Senin, 07 Februari 2022

KEDAULATAN ALLAH DAN KEBERHASILAN PENGINJILAN

Oleh: Join Kristian Zendrato

James I. Packer yang merupakan Profesor Teologi dari Regent College, Vancouver pernah menulis sebuah buku kecil berjudul Evangelism and the Sovereignty of God. Dalam buku itu, Packer membahas banyak hal mengenai hubungan kedaulatan Allah dan tanggung jawab manusia, khususnya penginjilan.

Saya sangat diberkati melalui buku ini, khususnya ketika Packer mengatakan bahwa “Kedaulatan Allah dalam anugerah memberikan satu-satunya pengharapan atas keberhasilan dalam penginjilan” [James I. Packer, Penginjilan dan Kedaulatan Allah (Surabaya: Momentum, 2014), hal. 92].

Packer mengamati bahwa problem terbesar manusia dalam relasinya dengan Allah adalah Dosa. Dosa membuat manusia tidak mampu untuk menangkap kebenaran rohani. Mata manusia tertutup dari kebenaran Injil. Itulah sebabnya, Paulus dalam 1 Kor. 2:14 mengatakan bahwa, “Manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani.” Inilah gambaran natur manusia menurut Alkitab. Manusia betul-betul telah “mati karena pelanggarannya” (Ef. 2:1), dan efek dari keadaan ini adalah ketidakmampuan manusia untuk menangkap, tunduk, dan percaya pada kebenaran Injil.

Packer juga mengamati bahwa hal lain yang juga ikut mempengaruhi kebutaan manusia berdosa adalah pekerjaan Iblis yang selalu aktif mencegah orang-orang berdosa untuk dapat melihat cahaya Injil (bdk. Ef. 2:2; 2Kor. 4:4).

Jadi, dengan natur manusia yang sudah begitu rusak, ditambah pekerjaan Iblis yang terus menerus menghalangi mata manusia berdosa untuk bisa melihat kebenaran Injil, maka bisa disimpulkan bahwa pekerjaan penginjilan yang hanya mengandalkan manusia sama sekali tidak akan berhasil. Kita tidak dapat mempertobatkan siapa pun dengan situasi seperti itu. Berkhotbah kepada manusia berdosa adalah sama seperti berkhotbah kepada mayat-mayat yang tidak bisa merespon. Dan itu adalah pekerjaan yang sia-sia.

Maka supaya manusia berdosa bisa menerima Injil kasih karunia, tunduk, dan percaya terhadapnya, pertama-tama manusia berdosa harus digerakkan dan dibuka hatinya lebih dahulu oleh Allah yang Mahakuasa. Itulah sebabnya, ketika Lidia mendengarkan khotbah Paulus, Lukas menulis: “Tuhan membuka hatinya, sehingga ia memperhatikan apa yang dikatakan oleh Paulus” (Kis. 16:14). Tanpa tindakan Allah yang menghidupkan, memanggil dan menggerakkan manusia berdosa untuk datang kepada Kristus, maka pekerjaan penginjilan adalah kesia-siaan belaka.

Ini jelas meruntuhkan semua kesombongan orang-orang Kristen yang sering berkata, “Aku mempertobatkan dia,” dan pernyataan-pernyataan serupa lainnya. Allahlah, bukan manusia yang membuat manusia berdosa mempercayai Injil. Kita hanyalah alat semata di tangan Allah Tritunggal, sementara keputusan manusia untuk mempercayai Injil kasih karunia adalah pekerjaan Tuhan (bdk. Flp. 1:29).

Disisi lain, ini adalah obat yang manjur bagi para penginjil yang setia ketika mereka melihat hasil pelayanan mereka sepertinya tidak mendatangkan petobat-petobat baru. Fakta bahwa pendengar kita, tidak mempercayai Injil kasih karunia Allah adalah bukti bahwa Allah belum (atau tidak) membuka hati mereka. Urusan kita adalah memberitakan Injil dengan setia (bdk. Gal. 1:6-9), sedangkan hasil akhir dari pemberitaan kita ada dalam tangan Allah.

