediator (sang Pengantara) - seperti judul sebuah buku karya Emil Brunner. 

Akhirnya, pesan saya, kritislah dalam melihat dan mendengar hal-hal rohani yang digaungkan oleh tokoh-tokoh terkenal bahkan ketika mereka adalah seorang Kristen. Bacalah Alkitabmu. Belajarlah kepada orang yang teologinya bagus "sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan" (Efesus 4:14).

MEMIKIRKAN KEKEKALAN

Oleh: Join Kristian Zendrato

Sadar atau tidak dan suka atau tidak, kita uscue et uscue hidup di bawah bayang-bayang maut. Apalagi saat ini dengan adanya wabah virus Corona, setiap hari kita bisa membaca berapa korban-korban meninggal terbaru dari madia-media sosial. Begitu dekatnya kita dengan kematian. 

Dalam kondisi seperti ini, saya tak mengatakan bahwa kita harus membiarkan diri kita mati. Kita tentunya harus melakukan yang terbaik supaya bisa tetap hidup, dengan makan makanan sehat, olahraga, mematuhi protokol kesehatan dari pemerintah, dan sebagainya.

Tetapi bagaimanapun itu, kita tetap terbuka bagi kematian, entah Anda kaya, miskin, bersahaja, berkedudukan, tua, muda, dan sebagainya. "Memento mori." Kematian datang kapan saja tanpa izin, dan dengan cara yang berbeda-beda bagi tiap manusia.

Hal ini seharusnya menuntun kita untuk berpikir tentang kehidupan setelah kematian - kekekalan. Berpikir tentang kekekalan surga dan neraka sering kali dicemooh. Tetapi bagi saya yang fana dan akan mati suatu saat, memikirkan kekekalan merupakan hal yang sangat penting. Penting karena itu diajarkan oleh Yesus dan Kitab Suci dan karena itu benar.

Lagipula, manusia berbeda dengan binatang dan tumbuhan. Manusia dan tumbuhan tidak ada lagi setelah ia mati. Kematian adalah akhir eksistensi dari binatang maupun tumbuhan. Berbeda dengan itu, manusia diciptakan oleh Tuhan sedemikian rupa dengan menanamkan kekekalan dalam hati manusia (Pengkhotbah 3:11), sehingga bahkan setelah kematian, manusia tetap eksis walaupun dalam cara eksistensi yang berbeda dengan cara eksistensi saat ini.

Perlu juga dicatat bahwa kepercayaan terhadap kehidupan setelah kematian mempengaruhi etika hidup kita sekarang di bumi ini. Paulus menganggap bahwa tanpa kehidupan setelah kematian maka seluruh tatanan moral akan hancur berantakkan dan kita bisa berbuat apa saja (lihat 1 Kor. 15:32).

Memikirkan hidup yang kekal yang mulia juga merupakan penghiburan bagi orang percaya yang menderita dalam dunia ini. Setelah mengikut Kristus, Paulus tidak terlepas dari penderitaan, justru sebaliknya penderitaannya semakin banyak. Dia menulis tentang penderitaannya sebagai berikut: "Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa. Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami. Sebab kami, yang masih hidup ini, terus-menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya juga hidup Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini" (2 Korintus 4:8-11). Dan lagi, "Apakah mereka pelayan Kristus? — aku berkata seperti orang gila — aku lebih lagi! Aku lebih banyak berjerih lelah; lebih sering di dalam penjara; didera di luar batas; kerap kali dalam bahaya maut. Lima kali aku disesah orang Yahudi, setiap kali empat puluh kurang satu pukulan, tiga kali aku didera, satu kali aku dilempari dengan batu, tiga kali mengalami karam kapal, sehari semalam aku terkatung-katung di tengah laut. Dalam perjalananku aku sering diancam bahaya banjir dan bahaya penyamun, bahaya dari pihak orang-orang Yahudi dan dari pihak orang-orang bukan Yahudi; bahaya di kota, bahaya di padang gurun, bahaya di tengah laut, dan bahaya dari pihak saudara-saudara palsu. Aku banyak berjerih lelah dan bekerja berat; kerap kali aku tidak tidur; aku lapar dan dahaga; kerap kali aku berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian, dan, dengan tidak menyebut banyak hal lain lagi, urusanku sehari-hari, yaitu untuk memelihara semua jemaat-jemaat. Jika ada orang merasa lemah, tidakkah aku turut merasa lemah? Jika ada orang tersandung, tidakkah hatiku hancur oleh dukacita? Jika aku harus bermegah, maka aku akan bermegah atas kelemahanku. Allah, yaitu Bapa dari Yesus, Tuhan kita, yang terpuji sampai selama-lamanya, tahu, bahwa aku tidak berdusta. Di Damsyik wali negeri raja Aretas menyuruh mengawal kota orang-orang Damsyik untuk menangkap aku. Tetapi dalam sebuah keranjang aku diturunkan dari sebuah tingkap ke luar tembok kota dan dengan demikian aku terluput dari tangannya" (2 Korintus 11:23-33). Dan lagi, "Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri. Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku. Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku" (2 Korintus 12:7-9).

Lalu apa penghiburan bagi Paulus dalam penderitaannya yang luar biasa banyak itu? Salah satunya adalah pemikirannya tentang kehidupan setelah kematian - kekekalan. Paulus mengekspresikan ini dalam kata-katanya berikut ini: "Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita" (Roma 8:18). Selanjutnya dalam suratnya kepada jemaat Korintus ia menulis hal serupa, "Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari. Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami" (2 Korintus 4:16-17). 

C. S. Lewis menangkap hal ini dengan sangat baik ketika ia menulis sebagai berikut: 

“Buku mengenai penderitaan yang tidak mengatakan apa pun tentang sorga adalah sebuah kekurangan yang hampir menghilangkan sisi penting dari tulisan tersebut."

Lewis melanjutkan:

“Kitab suci dan tradisi iman terbiasa menempatkan sukacita sorgawi ke dalam skala yang bertentangan dengan penderitaan di bumi, dan tidak ada solusi atas masalah rasa sakit yang tidak terkait dengan sukacita sorgawi, yang bisa disebut sebagai solusi Kristiani. Kita sangat malu menyebutkan sorga di zaman sekarang. Kita takut dengan ejekan tentang sorga sebagai imajinasi ‘kue di langit’… tetapi kemungkinannya memang hanya dua; apakah sorga itu memang ada atau tidak sama sekali. Jika sorga tidak ada, maka kekristenan salah, karena doktrin tersebut ditenun ke dalam seluruh kepercayaan Kristen. Jika sorga ada, maka kebenaran ini, seperti halnya kebenaran lain, harus dihadapi…" [C. S. Lewis, The Great Divorce (Signature Classics, 2012), hal. 427, dikutip oleh John Lennox, Where is God in A Coronavirus World? (Perkantas Jawa Timur, 2020), hal. 70].

Fakta bahwa ada sorga yang kekal, tidak membuat semua orang yang memikirkan dan percaya pada kehidupan setelah kematian akan pergi ke surga. Mitos ini ditentang oleh Alkitab. Yesus dan Perjanjian Baru mengajarkan bahwa ada sisi kekekalan lain yang akan dihadapi oleh manusia di luar Kristus yaitu neraka yang kekal. 

Semua orang akan menghadapi kehidupan setelah kematian - sorga dan neraka. Bagi orang-orang yang telah ditebus oleh darah Kristus akan mewarisi sorga yang mulia (Yoh. 3:16; Ro. 8:1). Bagi mereka yang lain akan mewarisi neraka untuk dihukum karena dosa-dosa mereka (Yoh. 3:36).

Ada orang-orang tertentu yang menyangkal tentang adanya neraka yang kekal dan menggantikannya dengan anihilasi. Bagaimanapun konsep ini bertentangan dengan Alkitab. Demikian juga pandangan yang mengatakan bahwa memang ada orang-orang yang akan dihukum tetapi tujuan penghukuman itu adalah memurnikan dan sementara. Ini juga bertentangan dengan Alkitab. Alkitab mengajarkan bahwa tidak ada pembebasan atau pemurnian apapun dalam neraka. Penghukuman dalam neraka itu kekal selama-lamanya. John Owen mengatakan, "Tak ada penyucian di sorga atau neraka, karena di sorga tak ada dosa dan di neraka tak ada amandemen" [John Owen, Works, vol. XXIV, hlm. 260, dikutip oleh Sinclair B. Ferguson, Children of the Living God - Anak-anak Allah yang Hidup (Surabaya: Momentum, 2003), hal. 129-130].

Jadi hanya, dan hanya bagi orang-orang yang menaruh kepercayaannya kepada Yesus sebagai satu-satunya Juruselamat akan mendapati bahwa pemikiran tentang kekekalan membawa sukacita dalam penderitaan, dan dalam menghadapi kematian. Sukacita kekekalan itu dilukiskan dalam Kitab Wahyu: 

“Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan lautpun tidak ada lagi… Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka. Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu.” (Why. 21:1, 3b-4).

Saya menulis ini bukan dalam rangka meninabobokan kita dengan sorga dan tidak mempedulikan kehidupan saat ini. Saya tetap mendorong kehidupan yang produktif selama kita hidup, tetapi dengan satu pemikiran bahwa pada akhirnya kita harus siap menghadapi realitas kehidupan setelah kematian.

Saya ingin menutup tulisan ini dengan mengutip kata-kata dari Profesor John C. Lennox dalam buku terbarunya Where is God in A Coronavirus World? Profesor Lennox berbicara mengenai orang-orang Kristen pada abad-abad awal Kekristenan yang kehidupan mereka sangat dekat dengan kematian. Ia berkata:

"Orang Kristen mula-mula, hidup dalam situasi dunia yang berbahaya yang mana mereka semua dikelilingi oleh berbagai bentuk ancaman dan angka harapan hidup yang sangat pendek. Namun mereka diberi kekuatan untuk menjalani hidup penuh pengorbanan, seperti yang memang mereka tampilkan, serta berkontribusi bagi kesejahteraan hidup orang lain. Semua itu didasarkan pada fakta bahwa mereka memiliki pengharapan yang hidup dan nyata, yang melampaui kematian" [John C. Lennox, Where is God in A Coronavirus World? (Perkantas Jawa Timur, 2020), hal. 69-70].

REFLEKSI MENGENAI PERJALANAN HIDUP YANG DATANG SEPOTONG DEMI SEPOTONG

Oleh: Join Kristian Zendrato

Tancredo de Almeida Neves adalah presiden Brazil ke-34. Neves mencalonkan diri sebagai presiden Brazil pada 1984. Pada masa kampanye, Neves mengatakan, "Bila mendapat 500 ribu suara dari partai saya sendiri maka takkan ada yang bisa mendepak saya dari kursi kepresidenan bahkan Tuhan sendiri."

Neves memang terpilih menjadi presiden Brazil pada 15 Januari 1985, naasnya, Neves jatuh sakit parah pada malam pelantikannya, dan akhirnya meninggal beberapa minggu kemudian.

Kisah Neves mengingatkan saya akan kata-kata dalam Alkitab, "Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi TUHANlah yang menentukan arah langkahnya" (Amsal 16:9). "Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan TUHANlah yang terlaksana" (Amsal 19:21).

Allah seakan-akan berteriak kepada saya, "Kehendak-Ku lah yang akan terjadi bukan kehendak manusia."

