Selasa, 18 Januari 2022

ALLAH DAN WABAH COVID-19

Oleh: Join Kristian Zendrato

Kita telah melalui banyak hari dengan berita seputar Covid-19 (Corona Virus Disease 2019) yang melanda dunia. Hingga saat ini, wabah Covid-19 sudah membuat banyak masalah: kematian, ekonomi yang merosot, dan sebagainya. 

Dalam problem seperti ini kita mungkin tergoda untuk berpikir bahwa Allah telah lepas tangan atas dunia. Kita bisa mengakui tangan Allah dalam kondisi yang baik dan aman, tetapi kita kesulitan mengakui tangan-Nya dalam wabah penyakit yang menimbulkan berbagai macam penderitaan. 

Jika kita berpikir seperti itu, saya harus mengatakan bahwa pikiran kita telah jauh melenceng dari ajaran Kitab Suci. 

Saya percaya bahwa Allah tak pernah lepas tangan, dan Covid-19 ini terjadi karena rencana dan ketetapan Allah yang berdaulat. Covid-19 ini tidak pernah mengejutkan Allah. Dan bahkan segala sesuatu yang terjadi tidak pernah mengejutkan Allah, sebab segala sesuatu yang terjadi, betapapun anehnya, dan remehnya terjadi karena Allah menghendakinya untuk terjadi. 

Dalam Matius 10:29-30 Yesus berkata, "Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekor pun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya."

Dalam ayat di atas, Yesus menyebutkan burung Pipit yang harganya sangat murah, tetapi seekor burung pipit itu tidak akan pernah jatuh atau mati (apapun penyebabnya) jika hal itu tidak dikehendaki Allah. Demikian juga rambut kita, semua terhitung oleh Allah yang menunjukkan kepedulian Allah bahkan terhadap hal yang sangat remeh. Dengan demikian rambut kita pun hanya mungkin bisa rontok jika itu dikehendaki Allah. 

Dengan pemahaman seperti itu, saya juga menganggap bahwa jika kejatuhan burung pipit hanya terjadi jika Allah menghendakinya terjadi, maka Covid-19 dan segala sesuatu yang terjadi, terjadi karena Allah menghendakinya terjadi. 

Itulah mengapa, Rasul Paulus berkata dalam Roma 11:33, "Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!"

Dalam ayat itu, Paulus mengajarkan dengan eksplisit bahwa sumber segala sesuatu (dengan demkian termasuk Covid-19) adalah "dari Dia" yakni Allah. 

Dan kebenaran ini kembali ditandaskan oleh Paulus ketika ia berkata bahwa Allah adalah "... Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya" (Efesus 1:11). Ya, segala sesuatu, tidak kurang dari itu. Maksudnya adalah keputusan Allahlah yang menyebabkan segala sesuatu itu terjadi (termasuk Covid-19).

Inilah yang membuat Ayub, setelah ditimpa oleh berbagai macam bencana berseru, "TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!" (Ayub 1:21). Sekali lagi, Ayub mengenali sumber pertama dari penderitaannya yaitu Allah (TUHAN yang mengambil). 

Jadi, apapun yang terjadi tidak pernah membuat Allah menjadi heran atau terkejut karena segala sesuatu yang terjadi merupakan rencana dan ketetapan Allah termasuk Covid-19. Jika ada satu saja yang terjadi yang bisa mengejutkan Allah, maka Allah tidak maha tahu, dan ada sesuatu yang berada di luar kontrol Allah. Dan dengan demikian sesuatu itu melampaui kuasa Allah. Jika itu terjadi maka Allah bukan Allah. Jadi jika ada satu saja yang terjadi di luar rencana dan ketetapan Allah, maka kita harus mempercayai atheisme. 

Jika kita menyetujui poin-poin yang sudah dijabarkan sejauh ini, maka adalah natural untuk bertanya: apa tujuan Allah merencanakan dan menetapkan Covid-19 (dan segala macam penderitaan lainnya)?

Jawaban untuk pertanyaan ini tidak mudah. Tetapi sebelum berusaha menjawab, kita perlu mengingat bahwa penetapan Allah atas segala sesuatu yang terjadi tidak pernah terjadi secara arbitrer. Tetapi tetap terjalin bersama-sama dengan kebijaksanan-Nya dan kekudusan-Nya.