Yakinlah bahwa semua manusia yang adalah domba sejati akan dipanggil oleh Allah untuk datang dan mempercayai Injil (dengan perantaraan penginjil-penginjil), sedangkan mereka yang bukan domba sejati akan tetap mengeraskan hati mereka. Yesus berkata, “tetapi kamu tidak percaya, karena kamu tidak termasuk domba-domba-Ku” (Yoh. 10:26; bdk. Rm. 8:29-30).

EXTERNAL CALLING DAN INTERNAL CALLING

Oleh: Join Kristian Zendrato

Pada saat kita memberitakan Injil, ada dua respon yang akan kita lihat dari pendengar kita. Ada yang menolak dan ada yang menerima. Pertanyaannya mengapa bisa begitu? Dalam hal ini kita perlu memperhatikan doktrin panggilan (calling). 

Panggilan terbagi menjadi dua bagian: external calling (panggilan dari luar atau eksternal) dan internal calling (panggilan dari dalam atau internal).

Secara umum, panggilan eksternal itu terjadi jika kita memberitakan Injil dan mengundang orang untuk datang kepada Yesus.

Panggilan internal itu adalah panggilan dari dalam dimana Roh Kudus bekerja dalam diri seseorang untuk menerima undangan dari panggilan eksternal tadi.

Contohnya terlihat dalam Kisah Para Rasul 16:14, "Seorang dari perempuan-perempuan itu yang bernama Lidia turut mendengarkan. Ia seorang penjual kain ungu dari kota Tiatira, yang beribadah kepada Allah. Tuhan membuka hatinya, sehingga ia memperhatikan apa yang dikatakan oleh Paulus."

Dalam ayat itu Paulus memberitakan Firman, Lidia mendengar. Itu panggilan eksternal.

Lalu dikatakan bahwa Tuhan membuka hatinya. Itulah panggilan internal. Sehingga setelah dipanggil secara internal, Lidia memperhatikan dan menerima Firman.

Saya juga mau menambahkan bahwa orang yang dipanggil secara internal hanyalah orang-orang pilihan. Jadi, orang pilihan pasti dipanggil secara eksternal dan internal. Sedangkan orang bukan pilihan mungkin saja bisa dipanggil secara eksternal tapi pasti tak akan dipanggil secara internal. 

Itulah argumen Paulus dalam ayat yang biasa disebut sebagai The Golden Chain of Salvation: Roma 8:29-30, "Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya."

Jadi mula-mula Paulus berbicara tentang pemilihan dan meneruskan bahwa orang yang telah dipilih tadi pasti akan dipanggil, dibenarkan dan akhirnya dimuliakan. 

Semua ini menunjukkan bahwa keselamatan adalah karya Allah dari awal sampai akhir (bdk. Kisah Para Rasul 13:48).

Soli Deo Gloria.

KEMAH DAN RUMAH: SEBUAH REFLEKSI TENTANG HIDUP YANG SINGKAT DAN KEHIDUPAN SETELAH KEMATIAN - SORGA DAN NERAKA

Oleh: Join Kristian Zendrato

Pikirkanlah sejenak orang-orang yang telah pergi dari dunia ini. Pikirkanlah juga tentang bayi-bayi yang lahir. Yang pertama akan membawa kita pada pikiran betapa mengerikannya kematian. Yang kedua akan membawa kita pada pikiran betapa dinamisnya hidup.

Tetapi Anda akan segera menyadari bahwa bayi yang baru lahir itu pun akan pergi suatu saat dari dunia ini (bahkan ada yang langsung pergi pada saat lahir).

Poinnya adalah hidup itu singkat dan fana. Itulah mengapa ungkapan Latin memento mori tidak boleh kita lupakan (memento mori artinya ingatlah kita pasti akan mati).