Terkadang kita terlalu percaya diri menjalani hidup - saya juga sering begitu, dan menganggap bahwa apa yang kita rencanakan dan pikirkan pasti akan terealisasi dan benar. Kita lupa bahwa ada Allah Tritunggal yang mahatahu dan yang kehendak-Nyalah yang akan terjadi. 

Kita sering merencanakan untuk melakukan sesuatu dan berpikir secara pasti bahwa itu akan terjadi tanpa mengakui bahwa hanya kuasa Allahlah yang memampukan kita untuk bertindak ini dan itu. Kita lupa bahwa di bawah matahari rencana-rencana kita bisa gagal karena berbagai macam faktor termasuk kematian. Yakobus mencatat: "Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: 'Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung', sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap" (Yakobus 4:13-14).

Yakobus sepertinya mau mengatakan kepada kita agar kita jangan terlalu percaya diri kala kita merencanakan sesuatu, sebab rencana-rencana kita bisa gagal. Dalam ayat selanjutnya, bertentangan dengan kepercayaan pada diri sendiri, Yakobus mengajak kita memperhatikan apa yang seharusnya kita lakukan kala kita merencanakan sesuatu: "Sebenarnya kamu harus berkata: "Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu" (Yakobus 4:15).

Prinsip yang ingin Yakobus tanamkan dalam pikiran kita adalah tetaplah bergantung pada kehendak Allah. Jika kita merencanakan sesuatu kita tetap harus berkata: "Jika Tuhan menghendaki." Sebab kehendak Tuhan adalah "rahim dari segala sesuatu" (Herman Bavinck).

Itulah sebabnya ketika Paulus meninggalkan Efesus, ia berpesan kepada orang-orang yang ingin menahannya di sana, "'Aku akan kembali kepada kamu, jika Allah menghendakinya.' Lalu bertolaklah ia dari Efesus" (Kisah Para Rasul 18:21). 

Sikap seperti inilah yang seharusnya ada dalam diri setiap orang percaya. Dalam melakukan apapun, entah berpergian, menjalankan bisnis, bersekolah, dsb, kita tetap harus percaya kepada Tuhan bukan kepada diri sendiri dan berkata dengan iman, "jika Allah menghendaki, aku akan melakukan ini atau itu."

Inilah sikap yang rendah hati dan sadar bahwa kita tidak mengetahui misteri hari esok. "Janganlah memuji diri karena esok hari, karena engkau tidak tahu apa yang akan terjadi hari itu" (Amsal 27:1). 

Keadaan kita saat ini bukan keseluruhan cerita kita. Ini masih sepotong cerita yang esoknya bisa berubah total. Jika hari ini masih bernafas, siapa yang menjamin bahwa besok kita masih bernafas? Jika hari ini kita baik-baik saja, siapa yang bisa menjamin bahwa besok pun kita akan tetap baik-baik? Hidup dan mati adalah di tangan Tuhan. 

John Piper dalam buku terbarunya Corona Virus and Christ (Perkantas Jawa Timur, 2020) menulis sebuah paragraf yang berkaitan dengan masalah ini. Ia menyatakan:

"Orang-orang sering bertanya sebelum saya didiagnosis mengidap kanker, “Bagaimana kesehatan Anda?” Dan, saya akan menjawab, “Baik-baik saja.” Sekarang saya tidak menjawab seperti itu lagi. Sebaliknya, saya berkata, “Saya merasa baik-baik saja.” Ada perbedaan antara jawaban-jawaban ini. Pada hari sebelum saya mengikuti pemeriksaan kesehatan tahunan itu, saya merasa baik-baik saja. Pada keesokan harinya, saya diberitahu bahwa saya mengidap 

kanker. Dengan kata lain, saya tidak baik-baik saja. Maka, ketika saya menulis kata-kata ini, saya sesungguhnya tidak tahu apakah saya baik-baik saja. Saya merasa baik-baik saja; jauh 

melebihi yang layak saya dapatkan, sebab, yang saya tahu, saya sekarang mengidap kanker, atau penggumpalan darah, atau mungkin virus corona. Apa maksudnya? Maksudnya adalah ini: alasan terutama kita seharusnya tidak berkata, “Saya baik-baik saja” adalah bahwa hanya Allah yang mengetahui dan memutuskan apakah Anda baik-baik saja—sekarang. Mengatakan “Saya baik-baik saja” padahal Anda tidak tahu apakah Anda baik-baik saja, dan Anda tidak dapat mengendalikan keadaan Anda, sama dengan mengatakan, “Besok saya akan pergi ke kota Chicago dan berbisnis di sana” padahal Anda tidak tahu apakah Anda masih hidup esok hari, apalagi melakukan bisnis di Chicago." (Piper, Coronavirus and Christ, hal. 14-15).

Piper menulis dengan tepat. Kita memang tidak tahu keadaan kita dengan pasti sekarang, entah baik atau tidak. Jika kita merasa baik sekarang, maka itu hanya penglihatan kita semata karena kita tidak mahatahu. Yang tahu seluruh keadaan kita hanyalah Allah. 

Semua ini mengajarkan kita bahwa kita tidak bisa bersandar pada diri dan kekuatan kita sendiri. Rencana-rencana kita hanya bisa terlaksana jika Allah menghendakinya. Kita, saat ini tidak mengetahui seluruh kehidupan kita. Kita hanya mengetahui sepotong cerita kita, sedangkan Allah mengetahui semuanya. 

Untuk itu buanglah kesombongan. Keadaan-keadaan kita bisa berubah. Rencana-rencana kita bisa gagal. Satu-satunya harapan yang bisa dipercaya adalah Allah Tritunggal, bukan diri kita sendiri. Kita harus seperti Yesus saat berdoa di Getsemani, "Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki" (Matius 26:39).

KETIKA KELUCUAN DIJADIKAN SEBAGAI STANDAR UNTUK MENILAI BENAR TIDAKNYA SEBUAH KHOTBAH ATAU AJARAN

Oleh: Join Kristian Zendrato

"Khotbahnya bagus!" kata seseorang. Lantas ketika ditanya, "Apa alasannya?" dia menjawab, "Banyak lucu-lucunya." 

Percakapan singkat di atas merupakan representasi dari standar kebanyakan orang (entah orang awam, mahasiswa teologi, dsb) kala menilai baik tidaknya atau benar tidaknya sebuah khotbah atau ajaran. Ya, standarnya adalah kelucuan. Kelucuan dijadikan sebagai sebuah sine qua non dalam khotbah.

Saat ini, jika Anda berhasil membuat orang tertawa terbahak-bahak dalam acara pemberitaan firman maka khotbah Anda dianggap sudah benar. 

Apa yang dicari orang sekarang adalah lawakan, bukan kebenaran. Banyak orang sangat menikmati hal-hal yang membuat mereka tertawa bahkan ketika hal-hal itu sebenarnya absurd dan bertentangan dengan akal sehat dan di atas segala-galanya tidak Alkitabiah.

Kondisi lapangan inilah yang sering dimanfaatkan oleh para pengkhotbah lawakan. Mereka cukup membaca ayat-ayat dengan ditambahi banyak lelucon "un-faedah" dan tolol sepanjang acara pemberitaan firman.

Pengkhotbah-pengkhotbah kita sekarang hampir tidak bisa dibedakan dengan komedian penghibur, dan sayangnya itulah kesukaan kebanyakan orang Kristen.

Inilah salah satu kondisi yang mungkin termasuk dalam kata-kata Paulus berikut ini: "Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng" (2 Timotius 4:3-4).

Paulus menuliskan hal ini tentunya bukan supaya kita melakukan tindakan membuka diri bagi dongeng. Paulus sebaliknya menuliskan ini sebagai contoh penyimpangan yang harus kita jauhi dan lawan.

Fenomena yang telah dijelaskan di atas jelas merupakan penyimpangan dari Firman Allah. Orang percaya seharusnya tidak boleh candu terhadap setiap lawakan mimbar yang tak berguna, apalagi memakainya sebagai standar untuk menilai benar tidaknya suatu khotbah atau ajaran, karena kelucuan tak pernah membuat khotbah seseorang menjadi benar.

Jika benar tidaknya suatu khotbah atau ajaran dinilai dari kelucuannya maka para pelawak adalah pengkhotbah terbaik. Siaran-siaran komedi semisal Stand Up Comedy akan menjadi acara yang paling terberkati.

Sebaliknya, standar kebenaran khotbah atau ajaran adalah Alkitab Firman Allah. Apa yang kita lihat dalam khotbah bukanlah kelucuannya tetapi apakah khotbah atau ajaran itu Alkitabiah atau tidak. Orang percaya seharusnya meniru orang-orang Yahudi yang mendengar khotbah Paulus di Berea, yang dalam Kisah Para Rasul digambarkan sebagai berikut: "Orang-orang Yahudi di kota itu lebih baik hatinya dari pada orang-orang Yahudi di Tesalonika, karena mereka menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian" (Kisah Para Rasul 17:11).

Orang percaya harus mengubah pemikirannya (mindset) sekarang. Kita harus mencintai khotbah-khotbah yang serius, berbobot, dan Alkitabiah usque et usque. Khotbah-khotbah itulah yang harus kita dengar, bukan khotbah-khotbah lawakan tak berguna dan tolol.

Juga untuk para hamba Tuhan dan pengkhotbah, kita harus tetap mengingat bahwa tugas kita bukan melawak di atas mimbar, melainkan seperti Paulus, "tidak lalai memberitakan seluruh maksud Allah kepadamu" (Kisah Para Rasul 20:27), dan yang terus mengusahakan "supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu" (2 Timotius 2:15).

Tugas pengkhotbah adalah menjelaskan teks Kitab Suci dengan setia - usque et usque - bukan melawak. Seperti yang dinyatakan John Piper, "Semua khotbah Kristen harus menjadi penguraian dan penerapan TEKS Alkitab. Otoritas kita sebagai para pengkhotbah yang diutus oleh Allah akan bertahan atau runtuh bersama kesetiaan kita yang nyata kepada TEKS Kitab Suci" (John Piper, Supremasi Allah Dalam Khotbah, hal. 29).

Pengkhotbah tidak boleh melalaikan penjelasan teks Kitab Suci - usque et usque - dengan bertanggungjawab dan tidak boleh menggantikannya dengan berbagai macam lawakan demi menyenangkan pendengarnya. Pengkhotbah harus menyenangkan Allah bukan manusia. Kalau sampai tujuan pengkhotbah adalah menyenangkan manusia maka Dia bukan hamba Tuhan. Paulus berkata, "Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus" (Galatia 1:10).

KENETRALAN ADALAH MITOS - IT DOES NOT MAKE SENSE

Oleh: Join Kristian Zendrato

Saya sering mendengar, "Sesama Kristen tak boleh saling serang. Sesama Kristen tak boleh saling mengkritik. Sesama Kristen tak boleh saling mempermasalahkan ajaran satu aliran dengan aliran lain. Semua ajaran sama benarnya."

Kata-kata semacam demikian di atas simply tidak benar. Semua ajaran yang diusung oleh setiap aliran kadang-kadang saling bertentangan frontal satu dengan yang lain. Misalnya Arminianisme mengajarkan bahwa Yesus mati untuk setiap manusia tanpa terkecuali, sedangkan Calvinisme atau Reformed mengajarkan bahwa Yesus mati hanya untuk sebagian manusia yakni umat pilihan Allah. Itu hanya satu contoh. Dan kalau anda mempunyai pikiran yang waras, anda tidak mungkin mengakui bahwa ajaran-ajaran yang saling bertentangan itu sama-sama benar.