Lalu apa tujuannya Allah merencanakan dan menetapkan segala penderitaan dalam dunia ini? Jawaban untuk ini begitu luas. Setiap kasus yang terjadi memiliki tujuan spesifik di mata Allah. Dan itu bisa saja tidak bisa kita pikirkan secara komprehensif. 

Kita harus menanamkan dalam kepala kita bahwa segala pekerjaan Allah tak mampu kita selami dan pahami secara komprehensif. Finitum non possit capere infinitum. Paulus menulisnya demikian, "O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!" (Roma 11:33).

Tetapi satu hal yang perlu kita aminkan sebagai orang percaya adalah bahwa segala sesuatu yang terjadi, yang merupakan realisasi dari rencana dan ketetapan kehendak Allah yang absolut bertujuan "untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah" (Roma 8:28).

Anda mungkin bertanya kebaikan apa itu? Kebaikan apa yang saya dapatkan atas terjadinya wabah Covid-19 atau penderitaan lainnya? Saya tidak mungkin bisa menjawab hal itu secara komprehensif. Itu bisa saja supaya kita lebih bergantung kepada-Nya, atau supaya kita kembali ke jalan yang benar, atau supaya kita tidak melulu memikirkan dunia dan membawa kita sejenak untuk memikirkan sorga dan neraka, atau supaya kita bisa menunjukkan kasih kita kepada sesama. Dan banyak kemungkinan lainnya. Intinya, bagi kita yang percaya, segala sesuatu yang terjadi membawa kebaikan bagi kita, bahkan jika itu kematian itu hanya membuat kita menjadi bersama-sama dengan Kristus di surga. 

Mempercayai bahwa segala sesuatu yang terjadi merupakan rencana dan ketetapan Allah, dan tidak ada apapun yang terjadi diluar kehendak Allah merupakan "obat kuat" dalam menjalani hidup di dunia ini. Itu berarti hidup dan mati adalah keputusan Tuhan. Sakit atau sehat adalah keputusan Tuhan. 

Jika kita berada dalam bahaya apapun percayalah bahwa Allahlah yang memegang kontrol. Satu helai rambut pun tak akan jatuh kalau dia tak menghendaki. Dan jika kita mengalami hal yang pahit tetap percaya bahwa itupun adalah tangan Allah yang akan selalu membawa maksud baik bagi kita yang percaya.

John Ryland pernah menulis sebuah syair yang sangat indah yang isinya memuat kebenaran ini:

"Plagues and deaths around me fly; Till He bids, I cannot die; Not a single shaft can hit, Till the God of love sees fit."

Terjemahan bebas:

"Penyakit dan kematian melingkupiku; Tapi ajal takkan menjemputku tanpa seizin-Nya; Tak satu pun tongkat yang dapat menyentuhku, Sampai Allah yang kasih memandangnya perlu."

Itulah kata-kata yang keluar dari mulut yang mempercayai penetapan Allah atas segala sesuatu. Tak ada yang bisa terjadi, apa pun itu, di luar ketetapan dan rencana Allah. 

Tetapi saya ingin mengingatkan secara singkat bahwa semua ini tidak boleh membuat kita membuang tanggung jawab kita. Kita tetap wajib melakukan yang terbaik yang kita bisa, tetapi dengan tetap mencamkan bahwa hasil akhir dari segala usaha, bahkan usaha itu sendiri, berada dalam dan tidak pernah terlepas dari rencana dan ketetapan Allah yang absolut.

APAKAH YUDAS MASUK SURGA BERDASARKAN LUKAS 23:34?

Oleh: Join Kristian Zendrato

Beberapa waktu yang lalu, saya menonton sebuah video dari Channel Youtube sang debaters. Video itu diberi judul: Yudas Masuk Sorga. Seperti judulnya, video itu memang berisi ajaran yang menyatakan bahwa Yudas Iskariot itu masuk surga.

Banyak argumen yang diberikan oleh sang debaters untuk mendukung ajarannya itu. Secara pribadi, saya tidak setuju dengan ajaran itu. Saya percaya bahwa Yudas masuk neraka. 

Di antara argumen-argumennya, salah satu yang mau saya bahas adalah penggunaannya atas teks Lukas 23:34. 

