Sabtu, 21 Mei 2022

KETIKA KELUCUAN DIJADIKAN SEBAGAI STANDAR UNTUK MENILAI BENAR TIDAKNYA SEBUAH KHOTBAH ATAU AJARAN

Oleh: Join Kristian Zendrato

"Khotbahnya bagus!" kata seseorang. Lantas ketika ditanya, "Apa alasannya?" dia menjawab, "Banyak lucu-lucunya." 

Percakapan singkat di atas merupakan representasi dari standar kebanyakan orang (entah orang awam, mahasiswa teologi, dsb) kala menilai baik tidaknya atau benar tidaknya sebuah khotbah atau ajaran. Ya, standarnya adalah kelucuan. Kelucuan dijadikan sebagai sebuah sine qua non dalam khotbah.

Saat ini, jika Anda berhasil membuat orang tertawa terbahak-bahak dalam acara pemberitaan firman maka khotbah Anda dianggap sudah benar. 

Apa yang dicari orang sekarang adalah lawakan, bukan kebenaran. Banyak orang sangat menikmati hal-hal yang membuat mereka tertawa bahkan ketika hal-hal itu sebenarnya absurd dan bertentangan dengan akal sehat dan di atas segala-galanya tidak Alkitabiah.

Kondisi lapangan inilah yang sering dimanfaatkan oleh para pengkhotbah lawakan. Mereka cukup membaca ayat-ayat dengan ditambahi banyak lelucon "un-faedah" dan tolol sepanjang acara pemberitaan firman.

Pengkhotbah-pengkhotbah kita sekarang hampir tidak bisa dibedakan dengan komedian penghibur, dan sayangnya itulah kesukaan kebanyakan orang Kristen.

Inilah salah satu kondisi yang mungkin termasuk dalam kata-kata Paulus berikut ini: "Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng" (2 Timotius 4:3-4).

Paulus menuliskan hal ini tentunya bukan supaya kita melakukan tindakan membuka diri bagi dongeng. Paulus sebaliknya menuliskan ini sebagai contoh penyimpangan yang harus kita jauhi dan lawan.

Fenomena yang telah dijelaskan di atas jelas merupakan penyimpangan dari Firman Allah. Orang percaya seharusnya tidak boleh candu terhadap setiap lawakan mimbar yang tak berguna, apalagi memakainya sebagai standar untuk menilai benar tidaknya suatu khotbah atau ajaran, karena kelucuan tak pernah membuat khotbah seseorang menjadi benar.

Jika benar tidaknya suatu khotbah atau ajaran dinilai dari kelucuannya maka para pelawak adalah pengkhotbah terbaik. Siaran-siaran komedi semisal Stand Up Comedy akan menjadi acara yang paling terberkati.

Sebaliknya, standar kebenaran khotbah atau ajaran adalah Alkitab Firman Allah. Apa yang kita lihat dalam khotbah bukanlah kelucuannya tetapi apakah khotbah atau ajaran itu Alkitabiah atau tidak. Orang percaya seharusnya meniru orang-orang Yahudi yang mendengar khotbah Paulus di Berea, yang dalam Kisah Para Rasul digambarkan sebagai berikut: "Orang-orang Yahudi di kota itu lebih baik hatinya dari pada orang-orang Yahudi di Tesalonika, karena mereka menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian" (Kisah Para Rasul 17:11).

Orang percaya harus mengubah pemikirannya (mindset) sekarang. Kita harus mencintai khotbah-khotbah yang serius, berbobot, dan Alkitabiah usque et usque. Khotbah-khotbah itulah yang harus kita dengar, bukan khotbah-khotbah lawakan tak berguna dan tolol.

Juga untuk para hamba Tuhan dan pengkhotbah, kita harus tetap mengingat bahwa tugas kita bukan melawak di atas mimbar, melainkan seperti Paulus, "tidak lalai memberitakan seluruh maksud Allah kepadamu" (Kisah Para Rasul 20:27), dan yang terus mengusahakan "supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu" (2 Timotius 2:15).

Tugas pengkhotbah adalah menjelaskan teks Kitab Suci dengan setia - usque et usque - bukan melawak. Seperti yang dinyatakan John Piper, "Semua khotbah Kristen harus menjadi penguraian dan penerapan TEKS Alkitab. Otoritas kita sebagai para pengkhotbah yang diutus oleh Allah akan bertahan atau runtuh bersama kesetiaan kita yang nyata kepada TEKS Kitab Suci" (John Piper, Supremasi Allah Dalam Khotbah, hal. 29).

Pengkhotbah tidak boleh melalaikan penjelasan teks Kitab Suci - usque et usque - dengan bertanggungjawab dan tidak boleh menggantikannya dengan berbagai macam lawakan demi menyenangkan pendengarnya. Pengkhotbah harus menyenangkan Allah bukan manusia. Kalau sampai tujuan pengkhotbah adalah menyenangkan manusia maka Dia bukan hamba Tuhan. Paulus berkata, "Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus" (Galatia 1:10).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KOMENTAR SINGKAT TENTANG SPIRITUALITAS ALA DANIEL MANANTA

Oleh: Join Kristian Zendrato Siapa yang tidak mengenal Daniel Mananta, pembawa acara terkenal Indonesian Idol. Daniel telah membuat channel ...