Juga perlu diingat bahwa semua doktrin yang kita percayai, entah dinyatakan secara langsung atau tidak, pada esensinya merupakan penolakan terhadap doktrin yang lain yang bertentangan dengannya. Kita tidak bisa menciptakan daerah netral dimana kita bisa berdiri. It does not make sense. 

Inilah sifat dari kebenaran. Kebenaran ber-antitesis dengan kesalahan. Jika ada sebuah klaim kebenaran, maka klaim itu ber-antitesis dengan klaim yang bertentangan dengannya. Seperti yang diungkapkan oleh Douglas Groothuis: "Bagi satu 'ya' teologis terdapat jutaan 'tidak.' Apa yang benar menyingkirkan semua hal yang bertentangan dengannya" [Douglas Groothuis, Pudarnya Kebenaran: Membela Kekristenan Terhadap Tantangan Postmodernisme (Surabaya: Momentum, 2003), hal. 64].

Jika anda mempercayai bahwa Allah itu Tritunggal (1 Hakikat, 3 Pribadi), maka entah dinyatakan secara langsung atau tidak, kepercayaan itu merupakan penolakan terhadap doktrin Unitarianisme. Jika Anda mempercayai bahwa Alkitab adalah satu-satunya Firman Allah yang sejati dan benar, maka entah dinyatakan secara langsung atau tidak, kepercayaan itu merupakan penolakan terhadap kepercayaan lainnya. Jika anda mempercayai bahwa manusia hanya bisa diselamatkan melalui iman kepada Yesus yang mati dan bangkit, maka entah dinyatakan secara langsung atau tidak, kepercayaan itu merupakan penolakan terhadap ajaran keselamatan karena perbuatan baik. Jika anda mempercayai bahwa Yesus hanya mati untuk umat pilihan, maka entah dinyatakan secara langsung atau tidak, kepercayaan itu merupakan penolakan terhadap ajaran Arminianisme yang mengajarkan bahwa Yesus mati untuk semua orang. Jika anda menyatakan bahwa Yesus adalah Allah sejati dan Manusia sejati, maka entah dinyatakan secara langsung atau tidak, pernyataan itu merupakan penolakan terhadap ajaran yang menyangkal keilahian Yesus.

Douglas Groothuis berkomentar, "... jika Yesus adalah Allah yang berinkarnasi, maka Ia BUKAN SEKEDAR (1) nabi dari Allah (Islam), (2) reformator yang salah arah (Yudaisme), (3) satu avatar dari Brahman (Hinduisme), (4) satu manifestasi dari Allah (iman Baha'i), (5) guru yang sadar akan Allah (Zaman Baru), (6) nabi sosial yang terinspirasi tetapi bukan ilahi (teologi liberalisme/pembebasan), dan seterusnya." Groothuis melanjutkan dengan berkata, "Jika Allah adalah keberadaan yang berpribadi yang bereksistensi secara kekal sebagai tiga pribadi yang adalah esa (Bapa, Anak, dan Roh Kudus), maka realitas ilahi BUKAN (1) esa dalam dalam pengertian unitarian (Islam, Yudaisme, atau Unitarianisme), (2) kesadaran yang impersonal - imoral (beberapa aliran pemikiran Hinduisme, Buddhisme, dan Zaman Baru), (3) non-eksisten (Buddhisme Theraveda, Jenisme, dan bentuk-bentuk sekuler ateisme), (4) banyak allah (Mormonisme, Shinto, dan bentuk-bentuk politeisme dan animisme lainnya), dan seterusnya" [Douglas Groothuis, Pudarnya Kebenaran, hal. 162, 163]. 

Jadi intinya, dua atau lebih ajaran yang saling bertentangan tidak bisa sama-sama benar. Bisa sama-sama salah. Atau hanya salah satunya yang benar. Tidak ada posisi netral (tidak berpihak) dalam kasus seperti ini. Jika Anda mempercayai satu ajaran, maka otomatis anda harus menolak yang lain sebagai salah. 

Jadi merupakan kesalahan kalau kita mengatakan bahwa "semua ajaran sama saja benarnya, yang penting Kristen." Itu bodoh dan absurd. Dan lebih bodoh lagi untuk berkata "semua ajaran agama sama." Itu sama saja dengan berkata 1+1=2 adalah benar, dan 1+1=3 adalah benar. It does not make sense.

Dalam hal ini, jika ada sebuah ajaran maka ajaran itu hanya bisa salah atau benar. Benar atau salah itulah masalahnya. Tidak ada titik netral dalam hal ini. Kenetralan adalah mitos. It does not make sense.

Senin, 07 Februari 2022

DAMAI SEJAHTERA YANG SALAH

Oleh: Join Kristian Zendrato

Kita hidup di tengah-tengah dunia di mana materialisme menjamur. Standar kebanyakan orang-orang adalah tampilan luar. Jika keadaan luar terlihat mewah, indah, dan enak dipandang, maka itulah sejahtera yang sejati. Generasi kita yang sangat materialistis telah melupakan slogan lama: "Don't judge a book by its cover."

Spirit materialistis ini juga telah mempengaruhi jiwa orang percaya. Terkadang kita menganggap bahwa orang-orang Kristen yang tak pernah menderitalah yang merupakan anak-anak Allah yang sejati. Kita menganggap bahwa suasana "damai sejahtera"lah yang akan terus dialami oleh anak-anak Allah. 

Konsep ini membuat kita bisa mengarah pada kesalahan dengan menganggap bahwa orang yang percaya Yesus namun hidup susah dan tak mempunyai damai sejahtera secara lahiriah sedang tidak diperkenan Allah. 

Tetapi apakah perkenan Allah hanya dibuktikan dengan mengalami damai sejahtera secara lahiriah (entah itu uang, kedudukan, dsb)? Saya rasa tidak!

Kadang-kadang bahkan kita terjatuh dalam apa yang saya sebut sebagai "damai sejahtera yang salah." Dan tragisnya, damai sejahtera yang salah itu tetap kita anggap sebagai bukti perkenan Allah, atau bukti bahwa kita sedang berjalan dalam kehendak Allah.

Contoh klasik mengenai hal ini adalah Yunus. Dipanggil untuk pergi ke kota Niniwe untuk menyerukan pesan Tuhan (Yunus 1:1-2), Yunus malah melawan Tuhan dengan berencana pergi ke tempat lain - ke Tarsis. Dikatakan bahwa ia "jauh dari hadapan Tuhan" (Yunus 1:3).

Akhirnya, TUHAN menurunkan angin ribut ke laut yang menyebabkan badai untuk menyerang kapal Yunus (Yunus 1:4). Dalam ayat ini, kita melihat bahwa angin dan badai merupakan ketetapan Allah. Itu tidak terjadi karna kebetulan. Kebetulan bukan apa-apa, ia tak dapat berbuat apa pun.

Dalam keadaan yang mengerikan itu, apakah Anda ingat apa yang terjadi dengan Yunus? Mungkin sekali Anda akan menjawab bahwa Yunus akhirnya dibuang ke laut dan ditelan oleh ikan dan berada di sana selama 3 hari 3 malam dan akhirnya Tuhan membebaskannya. Ini memang benar, karna inilah yang sering kita dengar di Sekolah Minggu. 

Tetapi ada satu hal yang luput dari pandangan kita sebelum kejadian itu terjadi. Dalam pasal 1 ayat 5 dinyatakan bahwa, "Awak kapal menjadi takut, masing-masing berteriak-teriak kepada allahnya, dan mereka membuang ke dalam laut segala muatan kapal itu untuk meringankannya." Ini merupakan respon yang lumrah atas kedatangan angin dan badai yang menghantam kapal mereka. Tetapi itu sepertinya tak berlaku bagi Yunus, sebab kalimat terakhir dari ayat 5 itu berbunyi, "Tetapi Yunus telah turun ke dalam ruang kapal yang paling bawah dan berbaring di situ, lalu tertidur dengan nyenyak."

Ya, Yunus tertidur dengan nyenyak pada saat ada badai, pada saat ada angin ribut dan yang lebih penting adalah pada saat dia sedang "jauh dari hadapan Tuhan." Yunus memperoleh "damai sejahtera" saat dia melawan Tuhan. Itulah damai sejahtera yang salah.

Anda dan saya juga bisa merasakan "damai sejahtera yang salah" seperti itu. Anda bisa kaya raya walau sedang melawan Tuhan. Anda bisa makan enak walau sedang melawan Tuhan. Anda bisa tidur nyenyak walau sedang melawan Tuhan. Anda bisa menikmati "damai sejahtera" walau sedang melawan Tuhan. 

Dari sini kita melihat bahwa damai sejahtera itu tak selalu merupakan bukti perkenan Allah bagi kita. Itu bisa saja adalah damai sejahtera yang salah.

Jadi, ketika kita melihat orang percaya yang kesusahan, menderita, dan tampaknya tak ada damai sejahtera dalam hidupnya secara lahiriah, maka jangan terlalu cepat menganggap hal itu sebagai bukti bahwa Allah tak berkenan kepadanya. 

Juga, jika ada orang yang secara lahiriah mengalami damai sejahtera, maka jangan terlalu cepat mengatakan bahwa itu adalah bukti perkenan Allah. Itu mungkin hanya damai sejahtera yang salah. 

Allah kadang-kadang sering mengizinkan anak-anak-Nya yang diperkenan-Nya berada dalam kesusahan. Dan sebaliknya, damai sejahtera tak selalu menjadi tanda perkenan Tuhan. Yunus bisa merasakan "damai sejahtera" pada saat melawan Tuhan. Dan Ayub diizinkan untuk menderita oleh Allah, bahkan ketika ia disebut "saleh" oleh Allah (Ayub 1).

KEDAULATAN ALLAH DAN KEBERHASILAN PENGINJILAN

Oleh: Join Kristian Zendrato

James I. Packer yang merupakan Profesor Teologi dari Regent College, Vancouver pernah menulis sebuah buku kecil berjudul Evangelism and the Sovereignty of God. Dalam buku itu, Packer membahas banyak hal mengenai hubungan kedaulatan Allah dan tanggung jawab manusia, khususnya penginjilan.

Saya sangat diberkati melalui buku ini, khususnya ketika Packer mengatakan bahwa “Kedaulatan Allah dalam anugerah memberikan satu-satunya pengharapan atas keberhasilan dalam penginjilan” [James I. Packer, Penginjilan dan Kedaulatan Allah (Surabaya: Momentum, 2014), hal. 92].

Packer mengamati bahwa problem terbesar manusia dalam relasinya dengan Allah adalah Dosa. Dosa membuat manusia tidak mampu untuk menangkap kebenaran rohani. Mata manusia tertutup dari kebenaran Injil. Itulah sebabnya, Paulus dalam 1 Kor. 2:14 mengatakan bahwa, “Manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani.” Inilah gambaran natur manusia menurut Alkitab. Manusia betul-betul telah “mati karena pelanggarannya” (Ef. 2:1), dan efek dari keadaan ini adalah ketidakmampuan manusia untuk menangkap, tunduk, dan percaya pada kebenaran Injil.

Packer juga mengamati bahwa hal lain yang juga ikut mempengaruhi kebutaan manusia berdosa adalah pekerjaan Iblis yang selalu aktif mencegah orang-orang berdosa untuk dapat melihat cahaya Injil (bdk. Ef. 2:2; 2Kor. 4:4).