Lukas 23:24 itu berbunyi demikian, "Yesus berkata: "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." Dan mereka membuang undi untuk membagi pakaian-Nya." 

Sang debaters menyatakan bahwa doa pengampunan Yesus itu mencakup Yudas, karena doa itu diucapkan Yesus setelah Yudas mati, bukan sebelum Yudas mati. Kira-kira begitu argumennya.

Perlu dicatat bahwa memang waktu Yesus mengatakan Lukas 23:34 itu, Yudas telah mati (lihat Matius 27:1-10).

Jadi, Apakah pengampunan dalam ucapan Yesus itu mencakup Yudas Iskariot yang telah mati? 

Jika kita hanya berfokus pada Lukas 23:34, maka bisa saja konsep seperti itu diterima. Tetapi itu bukan pilihan yang tepat dalam menafsirkan Alkitab. 

Kita harus melihat bagian-bagian lain dalam Kitab Suci yang mungkin akan memberikan penjelasan akan hal itu, sebab “The principal rule of interpreting Scripture is that Scripture interprets Scripture" (R.C. Sproul).

Jika kita melakukan ini, maka ada beberapa hal yang perlu kita tandaskan. 

Pertama. Alkitab menyebutkan bahwa pada saat seseorang mati maka jiwa atau rohnya akan langsung masuk surga atau neraka (Lukas 16:19-31; Lukas 23:43). Memang pada saat ini hanya jiwa yang masuk surga atau neraka, sedangkan tubuhnya ada dalam kuburan. Nanti pada akhir zaman, tubuh ini akan dibangkitkan dan disatukan dengan jiwa yang sudah ada di surga atau di neraka. 

Berdasarkan poin ini, doa Yesus dalam Lukas 23:34 jelas tidak lagi mencakup Yudas, karena kematian Yudas sudah terjadi sebelum Lukas 23:34. Kematiannya itu membuat Yudas sudah langsung masuk neraka atau surga. Jadi, doa Yesus tidak berefek pada Yudas sama sekali (entah anda percaya dia masuk neraka atau sorga).

Kedua. Alkitab menyebutkan bahwa keadaan setelah kematian itu tetap, tak bisa berubah. Ini terlihat dari kisah Lazarus dan orang kaya dalam Lukas 16:19-31. 

Dalam ayat 26 dinyatakan begini: "Selain dari pada itu di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang."

Ayat di atas secara mutlak menekankan bahwa keadaan setelah kematian itu tetap adanya. 

Berdasarkan poin ini, Doa Yesus tidak mungkin mencakup Yudas yang keadaannya telah tetap pada saat kematiannya. 

Ketiga. Alkitab juga menyebutkan bahwa keadaan seseorang setelah kematian (entah masuk sorga atau masuk neraka) ditentukan oleh hal-hal yang dilakukan dalam hidup ini. 

Dalam 2 Korintus 5:10 dinyatakan, "Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat."

Jadi Tuhan hanya memperhitungkan "yang dilakukannya dalam hidupnya" untuk menentukan keadaan seseorang setelah kematian. Jadi, setelah seseorang mati, tidak peduli apapun yang dilakukan kepadanya oleh orang-orang yang masih hidup, tidak akan pernah berpengaruh padanya sama sekali.

Jadi, doa Yesus pun dalam Lukas 23:34 tidak berpengaruh kepada Yudas sebab Yudas sudah mati sebelumnya.

Jadi, menurut saya, entah Anda percaya Yudas masuk surga atau neraka, adalah tidak sah untuk menggunakan Lukas 23:34 untuk menentukan apakah Yudas masuk surga atau neraka. Kecuali Lukas 23:24 dicomot tanpa memperhatikan data-data lain dalam Kitab Suci.

Oh yah, mungkin anda bertanya-tanya jika benar bahwa jiwa seseorang itu sudah langsung masuk surga atau neraka pada saat ia mati (poin pertama di atas) bukankah dengan demikian penghakiman akhir zaman tidak diperlukan lagi? Lalu apa fungsi penghakiman terakhir kalau begitu? 