Tragisnya, kebanyakan dari kita berpikir bahwa kita akan baik-baik saja. Dan satu kali pun tak pernah berpikir tentang kefanaan hidup. Padahal Alkitab yang adalah satu-satunya Firman Allah yang tanpa salah berulang kali mengingatkan kita bahwa suatu saat kita akan kembali menjadi debu.

Menarik untuk diperhatikan bahwa tubuh kita di dunia ini sering digambarkan Alkitab sebagai "kemah." Kemah adalah tempat sementara. Dalam 2 Korintus 5:1, Paulus menulis, "Karena kami tahu, bahwa jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia."

Paulus menyebutkan "kemah tempat kediaman kita dibumi." Hal ini menunjukkan pada tubuh kita. Kalau kita memperhatikan lanjutan dari penjelasan Paulus, maka dalam 2 Korintus 5:2 dan ayat 4 dijelaskan bahwa selama kita berada dalam kemah ini, kita akan mengeluh. Hal ini menunjuk pada fakta bahwa selama di dunia ini, kita akan banyak menderita.

Bukan hanya itu saja. Kembali ke ayat 1, Paulus menegaskan bahwa kemah itu suatu saat akan "dibongkar." Kemah yang dibongkar menunjuk pada kematian. Jadi, bukan hanya penderitaan yang akan kita alami selama kita mendiami kemah, tetapi juga kematian.

Sekarang kita akan bertanya, "Apakah ketika kemah itu dibongkar, maka semua akan berakhir?"

Dengan kata lain apakah hidup itu akan berakhir setelah kematian, dan dengan demikian, sebenarnya hidup ini tak berarti seperti deskripsi yang terkenal dari Macbeth dalam karya William Shakespeare, "Hidup hanyalah bayangan yang berjalan, aktor malang yang menjalani hari-harinya dipanggung lalu tak terdengar lagi. Hidup adalah dongeng yang dikisahkan oleh si tolol, penuh dengan kebisingan dan tak berarti."

Ataukah seperti yang dinyatakan oleh Bertrand Russel dalam bukunya Why I am Not a Christian, "Aku akan membusuk setelah mati, dan egoku tidak akan ada lagi."

Baik tokoh fiktif Macbath dalam karya Shakespeare dan Bertrand Russel ditentang oleh Injil Perjanjian Baru. Sesungguhnya kematian bukan akhir, akan ada kehidupan setelahnya.

Dalam perikop yang telah kita lihat sebelumnya, Paulus mengatakan bahwa meskipun kemah kita akan dibongkar dan dengan demikian kita mati, Allah yang penuh dengan anugerah telah menyediakan "rumah" yang kekal kepada kita di Sorga. Paulus menulis: "Karena kami tahu, bahwa jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia" (2 Korintus 5:1).

Ya, jika kita mati, jika kemah dibongkar, jangan takut karena " Allah telah menyediakan." Apa yang Allah telah sediakan? "suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia." Dalam terjemahan New American Standar Bible (NASB) dikatakan,"a building from God, a house not made with hands, eternal in the heavens" (suatu bangunan dari Allah, suatu rumah yang tidak dibuat oleh tangan, kekal di surga).

Jadi jika kemah kita dibongkar, Allah telah menyediakan rumah kekal bagi kita. Kitab Wahyu menggambarkan suasana di sana dengan indah, "Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu" (Wahyu 21:4).

Gambaran keadaan kita di rumah yang kekal sangat kontras dengan keadaan kita dalam kemah kita yang sementara. Itulah kenapa Rasul Paulus dengan yakin berkata dalam Roma 8:18, "Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita."

Bagi saya, ini adalah penghiburan yang incomparable. Tetapi satu hal yang harus diingat bahwa semua hak istimewa ini hanya akan dinikmati oleh kaum pilihan Allah, kaum yang diregenerasikan Allah, kaum yang dipanggil Allah secara efektif, kaum yang beriman dan dibenarkan secara cuma-cuma oleh pengorbanan Yesus Kristus - Sang Pengantara kita (Yohanes 3:16; Kisah Para Rasul 4:12; Roma 8:1; 28-30).