Jadi, dengan natur manusia yang sudah begitu rusak, ditambah pekerjaan Iblis yang terus menerus menghalangi mata manusia berdosa untuk bisa melihat kebenaran Injil, maka bisa disimpulkan bahwa pekerjaan penginjilan yang hanya mengandalkan manusia sama sekali tidak akan berhasil. Kita tidak dapat mempertobatkan siapa pun dengan situasi seperti itu. Berkhotbah kepada manusia berdosa adalah sama seperti berkhotbah kepada mayat-mayat yang tidak bisa merespon. Dan itu adalah pekerjaan yang sia-sia.

Maka supaya manusia berdosa bisa menerima Injil kasih karunia, tunduk, dan percaya terhadapnya, pertama-tama manusia berdosa harus digerakkan dan dibuka hatinya lebih dahulu oleh Allah yang Mahakuasa. Itulah sebabnya, ketika Lidia mendengarkan khotbah Paulus, Lukas menulis: “Tuhan membuka hatinya, sehingga ia memperhatikan apa yang dikatakan oleh Paulus” (Kis. 16:14). Tanpa tindakan Allah yang menghidupkan, memanggil dan menggerakkan manusia berdosa untuk datang kepada Kristus, maka pekerjaan penginjilan adalah kesia-siaan belaka.

Ini jelas meruntuhkan semua kesombongan orang-orang Kristen yang sering berkata, “Aku mempertobatkan dia,” dan pernyataan-pernyataan serupa lainnya. Allahlah, bukan manusia yang membuat manusia berdosa mempercayai Injil. Kita hanyalah alat semata di tangan Allah Tritunggal, sementara keputusan manusia untuk mempercayai Injil kasih karunia adalah pekerjaan Tuhan (bdk. Flp. 1:29).

Disisi lain, ini adalah obat yang manjur bagi para penginjil yang setia ketika mereka melihat hasil pelayanan mereka sepertinya tidak mendatangkan petobat-petobat baru. Fakta bahwa pendengar kita, tidak mempercayai Injil kasih karunia Allah adalah bukti bahwa Allah belum (atau tidak) membuka hati mereka. Urusan kita adalah memberitakan Injil dengan setia (bdk. Gal. 1:6-9), sedangkan hasil akhir dari pemberitaan kita ada dalam tangan Allah.

Yakinlah bahwa semua manusia yang adalah domba sejati akan dipanggil oleh Allah untuk datang dan mempercayai Injil (dengan perantaraan penginjil-penginjil), sedangkan mereka yang bukan domba sejati akan tetap mengeraskan hati mereka. Yesus berkata, “tetapi kamu tidak percaya, karena kamu tidak termasuk domba-domba-Ku” (Yoh. 10:26; bdk. Rm. 8:29-30).

EXTERNAL CALLING DAN INTERNAL CALLING

Oleh: Join Kristian Zendrato

Pada saat kita memberitakan Injil, ada dua respon yang akan kita lihat dari pendengar kita. Ada yang menolak dan ada yang menerima. Pertanyaannya mengapa bisa begitu? Dalam hal ini kita perlu memperhatikan doktrin panggilan (calling). 

Panggilan terbagi menjadi dua bagian: external calling (panggilan dari luar atau eksternal) dan internal calling (panggilan dari dalam atau internal).

Secara umum, panggilan eksternal itu terjadi jika kita memberitakan Injil dan mengundang orang untuk datang kepada Yesus.

Panggilan internal itu adalah panggilan dari dalam dimana Roh Kudus bekerja dalam diri seseorang untuk menerima undangan dari panggilan eksternal tadi.

Contohnya terlihat dalam Kisah Para Rasul 16:14, "Seorang dari perempuan-perempuan itu yang bernama Lidia turut mendengarkan. Ia seorang penjual kain ungu dari kota Tiatira, yang beribadah kepada Allah. Tuhan membuka hatinya, sehingga ia memperhatikan apa yang dikatakan oleh Paulus."

Dalam ayat itu Paulus memberitakan Firman, Lidia mendengar. Itu panggilan eksternal.

Lalu dikatakan bahwa Tuhan membuka hatinya. Itulah panggilan internal. Sehingga setelah dipanggil secara internal, Lidia memperhatikan dan menerima Firman.

Saya juga mau menambahkan bahwa orang yang dipanggil secara internal hanyalah orang-orang pilihan. Jadi, orang pilihan pasti dipanggil secara eksternal dan internal. Sedangkan orang bukan pilihan mungkin saja bisa dipanggil secara eksternal tapi pasti tak akan dipanggil secara internal. 

Itulah argumen Paulus dalam ayat yang biasa disebut sebagai The Golden Chain of Salvation: Roma 8:29-30, "Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya."

Jadi mula-mula Paulus berbicara tentang pemilihan dan meneruskan bahwa orang yang telah dipilih tadi pasti akan dipanggil, dibenarkan dan akhirnya dimuliakan. 

Semua ini menunjukkan bahwa keselamatan adalah karya Allah dari awal sampai akhir (bdk. Kisah Para Rasul 13:48).

Soli Deo Gloria.

KEMAH DAN RUMAH: SEBUAH REFLEKSI TENTANG HIDUP YANG SINGKAT DAN KEHIDUPAN SETELAH KEMATIAN - SORGA DAN NERAKA

Oleh: Join Kristian Zendrato

Pikirkanlah sejenak orang-orang yang telah pergi dari dunia ini. Pikirkanlah juga tentang bayi-bayi yang lahir. Yang pertama akan membawa kita pada pikiran betapa mengerikannya kematian. Yang kedua akan membawa kita pada pikiran betapa dinamisnya hidup.

Tetapi Anda akan segera menyadari bahwa bayi yang baru lahir itu pun akan pergi suatu saat dari dunia ini (bahkan ada yang langsung pergi pada saat lahir).

Poinnya adalah hidup itu singkat dan fana. Itulah mengapa ungkapan Latin memento mori tidak boleh kita lupakan (memento mori artinya ingatlah kita pasti akan mati).

Tragisnya, kebanyakan dari kita berpikir bahwa kita akan baik-baik saja. Dan satu kali pun tak pernah berpikir tentang kefanaan hidup. Padahal Alkitab yang adalah satu-satunya Firman Allah yang tanpa salah berulang kali mengingatkan kita bahwa suatu saat kita akan kembali menjadi debu.

Menarik untuk diperhatikan bahwa tubuh kita di dunia ini sering digambarkan Alkitab sebagai "kemah." Kemah adalah tempat sementara. Dalam 2 Korintus 5:1, Paulus menulis, "Karena kami tahu, bahwa jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia."

Paulus menyebutkan "kemah tempat kediaman kita dibumi." Hal ini menunjukkan pada tubuh kita. Kalau kita memperhatikan lanjutan dari penjelasan Paulus, maka dalam 2 Korintus 5:2 dan ayat 4 dijelaskan bahwa selama kita berada dalam kemah ini, kita akan mengeluh. Hal ini menunjuk pada fakta bahwa selama di dunia ini, kita akan banyak menderita.

Bukan hanya itu saja. Kembali ke ayat 1, Paulus menegaskan bahwa kemah itu suatu saat akan "dibongkar." Kemah yang dibongkar menunjuk pada kematian. Jadi, bukan hanya penderitaan yang akan kita alami selama kita mendiami kemah, tetapi juga kematian.

Sekarang kita akan bertanya, "Apakah ketika kemah itu dibongkar, maka semua akan berakhir?"

Dengan kata lain apakah hidup itu akan berakhir setelah kematian, dan dengan demikian, sebenarnya hidup ini tak berarti seperti deskripsi yang terkenal dari Macbeth dalam karya William Shakespeare, "Hidup hanyalah bayangan yang berjalan, aktor malang yang menjalani hari-harinya dipanggung lalu tak terdengar lagi. Hidup adalah dongeng yang dikisahkan oleh si tolol, penuh dengan kebisingan dan tak berarti."

Ataukah seperti yang dinyatakan oleh Bertrand Russel dalam bukunya Why I am Not a Christian, "Aku akan membusuk setelah mati, dan egoku tidak akan ada lagi."

Baik tokoh fiktif Macbath dalam karya Shakespeare dan Bertrand Russel ditentang oleh Injil Perjanjian Baru. Sesungguhnya kematian bukan akhir, akan ada kehidupan setelahnya.

Dalam perikop yang telah kita lihat sebelumnya, Paulus mengatakan bahwa meskipun kemah kita akan dibongkar dan dengan demikian kita mati, Allah yang penuh dengan anugerah telah menyediakan "rumah" yang kekal kepada kita di Sorga. Paulus menulis: "Karena kami tahu, bahwa jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia" (2 Korintus 5:1).

Ya, jika kita mati, jika kemah dibongkar, jangan takut karena " Allah telah menyediakan." Apa yang Allah telah sediakan? "suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia." Dalam terjemahan New American Standar Bible (NASB) dikatakan,"a building from God, a house not made with hands, eternal in the heavens" (suatu bangunan dari Allah, suatu rumah yang tidak dibuat oleh tangan, kekal di surga).

Jadi jika kemah kita dibongkar, Allah telah menyediakan rumah kekal bagi kita. Kitab Wahyu menggambarkan suasana di sana dengan indah, "Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu" (Wahyu 21:4).

Gambaran keadaan kita di rumah yang kekal sangat kontras dengan keadaan kita dalam kemah kita yang sementara. Itulah kenapa Rasul Paulus dengan yakin berkata dalam Roma 8:18, "Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita."

Bagi saya, ini adalah penghiburan yang incomparable. Tetapi satu hal yang harus diingat bahwa semua hak istimewa ini hanya akan dinikmati oleh kaum pilihan Allah, kaum yang diregenerasikan Allah, kaum yang dipanggil Allah secara efektif, kaum yang beriman dan dibenarkan secara cuma-cuma oleh pengorbanan Yesus Kristus - Sang Pengantara kita (Yohanes 3:16; Kisah Para Rasul 4:12; Roma 8:1; 28-30).

Sedangkan bagi yang lain yang tidak mempercayai Tuhan Yesus Kristus sebagai Penebus mereka akan dibuang keluar dari "rumah" Allah di Sorga ke "rumah" api dalam neraka selama-lamanya sebagai konsekuensi ultimat dari dosa-dosa mereka. Kitab Wahyu menggambarkan suasana itu dengan berkata, "Maka asap api yang menyiksa mereka itu naik ke atas sampai selama-lamanya, dan siang malam mereka tidak henti-hentinya disiksa, yaitu mereka yang menyembah binatang serta patungnya itu, dan barangsiapa yang telah menerima tanda namanya" (Wahyu 14:11).

Satu-satunya hal yang sama antara sorga dan neraka adalah kekekalannya. Di Sorga, kita akan menikmati persekutuan dengan Allah secara kekal. Di neraka, orang-orang tak percaya akan mengalami murka Allah Tritunggal secara kekal.