Untuk menjawab hal ini, saya akan memberikan kutipan dari seorang teolog Reformed, Prof. Louis Berkhof. Ia menulis sebagai berikut: 

"Penghakiman pada akhir zaman itu berbeda dengan penghakiman yang diberikan ketika seseorang mati. Penghakiman terakhir ini tidak rahasia, tetapi di muka umum, bukan hanya menghakimi jiwa saja, tetapi juga tubuh, tidak saja kepada satu indvidu tunggal, tetapi bagi semua manusia" (dikutip dari Louis Berkhof, Teologi Sistematika 6: Doktrin Akhir Zaman, hal. 136).

ALLAH DAN KETIADAAN (GOD AND NOTHINGNESS)

Oleh: Join Kristian Zendrato

Apa yang anda lihat di dunia ini? Banyak bukan? Ada manusia, binatang, tumbuhan, bulan, bintang, cahaya, matahari, laut, dan seterusnya. 

Di sekolah minggu, kita telah diajarkan bahwa semua itu ada karena diciptakan oleh Allah. 

Tetapi bagaimana jika itu salah? Bagaimana jika sebenarnya semua itu ada begitu saja dari ketiadaan seperti yang dikatakan oleh orang-orang atheis? 

Pertama. Alam semesta tidak mungkin ada dari ketiadaan, karena ketiadaan itu sendiri tidak bisa menghasilkan apa-apa. 

Supaya ketiadaan bisa menghasilkan sesuatu, maka ketiadaan itu haruslah sesuatu. Karna sesuatu yang lain hanya bisa dihasilkan oleh sesuatu pula. Faktanya, ketiadaan itu adalah bukan sesuatu, bukan apa-apa. Karena itu, ketiadaan tak bisa menghasilkan apa pun.

Dalam bahasa Latin, hal ini dinyatakan dalam ungkapan yang sangat terkenal: "ex nihilo nihil fit" (dari ketiadaan tidak muncul apa pun). 

Kedua. Andaikata ketiadaan (ini andaikata yah) bisa menghasilkan sesuatu, maka apa yang dihasilkannya itu tidak mempunyai tujuan untuk eksis. 

Misalnya, jika manusia berasal dari ketiadaan, maka manusia tidak mempunyai tujuan apa pun untuk eksis. Dia juga tidak akan mempertanggungjawabkan apapun karena dia berasal dari ketiadaan.

Jika manusia berasal dari ketiadaan, maka kisah manusia itu akan seperti penggambaran William Shakespeare, "A tale told by an idiot, full of sound and fury, signifying nothing."

Jadi, hanya jika kita percaya kepada Allahlah, kita bisa menjelaskan asal-usul segala sesuatu dan tujuan segala sesuatu itu. 

Jika kita tidak mempercayai Allah, dan menganggap bahwa segala sesuatu itu ada dengan sendirinya dari ketiadaan, maka kita tidak dapat menjelaskan baik asal usul maupun tujuan dari segala sesuatu itu. 

Ingatlah selalu pelajaran Sekolah Minggumu.

YESUSLAH YANG PALING BANYAK BERBICARA MENGENAI DOKTRIN TENTANG NERAKA DAN PENGHUKUMAN KEKAL

Oleh: Join Kristian Zendrato

Jika Anda membaca seluruh Perjanjian Baru, bahkan seluruh Alkitab, maka Anda akan mendapati bahwa orang yang paling banyak berbicara mengenai neraka adalah Tuhan Yesus Kristus.

Periksalah beberapa teks ini: Markus 9:43-48; Matius 10:28; Lukas 12:4-5; Matius 18:8; 25:41, 46; Lukas 16:19-31. Semua referensi tentang neraka dalam teks itu berasal dari Yesus. 

Berikut ini, saya juga ingin memberikan beberapa kutipan dari buku-buku tologi mengenai penegasan bahwa memang Yesuslah yang paling banyak mengajar tentang doktrin neraka.

J. C. Ryle: "Marilah kita mengerti bahwa Tuhan Yesus Kristus berbicara dengan sangat terus terang tentang realitas dan keabadian neraka. Tidak ada mulut yang menggunakan begitu banyak kata untuk menyatakan kengerian neraka seperti mulut Dia yang tentang-Nya orang berkata, 'Belum pernah seorang manusia berkata seperti orang itu!' (Yoh. 7:46)." - dikutip dari buku J. C. Ryle, Aspek-aspek Kekudusan (Surabaya: Momentum), hal. 85.