Sedangkan bagi yang lain yang tidak mempercayai Tuhan Yesus Kristus sebagai Penebus mereka akan dibuang keluar dari "rumah" Allah di Sorga ke "rumah" api dalam neraka selama-lamanya sebagai konsekuensi ultimat dari dosa-dosa mereka. Kitab Wahyu menggambarkan suasana itu dengan berkata, "Maka asap api yang menyiksa mereka itu naik ke atas sampai selama-lamanya, dan siang malam mereka tidak henti-hentinya disiksa, yaitu mereka yang menyembah binatang serta patungnya itu, dan barangsiapa yang telah menerima tanda namanya" (Wahyu 14:11).

Satu-satunya hal yang sama antara sorga dan neraka adalah kekekalannya. Di Sorga, kita akan menikmati persekutuan dengan Allah secara kekal. Di neraka, orang-orang tak percaya akan mengalami murka Allah Tritunggal secara kekal.

Jonathan Edwards dalam khotbahnya yang sangat terkenal: Sinners in the Hands of an Angry God berkata mengenai murka Allah dalam neraka yang kekal sebagai berikut: "Murka [Allah] itu berlangsung kekal. Mengalami murka dan kegeraman Allah yang mahakuasa untuk sesaat saja sudah sangat mengerikan, sedangkan Anda harus mengalaminya sepanjang kekekalan. Takkan ada perhentian bagi penderitaan yang luar biasa mengerikan ini. Saat memandang ke depan, Anda akan melihat kekekalan, suatu masa tiada akhir yang ada di hadapan Anda, yang akan menghapus seluruh pemikiran Anda, hingga Anda benar-benar berhenti mengharapkan datangnya pelepasan, perhentian, pengurangan siksaan, dan kedamaian. Anda akan segera tahu bahwa Anda harus menjalani masa-masa yang panjang, berjuta-juta abad, untuk bergumul dan berjuang melawan pembalasan mahadahsyat yang tak mengenal belas kasihan ini. Lalu, setelah menjalaninya, setelah selama berabad-abad melaluinya, Anda akan mendapati semua keadaan itu masih terus berlangsung. Demikianlah, sesungguhnya hukuman Anda akan berlangsung selamanya. Oh, siapakah yang dapat membayangkan keadaan orang yang berada dalam situasi seperti itu! Semua yang dapat kita katakan tentang hal ini, hanya mampu memberikan gambaran, yang sangat lemah dan kabur mengenainya; hal itu sungguh tak terkatakan dan tak terbayangkan, karena 'siapakah yang mengenal kekuatan murka [Allah]?" (dikutip dari Jonathan Edwards, Sinners in the Hands of an Angry God [Surabaya: Momentum, 2010], hal. 43-44).

Itulah deskripsi dari nasib orang-orang tak percaya. Sangat mengerikan!

Sekarang kita kembali kepada masalah awal yang telah saya bicarakan sebelumnya. Hidup itu singkat. Kemah kita akan "dibongkar" suatu saat. Dan kematian bukan akhir dari segalanya seperti klaim Bertrand Russel. Kematian bagi orang percaya merupakan gerbang kepada "rumah" yang kekal di sorga. Heaven is our home. Itulah rumah orang-orang beriman kepada Kristus.

Kematian juga bukan akhir eksistensi dari orang-orang tak percaya kepada Kristus. Tetapi berbeda dengan orang-orang pilihan, kematian bagi orang-orang tak percaya merupakan gerbang menuju "rumah" api yang kekal dalam neraka.

Ditulis oleh: Join Kristian Zendrato

APAKAH TUHAN INGIN SEMUA ORANG DISELAMATKAN? SEBUAH JAWABAN "TIDAK" DARI SAYA!

Oleh: Join Kristian Zendrato

Klaim bahwa Tuhan ingin menyelamatkan semua manusia merupakan klaim popular dalam kekristenan. Tetapi kepopularan tak bisa membuat sebuah klaim menjadi benar. 