Jonathan Edwards dalam khotbahnya yang sangat terkenal: Sinners in the Hands of an Angry God berkata mengenai murka Allah dalam neraka yang kekal sebagai berikut: "Murka [Allah] itu berlangsung kekal. Mengalami murka dan kegeraman Allah yang mahakuasa untuk sesaat saja sudah sangat mengerikan, sedangkan Anda harus mengalaminya sepanjang kekekalan. Takkan ada perhentian bagi penderitaan yang luar biasa mengerikan ini. Saat memandang ke depan, Anda akan melihat kekekalan, suatu masa tiada akhir yang ada di hadapan Anda, yang akan menghapus seluruh pemikiran Anda, hingga Anda benar-benar berhenti mengharapkan datangnya pelepasan, perhentian, pengurangan siksaan, dan kedamaian. Anda akan segera tahu bahwa Anda harus menjalani masa-masa yang panjang, berjuta-juta abad, untuk bergumul dan berjuang melawan pembalasan mahadahsyat yang tak mengenal belas kasihan ini. Lalu, setelah menjalaninya, setelah selama berabad-abad melaluinya, Anda akan mendapati semua keadaan itu masih terus berlangsung. Demikianlah, sesungguhnya hukuman Anda akan berlangsung selamanya. Oh, siapakah yang dapat membayangkan keadaan orang yang berada dalam situasi seperti itu! Semua yang dapat kita katakan tentang hal ini, hanya mampu memberikan gambaran, yang sangat lemah dan kabur mengenainya; hal itu sungguh tak terkatakan dan tak terbayangkan, karena 'siapakah yang mengenal kekuatan murka [Allah]?" (dikutip dari Jonathan Edwards, Sinners in the Hands of an Angry God [Surabaya: Momentum, 2010], hal. 43-44).

Itulah deskripsi dari nasib orang-orang tak percaya. Sangat mengerikan!

Sekarang kita kembali kepada masalah awal yang telah saya bicarakan sebelumnya. Hidup itu singkat. Kemah kita akan "dibongkar" suatu saat. Dan kematian bukan akhir dari segalanya seperti klaim Bertrand Russel. Kematian bagi orang percaya merupakan gerbang kepada "rumah" yang kekal di sorga. Heaven is our home. Itulah rumah orang-orang beriman kepada Kristus.

Kematian juga bukan akhir eksistensi dari orang-orang tak percaya kepada Kristus. Tetapi berbeda dengan orang-orang pilihan, kematian bagi orang-orang tak percaya merupakan gerbang menuju "rumah" api yang kekal dalam neraka.

Ditulis oleh: Join Kristian Zendrato

APAKAH TUHAN INGIN SEMUA ORANG DISELAMATKAN? SEBUAH JAWABAN "TIDAK" DARI SAYA!

Oleh: Join Kristian Zendrato

Klaim bahwa Tuhan ingin menyelamatkan semua manusia merupakan klaim popular dalam kekristenan. Tetapi kepopularan tak bisa membuat sebuah klaim menjadi benar. 

Secara pribadi saya tak setuju bahwa klaim di atas benar adanya. Banyak hal yang bisa dijadikan sebagai argumen penolakan terhadap klaim tersebut, tetapi saya akan fokus pada satu argumen saja yakni pemberitaan Injil. 

Saya yakin bahwa pemberitaan Injil akan meruntuhkan klaim popular bahwa Allah ingin semua orang selamat.

Begini. Dalam Kekristenan, salah satu doktrin mendasar adalah sola fide. Sola fide merupakan istilah latin yang artinya faith alone (hanya iman). Maksudnya adalah kita diselamatkan hanya melalui iman kepada Yesus Kristus yang mati dan bangkit (Efesus 2:8-9).

Iman merupakan sebuah sine qua non untuk keselamatan. Iman itu sendiri merupakan pemberian Allah (Efesus 2:8-9; Filipi 1:29). Meskipun begitu, Allah mengaruniakan iman melalui pemberitaan Firman Tuhan. "Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus (Roma 10:17)."

Jadi untuk diselamatkan, seseorang harus beriman kepada Kristus. Supaya seseorang bisa beriman, ia harus mendengar Firman. Lalu bagaimana seseorang bisa mendengar Firman? Jelas salah satunya melalui pemberitaan Firman. 

Paulus menulis tentang hal ini sebagai berikut: "Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis: 'Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!'" (Roma 10:14-15).

Jadi, sekali lagi saya tegaskan bahwa iman merupakan syarat mutlak untuk keselamatan, dan iman itu sendiri merupakan karunia Allah yang diberikan-Nya dengan sarana pemberitaan Firman. 

Nah, sekarang saya akan memberikan argumen penolakan terhadap klaim bahwa Allah ingin semua orang selamat.

Jika Allah menginginkan semua orang untuk selamat, mengapa Injil tidak didengarkan oleh banyak orang sampai mati? Bukankah supaya selamat mereka harus beriman? Dan bukankah supaya mereka beriman, mereka harus mendengarkan Injil (Roma 10:17)? 

Jika Tuhan ingin semua orang untuk selamat, maka seharusnya Injil harus didengar oleh semua manusia. Bukankah aneh jika Tuhan ingin semua orang untuk diselamatkan tetapi Dia membiarkan banyak orang mati tanpa mendengar Injil (yang merupakan sarana supaya seseorang bisa beriman dan diselamatkan)? 

Hal ini harus dipikirkan baik-baik oleh orang-orang yang menjual klaim bahwa Allah menginginkan semua orang untuk selamat. Bagi saya klaim itu adalah omong kosong tak berdasar. 

Jadi, berdasarkan argumen ini, saya menyimpulkan bahwa Allah tak pernah menginginkan setiap orang untuk diselamatkan.

CATATAN SINGKAT TENTANG ALASAN REPROBATION

Oleh: Join Kristian Zendrato

Apakah dasar atau alasan dari reprobation? Sebelum menjawab ini, perlu diingat bahwa seperti yang diutarakan oleh Prof. Louis Berkhof, reprobation itu terdiri dari dua elemen yang harus dibedakan, yakni (1) preterition (pelewatan), dan (2) condemnation (penghukuman).

Maka menurut saya, preterition ini tidak bersyarat, dalam arti Tuhan tidak melewati karena dosa tetapi semata-mata karena kehendak-Nya. Tetapi dalam elemen condemnation, tidak bisa tidak, dosa diharuskan sebagai penyebabnya. 

Hal ini bisa dibandingkan dengan kasus pemilihan (election). Dalam kasus pemilihan, pemilihan itu sendiri berasifat unconditional (tanpa syarat). Sedangkan keselamatan sebagai tujuan pemilihan mempunyai syarat-syarat, seperti regeneration, iman, pembenaran, dsb. Semua syarat-syarat itu akan dan pasti terjadi dalam diri orang pilihan.

Jadi preterition dan pemilihan bersifat bebas. Sedangkan condemnation dan keselamatan itu bersyarat. Syarat condemnation adalah dosa. Syarat keselamatan adalah regeneration, iman, pembenaran, dsb. 

Tetapi perlu digaris bawahi bahwa syarat-syarat keselamatan dibawa secara efektif oleh Allah kepada orang pilihan. Sedangkan syarat condemnation, yakni dosa, datang dari kehendak manusia sendiri. 

Memang dosa pun tercakup dalam ketetapan Allah, tetapi ketika dosa itu terjadi, manusia sendirilah yang menghendaki dan melakukannya, dan dengan demikian bertanggungjawab untuk dosa-dosanya.

GELAR AKADEMIK TAK SELALU MENJAMIN SESEORANG MENGAJARKAN AJARAN YANG BENAR

Oleh: Join Kristian Zendrato

Beberapa waktu yang lalu saya menonton kuliah lama dari R.C. Sproul berjudul "Contradiction vs. Mystery: The Mystery of the Trinity." 

Sproul dalam kuliah itu menceritakan tentang seorang profesor yang suatu kali dalam kelas yang diikuti oleh Sproul membuat pernyataan demikian, "God is absolutely immutable in His essence, and God is absolutely mutable in His essence" (Allah secara absolut tidak berubah dalam esensi-Nya, dan Allah secara absolut berubah dalam esensi-Nya).

Sproul berkata bahwa di antara para mahasiswa yang mendengar hal itu, banyak yang menganggap bahwa pernyataan profesor tersebut sebagai sesuatu yang luar biasa. "That's deep" (Itu mendalam), kata para mahasiswa tersebut.

Tetapi bagi Sproul sendiri, kata-kata profesor tersebut adalah kata-kata yang berkontradiksi, tidak benar dan nonsense. Sproul berkata, "That's nuts. That's whacky" (Itu gila. Itu sinting).

Sproul benar. Karena Allah tidak mungkin absolutely immutable in His essence (secara absolut tidak berubah dalam esensi-Nya) dan absolutely mutable in His essence (secara absolut berubah dalam esensi-Nya) pada saat yang sama. 

Pernyataan profesor itu jelas melanggar hukum non-kontradiksi yang secara sederhana dapat dirumuskan sebagai berikut: A bukan A dan Non-A pada saat yang sama dan dalam relasi yang sama. Demikian juga, Allah tidak bisa memiliki sifat yang tidak berubah dan sifat yang berubah pada saat yang sama dan dalam relasi yang sama. Itu adalah kontradiksi.

Lalu kenapa tetap saja ada orang yang menganggap bahwa pernyataan profesor itu sebagai sesuatu yang luar biasa dan mendalam, padahal itu jelas pernyataan yang kontradiksi?

Sproul mengatakan bahwa, "...if you have enough education and a position of authority in the academic world, you can make nonsense statements and have people walk away impressed by how profound you are."

Terjemahannya sebagai berikut, "...jika Anda memiliki pendidikan yang cukup dan posisi yang berotoritas dalam dunia akademik, Anda dapat membuat pernyataan-pernyataan yang tidak masuk akal [omong kosong] dan membuat orang-orang terkesan oleh betapa dalamnya [pemikiran] Anda."

Kata-kata Sproul ini memang tidak bisa dimutlakkan. Tetapi bagaimana pun, kejadian seperti ini banyak terjadi. Orang-orang yang memiliki kedudukan tertentu, jabatan tertentu seringkali menyatakan banyak omong kosong dan bahkan menyatakan hal-hal yang kontradiksi dan tak masuk akal (absurd), tetapi tetap saja banyak orang yang menyanjung mereka.

Ini jelas bahaya. Dan dalam dunia teologi orang-orang seperti itu banyak. 

Saran saya, jangan hanya gara-gara kedudukan akademis, gelar yang mentereng, maka kita menganggap bahwa kata-kata seseorang itu pasti benar.

Gelar akademik, kedudukan akademik tidak menjamin seseorang mengajarkan hal yang benar. Ujilah segala sesuatu dengan Alkitab, dan jangan lupa juga gunakan selalu akal sehat.

"Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik" (1 Tesalonika 5:21).

Selasa, 18 Januari 2022

ALLAH DAN WABAH COVID-19

Oleh: Join Kristian Zendrato

Kita telah melalui banyak hari dengan berita seputar Covid-19 (Corona Virus Disease 2019) yang melanda dunia. Hingga saat ini, wabah Covid-19 sudah membuat banyak masalah: kematian, ekonomi yang merosot, dan sebagainya. 

Dalam problem seperti ini kita mungkin tergoda untuk berpikir bahwa Allah telah lepas tangan atas dunia. Kita bisa mengakui tangan Allah dalam kondisi yang baik dan aman, tetapi kita kesulitan mengakui tangan-Nya dalam wabah penyakit yang menimbulkan berbagai macam penderitaan. 

Jika kita berpikir seperti itu, saya harus mengatakan bahwa pikiran kita telah jauh melenceng dari ajaran Kitab Suci. 