William G. T. Shedd: "Jesus Christ the person responsible for the doctrine of eternal perdition" [terjemahan: Yesus Kristus adalah pribadi yang bertanggung jawab untuk ajaran atau doktrin penghancuran / penghukuman kekal]. - dikutip dari buku William G. T. Shedd, Dogmatic Theology, third edition, ed. Alan Gomes (Phillipsburg, New Jersey: Presbyterian and Reformed Publishing Company, 2003), hal. 892.

John Piper: "Yesus membicarakan neraka lebih dari orang lain di dalam Alkitab." - dikutip dari buku John Piper, Apa yang Yesus Tuntut dari Dunia (Malang: Literatur SAAT, 2016), hal. 97.

John Piper: "Kata neraka (gehenna) muncul dalam Perjanjian Baru dua belas kali--sebelas kali diucapkan oleh Yesus. Itu bukanlah suatu mitos yang diciptakan oleh para pengkhotbah yang sedih dan marah. Itu adalah peringatan serius dari Anak Allah ..." - dikutip dari buku John Piper, Mendambakan Allah (Surabaya: Momentum, 2017), hal. 59.

Harry Buis: "Fakta bahwa Juruselamat yang penuh kasih dan bijaksana banyak berbicara tentang neraka, lebih daripada semua tokoh lain di dalam Alkitab, jelas membuat kita harus berpikir tentang doktrin penghukuman kekal." - dikutip oleh Anthony A. Hoekema dalam bukunya, Alkitab dan Akhir Zaman (Surabaya: Momentum, 2004), hal. 359. Hoekema mengutip dari buku Harry Buis, Doctrine of Eternal Punishment (Philadelphia: Presbyterian and Reformed, 1957), hal. 33.

Christopher W. Morgan dan Robert A. Peterson: "Setiap penulis Perjanjian Baru berbicara tentang adanya hukuman yang akan datang untuk orang-orang fasik. Tuhan Yesus sendiri yang akan berdiri sebagai pembela utama - baik Thomas Aquinas atau Jonathan Edwards tidak pernah berbicara dengan begitu menakutkan tentang kengerian-kengerian neraka seperti yang dilakukan Yesus. Pasti, kita yang menyebut Yesus 'Tuhan' tidak memiliki hak istimewa untuk menolak atau mengabaikan doktrin yang sangat jelas di dalam Alkitab dan begitu tegas di dalam pengajaran-pengajaran Tuhan kita." - dikutip dari Christopher W. Morgan dan Robert A. Peterson, Hell Under Fire (Malang: Gandum Mas, 2009), hal. 309.

Semua ini membuktikan bahwa Yesus sangat serius mengajarkan doktrin ini. Fakta ini berbeda dengan keadaan kita sekarang. Khotbah-khotbah tentang neraka jarang ditemui, bahkan tak jarang orang-orang percaya berusaha membuat neraka menjadi bahan lelucon.

Ajaran ini perlu dikumandangkan kembali. Jika Yesus mengajarkannya secara kuat, maka tidak ada alasan bagi orang yang menyebut dirinya Kristen untuk mengabaikan atau bahkan menolak doktrin ini.

GAGALNYA POTRET YESUS YANG DIKONSTRUKSI DI LUAR KITAB-KITAB INJIl (FEAT JOHN PIPER)

Oleh: Join Kristian Zendrato

Saya baru saja membaca esai yang bernas dari John Piper berjudul, "Sepatah Kata Kepada Para Sarjana Alkitab (Dan Kepada Mereka yang Bertanya-tanya Apa yang Sedang Mereka Lakukan)." Esai ini terdapat dalam buku Piper: Apa yang Yesus Tuntut Dari Dunia (Malang: Literatur SAAT, 2016), hal. 19-26.