Secara pribadi saya tak setuju bahwa klaim di atas benar adanya. Banyak hal yang bisa dijadikan sebagai argumen penolakan terhadap klaim tersebut, tetapi saya akan fokus pada satu argumen saja yakni pemberitaan Injil. 

Saya yakin bahwa pemberitaan Injil akan meruntuhkan klaim popular bahwa Allah ingin semua orang selamat.

Begini. Dalam Kekristenan, salah satu doktrin mendasar adalah sola fide. Sola fide merupakan istilah latin yang artinya faith alone (hanya iman). Maksudnya adalah kita diselamatkan hanya melalui iman kepada Yesus Kristus yang mati dan bangkit (Efesus 2:8-9).

Iman merupakan sebuah sine qua non untuk keselamatan. Iman itu sendiri merupakan pemberian Allah (Efesus 2:8-9; Filipi 1:29). Meskipun begitu, Allah mengaruniakan iman melalui pemberitaan Firman Tuhan. "Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus (Roma 10:17)."

Jadi untuk diselamatkan, seseorang harus beriman kepada Kristus. Supaya seseorang bisa beriman, ia harus mendengar Firman. Lalu bagaimana seseorang bisa mendengar Firman? Jelas salah satunya melalui pemberitaan Firman. 

Paulus menulis tentang hal ini sebagai berikut: "Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis: 'Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!'" (Roma 10:14-15).

Jadi, sekali lagi saya tegaskan bahwa iman merupakan syarat mutlak untuk keselamatan, dan iman itu sendiri merupakan karunia Allah yang diberikan-Nya dengan sarana pemberitaan Firman. 

Nah, sekarang saya akan memberikan argumen penolakan terhadap klaim bahwa Allah ingin semua orang selamat.

Jika Allah menginginkan semua orang untuk selamat, mengapa Injil tidak didengarkan oleh banyak orang sampai mati? Bukankah supaya selamat mereka harus beriman? Dan bukankah supaya mereka beriman, mereka harus mendengarkan Injil (Roma 10:17)? 

Jika Tuhan ingin semua orang untuk selamat, maka seharusnya Injil harus didengar oleh semua manusia. Bukankah aneh jika Tuhan ingin semua orang untuk diselamatkan tetapi Dia membiarkan banyak orang mati tanpa mendengar Injil (yang merupakan sarana supaya seseorang bisa beriman dan diselamatkan)? 

Hal ini harus dipikirkan baik-baik oleh orang-orang yang menjual klaim bahwa Allah menginginkan semua orang untuk selamat. Bagi saya klaim itu adalah omong kosong tak berdasar. 

Jadi, berdasarkan argumen ini, saya menyimpulkan bahwa Allah tak pernah menginginkan setiap orang untuk diselamatkan.

CATATAN SINGKAT TENTANG ALASAN REPROBATION

Oleh: Join Kristian Zendrato

Apakah dasar atau alasan dari reprobation? Sebelum menjawab ini, perlu diingat bahwa seperti yang diutarakan oleh Prof. Louis Berkhof, reprobation itu terdiri dari dua elemen yang harus dibedakan, yakni (1) preterition (pelewatan), dan (2) condemnation (penghukuman).

Maka menurut saya, preterition ini tidak bersyarat, dalam arti Tuhan tidak melewati karena dosa tetapi semata-mata karena kehendak-Nya. Tetapi dalam elemen condemnation, tidak bisa tidak, dosa diharuskan sebagai penyebabnya. 

Hal ini bisa dibandingkan dengan kasus pemilihan (election). Dalam kasus pemilihan, pemilihan itu sendiri berasifat unconditional (tanpa syarat). Sedangkan keselamatan sebagai tujuan pemilihan mempunyai syarat-syarat, seperti regeneration, iman, pembenaran, dsb. Semua syarat-syarat itu akan dan pasti terjadi dalam diri orang pilihan.

Jadi preterition dan pemilihan bersifat bebas. Sedangkan condemnation dan keselamatan itu bersyarat. Syarat condemnation adalah dosa. Syarat keselamatan adalah regeneration, iman, pembenaran, dsb. 