Saya percaya bahwa Allah tak pernah lepas tangan, dan Covid-19 ini terjadi karena rencana dan ketetapan Allah yang berdaulat. Covid-19 ini tidak pernah mengejutkan Allah. Dan bahkan segala sesuatu yang terjadi tidak pernah mengejutkan Allah, sebab segala sesuatu yang terjadi, betapapun anehnya, dan remehnya terjadi karena Allah menghendakinya untuk terjadi. 

Dalam Matius 10:29-30 Yesus berkata, "Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekor pun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya."

Dalam ayat di atas, Yesus menyebutkan burung Pipit yang harganya sangat murah, tetapi seekor burung pipit itu tidak akan pernah jatuh atau mati (apapun penyebabnya) jika hal itu tidak dikehendaki Allah. Demikian juga rambut kita, semua terhitung oleh Allah yang menunjukkan kepedulian Allah bahkan terhadap hal yang sangat remeh. Dengan demikian rambut kita pun hanya mungkin bisa rontok jika itu dikehendaki Allah. 

Dengan pemahaman seperti itu, saya juga menganggap bahwa jika kejatuhan burung pipit hanya terjadi jika Allah menghendakinya terjadi, maka Covid-19 dan segala sesuatu yang terjadi, terjadi karena Allah menghendakinya terjadi. 

Itulah mengapa, Rasul Paulus berkata dalam Roma 11:33, "Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!"

Dalam ayat itu, Paulus mengajarkan dengan eksplisit bahwa sumber segala sesuatu (dengan demkian termasuk Covid-19) adalah "dari Dia" yakni Allah. 

Dan kebenaran ini kembali ditandaskan oleh Paulus ketika ia berkata bahwa Allah adalah "... Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya" (Efesus 1:11). Ya, segala sesuatu, tidak kurang dari itu. Maksudnya adalah keputusan Allahlah yang menyebabkan segala sesuatu itu terjadi (termasuk Covid-19).

Inilah yang membuat Ayub, setelah ditimpa oleh berbagai macam bencana berseru, "TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!" (Ayub 1:21). Sekali lagi, Ayub mengenali sumber pertama dari penderitaannya yaitu Allah (TUHAN yang mengambil). 

Jadi, apapun yang terjadi tidak pernah membuat Allah menjadi heran atau terkejut karena segala sesuatu yang terjadi merupakan rencana dan ketetapan Allah termasuk Covid-19. Jika ada satu saja yang terjadi yang bisa mengejutkan Allah, maka Allah tidak maha tahu, dan ada sesuatu yang berada di luar kontrol Allah. Dan dengan demikian sesuatu itu melampaui kuasa Allah. Jika itu terjadi maka Allah bukan Allah. Jadi jika ada satu saja yang terjadi di luar rencana dan ketetapan Allah, maka kita harus mempercayai atheisme. 

Jika kita menyetujui poin-poin yang sudah dijabarkan sejauh ini, maka adalah natural untuk bertanya: apa tujuan Allah merencanakan dan menetapkan Covid-19 (dan segala macam penderitaan lainnya)?

Jawaban untuk pertanyaan ini tidak mudah. Tetapi sebelum berusaha menjawab, kita perlu mengingat bahwa penetapan Allah atas segala sesuatu yang terjadi tidak pernah terjadi secara arbitrer. Tetapi tetap terjalin bersama-sama dengan kebijaksanan-Nya dan kekudusan-Nya.

Lalu apa tujuannya Allah merencanakan dan menetapkan segala penderitaan dalam dunia ini? Jawaban untuk ini begitu luas. Setiap kasus yang terjadi memiliki tujuan spesifik di mata Allah. Dan itu bisa saja tidak bisa kita pikirkan secara komprehensif. 

Kita harus menanamkan dalam kepala kita bahwa segala pekerjaan Allah tak mampu kita selami dan pahami secara komprehensif. Finitum non possit capere infinitum. Paulus menulisnya demikian, "O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!" (Roma 11:33).

Tetapi satu hal yang perlu kita aminkan sebagai orang percaya adalah bahwa segala sesuatu yang terjadi, yang merupakan realisasi dari rencana dan ketetapan kehendak Allah yang absolut bertujuan "untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah" (Roma 8:28).

Anda mungkin bertanya kebaikan apa itu? Kebaikan apa yang saya dapatkan atas terjadinya wabah Covid-19 atau penderitaan lainnya? Saya tidak mungkin bisa menjawab hal itu secara komprehensif. Itu bisa saja supaya kita lebih bergantung kepada-Nya, atau supaya kita kembali ke jalan yang benar, atau supaya kita tidak melulu memikirkan dunia dan membawa kita sejenak untuk memikirkan sorga dan neraka, atau supaya kita bisa menunjukkan kasih kita kepada sesama. Dan banyak kemungkinan lainnya. Intinya, bagi kita yang percaya, segala sesuatu yang terjadi membawa kebaikan bagi kita, bahkan jika itu kematian itu hanya membuat kita menjadi bersama-sama dengan Kristus di surga. 

Mempercayai bahwa segala sesuatu yang terjadi merupakan rencana dan ketetapan Allah, dan tidak ada apapun yang terjadi diluar kehendak Allah merupakan "obat kuat" dalam menjalani hidup di dunia ini. Itu berarti hidup dan mati adalah keputusan Tuhan. Sakit atau sehat adalah keputusan Tuhan. 

Jika kita berada dalam bahaya apapun percayalah bahwa Allahlah yang memegang kontrol. Satu helai rambut pun tak akan jatuh kalau dia tak menghendaki. Dan jika kita mengalami hal yang pahit tetap percaya bahwa itupun adalah tangan Allah yang akan selalu membawa maksud baik bagi kita yang percaya.

John Ryland pernah menulis sebuah syair yang sangat indah yang isinya memuat kebenaran ini:

"Plagues and deaths around me fly; Till He bids, I cannot die; Not a single shaft can hit, Till the God of love sees fit."

Terjemahan bebas:

"Penyakit dan kematian melingkupiku; Tapi ajal takkan menjemputku tanpa seizin-Nya; Tak satu pun tongkat yang dapat menyentuhku, Sampai Allah yang kasih memandangnya perlu."

Itulah kata-kata yang keluar dari mulut yang mempercayai penetapan Allah atas segala sesuatu. Tak ada yang bisa terjadi, apa pun itu, di luar ketetapan dan rencana Allah. 

Tetapi saya ingin mengingatkan secara singkat bahwa semua ini tidak boleh membuat kita membuang tanggung jawab kita. Kita tetap wajib melakukan yang terbaik yang kita bisa, tetapi dengan tetap mencamkan bahwa hasil akhir dari segala usaha, bahkan usaha itu sendiri, berada dalam dan tidak pernah terlepas dari rencana dan ketetapan Allah yang absolut.

APAKAH YUDAS MASUK SURGA BERDASARKAN LUKAS 23:34?

Oleh: Join Kristian Zendrato

Beberapa waktu yang lalu, saya menonton sebuah video dari Channel Youtube sang debaters. Video itu diberi judul: Yudas Masuk Sorga. Seperti judulnya, video itu memang berisi ajaran yang menyatakan bahwa Yudas Iskariot itu masuk surga.

Banyak argumen yang diberikan oleh sang debaters untuk mendukung ajarannya itu. Secara pribadi, saya tidak setuju dengan ajaran itu. Saya percaya bahwa Yudas masuk neraka. 

Di antara argumen-argumennya, salah satu yang mau saya bahas adalah penggunaannya atas teks Lukas 23:34. 

Lukas 23:24 itu berbunyi demikian, "Yesus berkata: "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." Dan mereka membuang undi untuk membagi pakaian-Nya." 

Sang debaters menyatakan bahwa doa pengampunan Yesus itu mencakup Yudas, karena doa itu diucapkan Yesus setelah Yudas mati, bukan sebelum Yudas mati. Kira-kira begitu argumennya.

Perlu dicatat bahwa memang waktu Yesus mengatakan Lukas 23:34 itu, Yudas telah mati (lihat Matius 27:1-10).

Jadi, Apakah pengampunan dalam ucapan Yesus itu mencakup Yudas Iskariot yang telah mati? 

Jika kita hanya berfokus pada Lukas 23:34, maka bisa saja konsep seperti itu diterima. Tetapi itu bukan pilihan yang tepat dalam menafsirkan Alkitab. 

Kita harus melihat bagian-bagian lain dalam Kitab Suci yang mungkin akan memberikan penjelasan akan hal itu, sebab “The principal rule of interpreting Scripture is that Scripture interprets Scripture" (R.C. Sproul).

Jika kita melakukan ini, maka ada beberapa hal yang perlu kita tandaskan. 

Pertama. Alkitab menyebutkan bahwa pada saat seseorang mati maka jiwa atau rohnya akan langsung masuk surga atau neraka (Lukas 16:19-31; Lukas 23:43). Memang pada saat ini hanya jiwa yang masuk surga atau neraka, sedangkan tubuhnya ada dalam kuburan. Nanti pada akhir zaman, tubuh ini akan dibangkitkan dan disatukan dengan jiwa yang sudah ada di surga atau di neraka. 

Berdasarkan poin ini, doa Yesus dalam Lukas 23:34 jelas tidak lagi mencakup Yudas, karena kematian Yudas sudah terjadi sebelum Lukas 23:34. Kematiannya itu membuat Yudas sudah langsung masuk neraka atau surga. Jadi, doa Yesus tidak berefek pada Yudas sama sekali (entah anda percaya dia masuk neraka atau sorga).

Kedua. Alkitab menyebutkan bahwa keadaan setelah kematian itu tetap, tak bisa berubah. Ini terlihat dari kisah Lazarus dan orang kaya dalam Lukas 16:19-31. 

Dalam ayat 26 dinyatakan begini: "Selain dari pada itu di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang."

Ayat di atas secara mutlak menekankan bahwa keadaan setelah kematian itu tetap adanya. 

Berdasarkan poin ini, Doa Yesus tidak mungkin mencakup Yudas yang keadaannya telah tetap pada saat kematiannya. 

Ketiga. Alkitab juga menyebutkan bahwa keadaan seseorang setelah kematian (entah masuk sorga atau masuk neraka) ditentukan oleh hal-hal yang dilakukan dalam hidup ini. 

Dalam 2 Korintus 5:10 dinyatakan, "Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat."

Jadi Tuhan hanya memperhitungkan "yang dilakukannya dalam hidupnya" untuk menentukan keadaan seseorang setelah kematian. Jadi, setelah seseorang mati, tidak peduli apapun yang dilakukan kepadanya oleh orang-orang yang masih hidup, tidak akan pernah berpengaruh padanya sama sekali.

Jadi, doa Yesus pun dalam Lukas 23:34 tidak berpengaruh kepada Yudas sebab Yudas sudah mati sebelumnya.

Jadi, menurut saya, entah Anda percaya Yudas masuk surga atau neraka, adalah tidak sah untuk menggunakan Lukas 23:34 untuk menentukan apakah Yudas masuk surga atau neraka. Kecuali Lukas 23:24 dicomot tanpa memperhatikan data-data lain dalam Kitab Suci.

Oh yah, mungkin anda bertanya-tanya jika benar bahwa jiwa seseorang itu sudah langsung masuk surga atau neraka pada saat ia mati (poin pertama di atas) bukankah dengan demikian penghakiman akhir zaman tidak diperlukan lagi? Lalu apa fungsi penghakiman terakhir kalau begitu? 