Dalam esainya tersebut, Piper membahas secara singkat mengenai potret Yesus menurut studi kritik historis. Keseluruhan esainya menunjukkan bahwa Piper jelas menolak potret Yesus versi kritik historis tersebut. Masalahnya menurut Piper adalah bahwa potret Yesus menurut studi ini sering dikonstruksi berdasarkan sumber-sumber di luar Kitab-Kitab Injil, sehingga Piper di awal esainya menegaskan, "... berkenaan dengan penyelidikan-penyelidikan tentang Yesus menurut sejarah bukan berarti bahwa tidak ada yang pasti yang dapat dikatakan tentang Yesus, melainkan usaha di luar ke-4 Kitab Injil membawa orang kepada lautan spekulasi yang tidak akan tiba pada pulau manapun yang dapat disebut potret Yesus yang dapat dipercaya" (Piper, Sepatah Kata Kepada Para Sarjana Alkitab, hal. 19).

Apa yang dikatakan Piper disubstansiasi dengan fakta bahwa penyelidikan-penyelidikan tentang Yesus dengan metode kritik historis terus menerus menghasilkan potret Yesus yang tidak konstan.

Piper menyatakan bahwa menurut para sarjana, ada tiga (tahap) penyelidikan tentang Yesus menurut sejarah (The Historical Jesus). 

Penyelidikan pertama berakar pada zaman Benedict Spinoza (1632-1677), yang dilanjutkan Herman Remairus (1694-1768), David Friedrich Strauss (1808-1874), William Wrede (1859-1906), dan lain-lain. Tetapi potret Yesus dalam penyelidikan pertama ini kemudian diserang oleh Albert Schweitzer (1875-1965), dan Martin Kahler (1835-1921), yang juga memperkenalkan potret Yesus menurut versi mereka sendiri.

Setelah penyelidikan pertama gagal, penyelidikan kedua dibangkitkan oleh seorang Jerman dan murid Rudolf Bultman bernama Ernst Kasemann pada tahun 1953. Tetapi, seperti penyelidikan pertama, penyelidikan kedua juga gagal. Piper secara pribadi berkomentar, "... dan penyelidikan ini telah memberi saya sekam dan abu" (Piper, Sepatah Kata Kepada Para Sarjana Alkitab, hal. 21). 

Setelah penyelidikan kedua gagal, muncullah penyelidikan ketiga tentang Yesus menurut sejarah. Untuk deskripsi mengenai penyelidikan ini, Piper mengutip Beb Witherington III, penulis The Jesus Quest: The Third Search for the Jew of Nazareth (Downers Grove, Ill.: Intervarsity Press, 1995). Witherington menyatakan bahwa penyelidikan ketiga ini "dimulai pada awal 1980, dipicu oleh beberapa data baru dari arkeologi dan manuskrip, beberapa perbaikan metodologis, dan antusiasme baru bahwa penelitian historis tidak perlu menuju jalan buntu" (Witherington, The Jesus Quest, hal. 12-13. Dikutip Piper, Sepatah Kata Kepada Para Sarjana Alkitab, hal. 22). 

Sampai sekarang penyelidikan ketiga ini masih berlangsung.

Gambaran-gambaran mengenai jatuh bangunnya penyelidikan-penyelidikan tentang Yesus menurut sejarah menunjukkan bahwa apa yang ditandaskan oleh Piper pada awal esainya adalah benar, bahwa memang potret Yesus yang dikonstruksi di luar ke-4 Kitab Injil hanya membawa orang kepada lautan spekulasi yang tidak akan tiba pada pulau manapun yang disebut sebagai potret Yesus yang sesungguhnya. 

Tetapi tunggu dulu, bukankah penyelidikan ketiga ini dikatakan masih berlangsung? Ya, tetapi Piper menilai bahwa usaha ini pun akan segera gagal dan dilupakan jika usaha ini menyimpang dari Injil Perjanjian Baru (mungkin akan digantikan lagi oleh penyelidikan keempat).

Piper menyertakan lima alasan untuk mendukung penilaiannya. Tetapi demi keringkasan, saya hanya akan menyinggung alasan yang kedua. 

Piper menyatakan bahwa usaha penyelidikan ketiga akan terus gagal jika menyimpang dari Injil PB karena telah banyak literatur dari pihak Kristen yang menyajikan kontra argumen terhadap penyelidikan ketiga dan penyelidikan pada umumnya. Piper menulis, "Allah telah membangkitkan beberapa generasi sarjana-sarjana yang teliti, bersemangat dan setia, yang tidak takut akan kritik-kritik yang radikal, dan yang dengan setia melanjutkan usaha mereka mendirikan kredibilitas keempat Injil secara historis" (Piper, Sepatah Kata Kepada Para Sarjana Alkitab, hal. 23).