Tetapi perlu digaris bawahi bahwa syarat-syarat keselamatan dibawa secara efektif oleh Allah kepada orang pilihan. Sedangkan syarat condemnation, yakni dosa, datang dari kehendak manusia sendiri. 

Memang dosa pun tercakup dalam ketetapan Allah, tetapi ketika dosa itu terjadi, manusia sendirilah yang menghendaki dan melakukannya, dan dengan demikian bertanggungjawab untuk dosa-dosanya.

GELAR AKADEMIK TAK SELALU MENJAMIN SESEORANG MENGAJARKAN AJARAN YANG BENAR

Oleh: Join Kristian Zendrato

Beberapa waktu yang lalu saya menonton kuliah lama dari R.C. Sproul berjudul "Contradiction vs. Mystery: The Mystery of the Trinity." 

Sproul dalam kuliah itu menceritakan tentang seorang profesor yang suatu kali dalam kelas yang diikuti oleh Sproul membuat pernyataan demikian, "God is absolutely immutable in His essence, and God is absolutely mutable in His essence" (Allah secara absolut tidak berubah dalam esensi-Nya, dan Allah secara absolut berubah dalam esensi-Nya).

Sproul berkata bahwa di antara para mahasiswa yang mendengar hal itu, banyak yang menganggap bahwa pernyataan profesor tersebut sebagai sesuatu yang luar biasa. "That's deep" (Itu mendalam), kata para mahasiswa tersebut.

Tetapi bagi Sproul sendiri, kata-kata profesor tersebut adalah kata-kata yang berkontradiksi, tidak benar dan nonsense. Sproul berkata, "That's nuts. That's whacky" (Itu gila. Itu sinting).

Sproul benar. Karena Allah tidak mungkin absolutely immutable in His essence (secara absolut tidak berubah dalam esensi-Nya) dan absolutely mutable in His essence (secara absolut berubah dalam esensi-Nya) pada saat yang sama. 

Pernyataan profesor itu jelas melanggar hukum non-kontradiksi yang secara sederhana dapat dirumuskan sebagai berikut: A bukan A dan Non-A pada saat yang sama dan dalam relasi yang sama. Demikian juga, Allah tidak bisa memiliki sifat yang tidak berubah dan sifat yang berubah pada saat yang sama dan dalam relasi yang sama. Itu adalah kontradiksi.

Lalu kenapa tetap saja ada orang yang menganggap bahwa pernyataan profesor itu sebagai sesuatu yang luar biasa dan mendalam, padahal itu jelas pernyataan yang kontradiksi?

Sproul mengatakan bahwa, "...if you have enough education and a position of authority in the academic world, you can make nonsense statements and have people walk away impressed by how profound you are."

Terjemahannya sebagai berikut, "...jika Anda memiliki pendidikan yang cukup dan posisi yang berotoritas dalam dunia akademik, Anda dapat membuat pernyataan-pernyataan yang tidak masuk akal [omong kosong] dan membuat orang-orang terkesan oleh betapa dalamnya [pemikiran] Anda."

Kata-kata Sproul ini memang tidak bisa dimutlakkan. Tetapi bagaimana pun, kejadian seperti ini banyak terjadi. Orang-orang yang memiliki kedudukan tertentu, jabatan tertentu seringkali menyatakan banyak omong kosong dan bahkan menyatakan hal-hal yang kontradiksi dan tak masuk akal (absurd), tetapi tetap saja banyak orang yang menyanjung mereka.

Ini jelas bahaya. Dan dalam dunia teologi orang-orang seperti itu banyak. 

Saran saya, jangan hanya gara-gara kedudukan akademis, gelar yang mentereng, maka kita menganggap bahwa kata-kata seseorang itu pasti benar.

Gelar akademik, kedudukan akademik tidak menjamin seseorang mengajarkan hal yang benar. Ujilah segala sesuatu dengan Alkitab, dan jangan lupa juga gunakan selalu akal sehat.

"Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik" (1 Tesalonika 5:21).

Selasa, 18 Januari 2022

ALLAH DAN WABAH COVID-19

Oleh: Join Kristian Zendrato

Kita telah melalui banyak hari dengan berita seputar Covid-19 (Corona Virus Disease 2019) yang melanda dunia. Hingga saat ini, wabah Covid-19 sudah membuat banyak masalah: kematian, ekonomi yang merosot, dan sebagainya. 

Dalam problem seperti ini kita mungkin tergoda untuk berpikir bahwa Allah telah lepas tangan atas dunia. Kita bisa mengakui tangan Allah dalam kondisi yang baik dan aman, tetapi kita kesulitan mengakui tangan-Nya dalam wabah penyakit yang menimbulkan berbagai macam penderitaan. 

Jika kita berpikir seperti itu, saya harus mengatakan bahwa pikiran kita telah jauh melenceng dari ajaran Kitab Suci. 

Saya percaya bahwa Allah tak pernah lepas tangan, dan Covid-19 ini terjadi karena rencana dan ketetapan Allah yang berdaulat. Covid-19 ini tidak pernah mengejutkan Allah. Dan bahkan segala sesuatu yang terjadi tidak pernah mengejutkan Allah, sebab segala sesuatu yang terjadi, betapapun anehnya, dan remehnya terjadi karena Allah menghendakinya untuk terjadi. 

Dalam Matius 10:29-30 Yesus berkata, "Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekor pun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya."

Dalam ayat di atas, Yesus menyebutkan burung Pipit yang harganya sangat murah, tetapi seekor burung pipit itu tidak akan pernah jatuh atau mati (apapun penyebabnya) jika hal itu tidak dikehendaki Allah. Demikian juga rambut kita, semua terhitung oleh Allah yang menunjukkan kepedulian Allah bahkan terhadap hal yang sangat remeh. Dengan demikian rambut kita pun hanya mungkin bisa rontok jika itu dikehendaki Allah. 

Dengan pemahaman seperti itu, saya juga menganggap bahwa jika kejatuhan burung pipit hanya terjadi jika Allah menghendakinya terjadi, maka Covid-19 dan segala sesuatu yang terjadi, terjadi karena Allah menghendakinya terjadi. 

Itulah mengapa, Rasul Paulus berkata dalam Roma 11:33, "Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!"

Dalam ayat itu, Paulus mengajarkan dengan eksplisit bahwa sumber segala sesuatu (dengan demkian termasuk Covid-19) adalah "dari Dia" yakni Allah. 

Dan kebenaran ini kembali ditandaskan oleh Paulus ketika ia berkata bahwa Allah adalah "... Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya" (Efesus 1:11). Ya, segala sesuatu, tidak kurang dari itu. Maksudnya adalah keputusan Allahlah yang menyebabkan segala sesuatu itu terjadi (termasuk Covid-19).

Inilah yang membuat Ayub, setelah ditimpa oleh berbagai macam bencana berseru, "TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!" (Ayub 1:21). Sekali lagi, Ayub mengenali sumber pertama dari penderitaannya yaitu Allah (TUHAN yang mengambil). 

Jadi, apapun yang terjadi tidak pernah membuat Allah menjadi heran atau terkejut karena segala sesuatu yang terjadi merupakan rencana dan ketetapan Allah termasuk Covid-19. Jika ada satu saja yang terjadi yang bisa mengejutkan Allah, maka Allah tidak maha tahu, dan ada sesuatu yang berada di luar kontrol Allah. Dan dengan demikian sesuatu itu melampaui kuasa Allah. Jika itu terjadi maka Allah bukan Allah. Jadi jika ada satu saja yang terjadi di luar rencana dan ketetapan Allah, maka kita harus mempercayai atheisme. 

Jika kita menyetujui poin-poin yang sudah dijabarkan sejauh ini, maka adalah natural untuk bertanya: apa tujuan Allah merencanakan dan menetapkan Covid-19 (dan segala macam penderitaan lainnya)?