Untuk menjawab hal ini, saya akan memberikan kutipan dari seorang teolog Reformed, Prof. Louis Berkhof. Ia menulis sebagai berikut: 

"Penghakiman pada akhir zaman itu berbeda dengan penghakiman yang diberikan ketika seseorang mati. Penghakiman terakhir ini tidak rahasia, tetapi di muka umum, bukan hanya menghakimi jiwa saja, tetapi juga tubuh, tidak saja kepada satu indvidu tunggal, tetapi bagi semua manusia" (dikutip dari Louis Berkhof, Teologi Sistematika 6: Doktrin Akhir Zaman, hal. 136).

ALLAH DAN KETIADAAN (GOD AND NOTHINGNESS)

Oleh: Join Kristian Zendrato

Apa yang anda lihat di dunia ini? Banyak bukan? Ada manusia, binatang, tumbuhan, bulan, bintang, cahaya, matahari, laut, dan seterusnya. 

Di sekolah minggu, kita telah diajarkan bahwa semua itu ada karena diciptakan oleh Allah. 

Tetapi bagaimana jika itu salah? Bagaimana jika sebenarnya semua itu ada begitu saja dari ketiadaan seperti yang dikatakan oleh orang-orang atheis? 

Pertama. Alam semesta tidak mungkin ada dari ketiadaan, karena ketiadaan itu sendiri tidak bisa menghasilkan apa-apa. 

Supaya ketiadaan bisa menghasilkan sesuatu, maka ketiadaan itu haruslah sesuatu. Karna sesuatu yang lain hanya bisa dihasilkan oleh sesuatu pula. Faktanya, ketiadaan itu adalah bukan sesuatu, bukan apa-apa. Karena itu, ketiadaan tak bisa menghasilkan apa pun.

Dalam bahasa Latin, hal ini dinyatakan dalam ungkapan yang sangat terkenal: "ex nihilo nihil fit" (dari ketiadaan tidak muncul apa pun). 

Kedua. Andaikata ketiadaan (ini andaikata yah) bisa menghasilkan sesuatu, maka apa yang dihasilkannya itu tidak mempunyai tujuan untuk eksis. 

Misalnya, jika manusia berasal dari ketiadaan, maka manusia tidak mempunyai tujuan apa pun untuk eksis. Dia juga tidak akan mempertanggungjawabkan apapun karena dia berasal dari ketiadaan.

Jika manusia berasal dari ketiadaan, maka kisah manusia itu akan seperti penggambaran William Shakespeare, "A tale told by an idiot, full of sound and fury, signifying nothing."

Jadi, hanya jika kita percaya kepada Allahlah, kita bisa menjelaskan asal-usul segala sesuatu dan tujuan segala sesuatu itu. 

Jika kita tidak mempercayai Allah, dan menganggap bahwa segala sesuatu itu ada dengan sendirinya dari ketiadaan, maka kita tidak dapat menjelaskan baik asal usul maupun tujuan dari segala sesuatu itu. 

Ingatlah selalu pelajaran Sekolah Minggumu.

YESUSLAH YANG PALING BANYAK BERBICARA MENGENAI DOKTRIN TENTANG NERAKA DAN PENGHUKUMAN KEKAL

Oleh: Join Kristian Zendrato

Jika Anda membaca seluruh Perjanjian Baru, bahkan seluruh Alkitab, maka Anda akan mendapati bahwa orang yang paling banyak berbicara mengenai neraka adalah Tuhan Yesus Kristus.

Periksalah beberapa teks ini: Markus 9:43-48; Matius 10:28; Lukas 12:4-5; Matius 18:8; 25:41, 46; Lukas 16:19-31. Semua referensi tentang neraka dalam teks itu berasal dari Yesus. 

Berikut ini, saya juga ingin memberikan beberapa kutipan dari buku-buku tologi mengenai penegasan bahwa memang Yesuslah yang paling banyak mengajar tentang doktrin neraka.

J. C. Ryle: "Marilah kita mengerti bahwa Tuhan Yesus Kristus berbicara dengan sangat terus terang tentang realitas dan keabadian neraka. Tidak ada mulut yang menggunakan begitu banyak kata untuk menyatakan kengerian neraka seperti mulut Dia yang tentang-Nya orang berkata, 'Belum pernah seorang manusia berkata seperti orang itu!' (Yoh. 7:46)." - dikutip dari buku J. C. Ryle, Aspek-aspek Kekudusan (Surabaya: Momentum), hal. 85.

William G. T. Shedd: "Jesus Christ the person responsible for the doctrine of eternal perdition" [terjemahan: Yesus Kristus adalah pribadi yang bertanggung jawab untuk ajaran atau doktrin penghancuran / penghukuman kekal]. - dikutip dari buku William G. T. Shedd, Dogmatic Theology, third edition, ed. Alan Gomes (Phillipsburg, New Jersey: Presbyterian and Reformed Publishing Company, 2003), hal. 892.

John Piper: "Yesus membicarakan neraka lebih dari orang lain di dalam Alkitab." - dikutip dari buku John Piper, Apa yang Yesus Tuntut dari Dunia (Malang: Literatur SAAT, 2016), hal. 97.

John Piper: "Kata neraka (gehenna) muncul dalam Perjanjian Baru dua belas kali--sebelas kali diucapkan oleh Yesus. Itu bukanlah suatu mitos yang diciptakan oleh para pengkhotbah yang sedih dan marah. Itu adalah peringatan serius dari Anak Allah ..." - dikutip dari buku John Piper, Mendambakan Allah (Surabaya: Momentum, 2017), hal. 59.

Harry Buis: "Fakta bahwa Juruselamat yang penuh kasih dan bijaksana banyak berbicara tentang neraka, lebih daripada semua tokoh lain di dalam Alkitab, jelas membuat kita harus berpikir tentang doktrin penghukuman kekal." - dikutip oleh Anthony A. Hoekema dalam bukunya, Alkitab dan Akhir Zaman (Surabaya: Momentum, 2004), hal. 359. Hoekema mengutip dari buku Harry Buis, Doctrine of Eternal Punishment (Philadelphia: Presbyterian and Reformed, 1957), hal. 33.

Christopher W. Morgan dan Robert A. Peterson: "Setiap penulis Perjanjian Baru berbicara tentang adanya hukuman yang akan datang untuk orang-orang fasik. Tuhan Yesus sendiri yang akan berdiri sebagai pembela utama - baik Thomas Aquinas atau Jonathan Edwards tidak pernah berbicara dengan begitu menakutkan tentang kengerian-kengerian neraka seperti yang dilakukan Yesus. Pasti, kita yang menyebut Yesus 'Tuhan' tidak memiliki hak istimewa untuk menolak atau mengabaikan doktrin yang sangat jelas di dalam Alkitab dan begitu tegas di dalam pengajaran-pengajaran Tuhan kita." - dikutip dari Christopher W. Morgan dan Robert A. Peterson, Hell Under Fire (Malang: Gandum Mas, 2009), hal. 309.

Semua ini membuktikan bahwa Yesus sangat serius mengajarkan doktrin ini. Fakta ini berbeda dengan keadaan kita sekarang. Khotbah-khotbah tentang neraka jarang ditemui, bahkan tak jarang orang-orang percaya berusaha membuat neraka menjadi bahan lelucon.

Ajaran ini perlu dikumandangkan kembali. Jika Yesus mengajarkannya secara kuat, maka tidak ada alasan bagi orang yang menyebut dirinya Kristen untuk mengabaikan atau bahkan menolak doktrin ini.

GAGALNYA POTRET YESUS YANG DIKONSTRUKSI DI LUAR KITAB-KITAB INJIl (FEAT JOHN PIPER)

Oleh: Join Kristian Zendrato

Saya baru saja membaca esai yang bernas dari John Piper berjudul, "Sepatah Kata Kepada Para Sarjana Alkitab (Dan Kepada Mereka yang Bertanya-tanya Apa yang Sedang Mereka Lakukan)." Esai ini terdapat dalam buku Piper: Apa yang Yesus Tuntut Dari Dunia (Malang: Literatur SAAT, 2016), hal. 19-26.

Dalam esainya tersebut, Piper membahas secara singkat mengenai potret Yesus menurut studi kritik historis. Keseluruhan esainya menunjukkan bahwa Piper jelas menolak potret Yesus versi kritik historis tersebut. Masalahnya menurut Piper adalah bahwa potret Yesus menurut studi ini sering dikonstruksi berdasarkan sumber-sumber di luar Kitab-Kitab Injil, sehingga Piper di awal esainya menegaskan, "... berkenaan dengan penyelidikan-penyelidikan tentang Yesus menurut sejarah bukan berarti bahwa tidak ada yang pasti yang dapat dikatakan tentang Yesus, melainkan usaha di luar ke-4 Kitab Injil membawa orang kepada lautan spekulasi yang tidak akan tiba pada pulau manapun yang dapat disebut potret Yesus yang dapat dipercaya" (Piper, Sepatah Kata Kepada Para Sarjana Alkitab, hal. 19).

Apa yang dikatakan Piper disubstansiasi dengan fakta bahwa penyelidikan-penyelidikan tentang Yesus dengan metode kritik historis terus menerus menghasilkan potret Yesus yang tidak konstan.

Piper menyatakan bahwa menurut para sarjana, ada tiga (tahap) penyelidikan tentang Yesus menurut sejarah (The Historical Jesus). 

Penyelidikan pertama berakar pada zaman Benedict Spinoza (1632-1677), yang dilanjutkan Herman Remairus (1694-1768), David Friedrich Strauss (1808-1874), William Wrede (1859-1906), dan lain-lain. Tetapi potret Yesus dalam penyelidikan pertama ini kemudian diserang oleh Albert Schweitzer (1875-1965), dan Martin Kahler (1835-1921), yang juga memperkenalkan potret Yesus menurut versi mereka sendiri.

Setelah penyelidikan pertama gagal, penyelidikan kedua dibangkitkan oleh seorang Jerman dan murid Rudolf Bultman bernama Ernst Kasemann pada tahun 1953. Tetapi, seperti penyelidikan pertama, penyelidikan kedua juga gagal. Piper secara pribadi berkomentar, "... dan penyelidikan ini telah memberi saya sekam dan abu" (Piper, Sepatah Kata Kepada Para Sarjana Alkitab, hal. 21). 

Setelah penyelidikan kedua gagal, muncullah penyelidikan ketiga tentang Yesus menurut sejarah. Untuk deskripsi mengenai penyelidikan ini, Piper mengutip Beb Witherington III, penulis The Jesus Quest: The Third Search for the Jew of Nazareth (Downers Grove, Ill.: Intervarsity Press, 1995). Witherington menyatakan bahwa penyelidikan ketiga ini "dimulai pada awal 1980, dipicu oleh beberapa data baru dari arkeologi dan manuskrip, beberapa perbaikan metodologis, dan antusiasme baru bahwa penelitian historis tidak perlu menuju jalan buntu" (Witherington, The Jesus Quest, hal. 12-13. Dikutip Piper, Sepatah Kata Kepada Para Sarjana Alkitab, hal. 22). 

Sampai sekarang penyelidikan ketiga ini masih berlangsung.

Gambaran-gambaran mengenai jatuh bangunnya penyelidikan-penyelidikan tentang Yesus menurut sejarah menunjukkan bahwa apa yang ditandaskan oleh Piper pada awal esainya adalah benar, bahwa memang potret Yesus yang dikonstruksi di luar ke-4 Kitab Injil hanya membawa orang kepada lautan spekulasi yang tidak akan tiba pada pulau manapun yang disebut sebagai potret Yesus yang sesungguhnya. 

Tetapi tunggu dulu, bukankah penyelidikan ketiga ini dikatakan masih berlangsung? Ya, tetapi Piper menilai bahwa usaha ini pun akan segera gagal dan dilupakan jika usaha ini menyimpang dari Injil Perjanjian Baru (mungkin akan digantikan lagi oleh penyelidikan keempat).

Piper menyertakan lima alasan untuk mendukung penilaiannya. Tetapi demi keringkasan, saya hanya akan menyinggung alasan yang kedua. 

Piper menyatakan bahwa usaha penyelidikan ketiga akan terus gagal jika menyimpang dari Injil PB karena telah banyak literatur dari pihak Kristen yang menyajikan kontra argumen terhadap penyelidikan ketiga dan penyelidikan pada umumnya. Piper menulis, "Allah telah membangkitkan beberapa generasi sarjana-sarjana yang teliti, bersemangat dan setia, yang tidak takut akan kritik-kritik yang radikal, dan yang dengan setia melanjutkan usaha mereka mendirikan kredibilitas keempat Injil secara historis" (Piper, Sepatah Kata Kepada Para Sarjana Alkitab, hal. 23).

Membaca penandasan Piper di atas, saya hanya ingin berkata: syukur kepada Allah Tritunggal. Amin. 

Ini adalah kabar baik bagi kita sebagai orang percaya. Sekarang pilihan di tangan kita, entah kita mau belajar atau tidak.

KOMENTAR SINGKAT MENGENAI KLAIM ORIGINALITAS IDE ATAU PEMIKIRAN

Oleh: Join Kristian Zendrato

Saya sudah sering mendengar tentang orang-orang yang kelihatannya menganggap bahwa pemikiran-pemikiran mereka (setidaknya sebagian) benar-benar original, yang berarti bahwa pemikiran yang sedang mereka utarakan belum pernah eksis sebelumnya. 

Mereka yang beranggapan seperti itu, jika mereka seorang dosen atau pengajar sering menuntut muridnya untuk menghasilkan pemikiran-pemikiran yang original pula. Ini khususnya mereka harapkan kala berdiskusi, atau kala murid sedang dalam proses menulis makalah atau karya ilmiah. 

Saya pernah mengalami itu. Dan kali ini, saya akan berargumen bahwa itu sangatlah absurd.

Saya beranggapan bahwa semua pemikiran-pemikiran di dunia ini termasuk dalam dunia teologi tidak ada yang benar-benar original (dalam pengertian belum pernah esksis sebelumnya). Semua pemikiran kita telah dipikirkan oleh banyak orang sebelumnya. Kita (entah suka atau tidak suka) hanya mengulang pemikiran-pemikiran sebelumnya. 

Kita bisa saja memberikan istilah-istilah baru untuk sesuatu, tetapi makna yang terkandung dalam istilah-istilah itu telah eksis berabad-abad sebelumnya. 

Dalam dunia teologi, tidak ada ahli teologi yang benar-benar original pemikirannya. Teolog-teolog Reformed misalnya berhutang banyak pada pemikiran-pemikiran John Calvin dan tokoh lainnya. Calvin sendiri berhutang kepada bapa-bapa Gereja (khususnya Augustinus). Bapa-bapa Gereja berhutang kepada tokoh-tokoh lain atau Kitab Suci. Penulis-penulis Kitab Suci berhutang kepada Allah sebagai pewahyu. 

Jadi, pada analisis terakhir, Allah lah yang benar-benar original. 

Pemikiran-pemikiran kita sekarang banyak dipengaruhi oleh sumber lain (yang entah sudah kita lupakan atau masih ingat). Itu mungkin berasal dari buku, khotbah, diskusi, kuliah, atau seminar yang telah kita baca atau dengar bertahun-tahun yang lalu. Pemikiran-pemikiran kita berhutang pada masa lalu. Itu tidak original. 

Pengkhotbah mengingatkan, "Apa yang pernah ada akan ada lagi, dan apa yang pernah dibuat akan dibuat lagi; tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari. Adakah sesuatu yang dapat dikatakan: 'Lihatlah, ini baru!'? Tetapi itu sudah ada dulu, lama sebelum kita ada" (Pengkhotbah 1:9-10).

Dengan penjelasan ini, saya terus terang heran dengan orang-orang yang anti kutipan. 

Saya sendiri sering mengutip pemikiran orang lain ketika saya menulis, mengajar, atau berkhotbah. Dan bagi saya sendiri, tidak ada masalah dalam tindakan mengutip pemikiran orang lain, asal disertai dengan alamat sumber, dan dikutip tanpa out of context. Itu adalah tindakan jujur dan terpuji. 

Sebaliknya, adalah memalukan untuk mengutarakan suatu pemikiran dan memproklamasikan pemikiran itu sebagai pemikiran original kita padahal itu adalah pemikiran orang lain. Itu simply tidak jujur.

MENJAWAB ARGUMENTASI GEMBEL ZAKIR NAIK

Oleh: Join Kristian Zendrato

Siang ini kami bertiga (Pak Syukur, Pak Eka, dan Saya sendiri) kala berbincang-bincang di kantor entah kenapa menyinggung salah satu pertanyaan Zakir Naik yang berbunyi kurang lebih demikian, "Di manakah dalam Alkitab Yesus pernah berkata, "Aku Allah, sembahlah Aku!"?

Nah, saya sudah sering mendengar pertanyaan ini dikumandangkan oleh Zakir Naik di Youtube. Ketika Zakir Naik bertanya "Di manakah dalam Alkitab Yesus pernah berkata, "Aku Allah, sembahlah Aku!"?, sebenarnya dia sedang ingin membuktikan bahwa Yesus bukan Allah. Jadi, sebenarnya Zakir Naik, melalui pertanyaannya itu sedang berargumen bahwa karena Yesus tidak pernah mengatakan dalam Alkitab "Aku Allah, sembahlah Aku," maka Yesus bukan Allah. 

Kira-kira begitulah rekonstruksi argumen dari Zakir Naik. 

Bagi saya sendiri, ini adalah argumentasi gembel yang tidak sah sama sekali untuk membuktikan bahwa Yesus bukan Tuhan. 

Langsung saja. Begini, identitas seseorang itu tidak serta merta hanya bisa dibuktikan dengan pengakuan langsung dari orang yang bersangkutan. Banyak cara lain. 

Misalnya, kalau ada seorang cewek masuk ke dalam sebuah ruangan, maka kemungkinan besar, kita akan langsung bisa mengidentifikasi orang itu sebagai cewek, tanpa pengakuan langsung dari orang itu bahwa ia seorang cewek. 

Pertanyaannya, mengapa kita langsung bisa mengidentifikasi orang itu sebagai cewek tanpa pengakuan langsung dari orang itu bahwa ia seorang cewek? Jawabannya karena meskipun dia tidak melakukan pengakuan langsung bahwa ia adalah seorang cewek, tetapi dari ciri-cirinya, kita sudah bisa langsung menyimpulkan bahwa dia cewek. 

Contoh lain. Kalau kita melihat Zakir Naik sedang ceramah di Youtube, kita sadar bahwa Zakir Naik adalah manusia tanpa pengakuan langsung dari Zakir Naik, "Aku manusia." 

Pertanyaannya, mengapa kita bisa menyimpulkan bahwa Zakir Naik adalah seorang manusia tanpa menunggu pengakuan langsung darinya bahwa ia adalah manusia? Jawabannya adalah meskipun ia tidak mengaku secara langsung bahwa ia adalah manusia, tetapi dari ciri-cirinya kita bisa menyimpulkan bahwa ia adalah manusia. 

Jadi dari dua contoh di atas, kita bisa melihat bahwa identitas seseorang itu tidak hanya bisa dibuktikan dengan mendengar pengakuan langsung dari orang itu, tetapi bisa dengan cara lain, seperti melihat ciri-cirinya, dsb. 

Jadi menurut saya, dalam kasus mengenai Yesus, tidak ada keharusan bagi orang Kristen untuk mencari pembuktian bagi Keilahian Yesus berdasarkan kata-kata langsung dari Yesus "Aku Allah, sembahlah Aku!" 

Sebab seandainya Yesus tak pernah mengaku secara langsung "Aku Allah, sembahlah Aku!", maka itu tak membuktikan bahwa Yesus bukan Allah, karena identitas Yesus sebagai Allah itu bisa terlihat dari ucapan-ucapan atau tindakan-tindakan-Nya.

Mari kita pertimbangkan data-data berikut. 

Dalam Matius 9:2 & 6, Yesus mengklaim bahwa Ia bisa mengampuni dosa. Kemudian dalam Yohanes 3:13, Yesus mengklaim bahwa Ia turun dari Sorga. Kemudian dalam Yohanes 8:58, Yesus berkata bahwa Ia sudah ada sebelum Abraham. Padahal Abraham sudah lama meninggal. Dalam Yohanes 14:13-14 Yesus mengklaim bahwa Ia bisa mengabulkan doa. Yesus juga mengklaim bahwa Dia akan datang sebagai Hakim pada akhir zaman (bdk. Mat. 25:31-32; Yoh. 5:22,27). Akhirnya Dia berkata bahwa Ia bisa menyuruh malaikat (Mat. 13:41).

Nah, dari data-data Alkitab di atas, semua tindakan dan ucapan-ucapan Yesus itu, meminjam kata-kata Millard J. Erickson, "tidak pantas diucapkan seandainya itu diucapkan oleh seorang yang bukan Allah" (Millard J. Erickson, Teologi Kristen, vol. 2, hal. 318).

Jadi, semua tindakan dan ucapan Yesus dalam tek-teks yang telah dikutip di atas hanya masuk akal jika Yesus benar-benar Allah. Karena orang biasa, tak mungkin menyuruh malaikat, sudah ada sebelum Abraham, atau turun dari Sorga. 

Nah, jadi Yesus tak perlu banget untuk membuat pengakuan langsung "Aku Allah, sembahlah Aku!" untuk membuktikan bahwa Dia adalah Allah, seperti yang dituntut oleh Zakir Naik. Identitas Yesus sebagai Allah bisa terbukti dari ciri-ciri-Nya (tindakan dan ucapan-Nya), sebagaimana Zakir Naik tidak perlu mengaku secara langsung "Aku manusia," untuk membuktikan bahwa ia adalah manusia. Karena dari ciri-cirinya, kita sudah bisa menyimpulkan bahwa Zakir Naik itu memang manusia. 

Dari semua penjelasan di atas, saya harus menyimpulkan bahwa argumentasi Zakir Naik untuk menolak Yesus sebagai Allah tidak lebih dari sebuah argumen gembel yang tidak akan pernah dipuja dan dipercaya oleh manusia waras di bumi ciptaan Tuhan ini, kecuali oleh orang-orang yang IQ-nya minus 212.

Sebenarnya banyak argumen-argumen lain yang bisa digunakan untuk menghancurkan propaganda Zakir Naik. Tapi saya pikir, ini sudah lebih dari cukup. 

Yesus adalah Tuhan.

KOMENTAR SINGKAT TENTANG SPIRITUALITAS ALA DANIEL MANANTA

Oleh: Join Kristian Zendrato Siapa yang tidak mengenal Daniel Mananta, pembawa acara terkenal Indonesian Idol. Daniel telah membuat channel ...