Jawaban untuk pertanyaan ini tidak mudah. Tetapi sebelum berusaha menjawab, kita perlu mengingat bahwa penetapan Allah atas segala sesuatu yang terjadi tidak pernah terjadi secara arbitrer. Tetapi tetap terjalin bersama-sama dengan kebijaksanan-Nya dan kekudusan-Nya.

Lalu apa tujuannya Allah merencanakan dan menetapkan segala penderitaan dalam dunia ini? Jawaban untuk ini begitu luas. Setiap kasus yang terjadi memiliki tujuan spesifik di mata Allah. Dan itu bisa saja tidak bisa kita pikirkan secara komprehensif. 

Kita harus menanamkan dalam kepala kita bahwa segala pekerjaan Allah tak mampu kita selami dan pahami secara komprehensif. Finitum non possit capere infinitum. Paulus menulisnya demikian, "O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!" (Roma 11:33).

Tetapi satu hal yang perlu kita aminkan sebagai orang percaya adalah bahwa segala sesuatu yang terjadi, yang merupakan realisasi dari rencana dan ketetapan kehendak Allah yang absolut bertujuan "untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah" (Roma 8:28).

Anda mungkin bertanya kebaikan apa itu? Kebaikan apa yang saya dapatkan atas terjadinya wabah Covid-19 atau penderitaan lainnya? Saya tidak mungkin bisa menjawab hal itu secara komprehensif. Itu bisa saja supaya kita lebih bergantung kepada-Nya, atau supaya kita kembali ke jalan yang benar, atau supaya kita tidak melulu memikirkan dunia dan membawa kita sejenak untuk memikirkan sorga dan neraka, atau supaya kita bisa menunjukkan kasih kita kepada sesama. Dan banyak kemungkinan lainnya. Intinya, bagi kita yang percaya, segala sesuatu yang terjadi membawa kebaikan bagi kita, bahkan jika itu kematian itu hanya membuat kita menjadi bersama-sama dengan Kristus di surga. 

Mempercayai bahwa segala sesuatu yang terjadi merupakan rencana dan ketetapan Allah, dan tidak ada apapun yang terjadi diluar kehendak Allah merupakan "obat kuat" dalam menjalani hidup di dunia ini. Itu berarti hidup dan mati adalah keputusan Tuhan. Sakit atau sehat adalah keputusan Tuhan. 

Jika kita berada dalam bahaya apapun percayalah bahwa Allahlah yang memegang kontrol. Satu helai rambut pun tak akan jatuh kalau dia tak menghendaki. Dan jika kita mengalami hal yang pahit tetap percaya bahwa itupun adalah tangan Allah yang akan selalu membawa maksud baik bagi kita yang percaya.

John Ryland pernah menulis sebuah syair yang sangat indah yang isinya memuat kebenaran ini:

"Plagues and deaths around me fly; Till He bids, I cannot die; Not a single shaft can hit, Till the God of love sees fit."

Terjemahan bebas:

"Penyakit dan kematian melingkupiku; Tapi ajal takkan menjemputku tanpa seizin-Nya; Tak satu pun tongkat yang dapat menyentuhku, Sampai Allah yang kasih memandangnya perlu."

Itulah kata-kata yang keluar dari mulut yang mempercayai penetapan Allah atas segala sesuatu. Tak ada yang bisa terjadi, apa pun itu, di luar ketetapan dan rencana Allah. 

Tetapi saya ingin mengingatkan secara singkat bahwa semua ini tidak boleh membuat kita membuang tanggung jawab kita. Kita tetap wajib melakukan yang terbaik yang kita bisa, tetapi dengan tetap mencamkan bahwa hasil akhir dari segala usaha, bahkan usaha itu sendiri, berada dalam dan tidak pernah terlepas dari rencana dan ketetapan Allah yang absolut.

King MU

https://sepakbolaupdate02.blogspot.com/2026/08/muat.html   https://idn00170.tigoals235.com/football/3048999-Info_LiveStreaming.html