Membaca penandasan Piper di atas, saya hanya ingin berkata: syukur kepada Allah Tritunggal. Amin. 

Ini adalah kabar baik bagi kita sebagai orang percaya. Sekarang pilihan di tangan kita, entah kita mau belajar atau tidak.

KOMENTAR SINGKAT MENGENAI KLAIM ORIGINALITAS IDE ATAU PEMIKIRAN

Oleh: Join Kristian Zendrato

Saya sudah sering mendengar tentang orang-orang yang kelihatannya menganggap bahwa pemikiran-pemikiran mereka (setidaknya sebagian) benar-benar original, yang berarti bahwa pemikiran yang sedang mereka utarakan belum pernah eksis sebelumnya. 

Mereka yang beranggapan seperti itu, jika mereka seorang dosen atau pengajar sering menuntut muridnya untuk menghasilkan pemikiran-pemikiran yang original pula. Ini khususnya mereka harapkan kala berdiskusi, atau kala murid sedang dalam proses menulis makalah atau karya ilmiah. 

Saya pernah mengalami itu. Dan kali ini, saya akan berargumen bahwa itu sangatlah absurd.

Saya beranggapan bahwa semua pemikiran-pemikiran di dunia ini termasuk dalam dunia teologi tidak ada yang benar-benar original (dalam pengertian belum pernah esksis sebelumnya). Semua pemikiran kita telah dipikirkan oleh banyak orang sebelumnya. Kita (entah suka atau tidak suka) hanya mengulang pemikiran-pemikiran sebelumnya. 

Kita bisa saja memberikan istilah-istilah baru untuk sesuatu, tetapi makna yang terkandung dalam istilah-istilah itu telah eksis berabad-abad sebelumnya. 

Dalam dunia teologi, tidak ada ahli teologi yang benar-benar original pemikirannya. Teolog-teolog Reformed misalnya berhutang banyak pada pemikiran-pemikiran John Calvin dan tokoh lainnya. Calvin sendiri berhutang kepada bapa-bapa Gereja (khususnya Augustinus). Bapa-bapa Gereja berhutang kepada tokoh-tokoh lain atau Kitab Suci. Penulis-penulis Kitab Suci berhutang kepada Allah sebagai pewahyu. 

Jadi, pada analisis terakhir, Allah lah yang benar-benar original. 

Pemikiran-pemikiran kita sekarang banyak dipengaruhi oleh sumber lain (yang entah sudah kita lupakan atau masih ingat). Itu mungkin berasal dari buku, khotbah, diskusi, kuliah, atau seminar yang telah kita baca atau dengar bertahun-tahun yang lalu. Pemikiran-pemikiran kita berhutang pada masa lalu. Itu tidak original. 

Pengkhotbah mengingatkan, "Apa yang pernah ada akan ada lagi, dan apa yang pernah dibuat akan dibuat lagi; tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari. Adakah sesuatu yang dapat dikatakan: 'Lihatlah, ini baru!'? Tetapi itu sudah ada dulu, lama sebelum kita ada" (Pengkhotbah 1:9-10).

Dengan penjelasan ini, saya terus terang heran dengan orang-orang yang anti kutipan. 

Saya sendiri sering mengutip pemikiran orang lain ketika saya menulis, mengajar, atau berkhotbah. Dan bagi saya sendiri, tidak ada masalah dalam tindakan mengutip pemikiran orang lain, asal disertai dengan alamat sumber, dan dikutip tanpa out of context. Itu adalah tindakan jujur dan terpuji. 

Sebaliknya, adalah memalukan untuk mengutarakan suatu pemikiran dan memproklamasikan pemikiran itu sebagai pemikiran original kita padahal itu adalah pemikiran orang lain. Itu simply tidak jujur.

MENJAWAB ARGUMENTASI GEMBEL ZAKIR NAIK

Oleh: Join Kristian Zendrato

Siang ini kami bertiga (Pak Syukur, Pak Eka, dan Saya sendiri) kala berbincang-bincang di kantor entah kenapa menyinggung salah satu pertanyaan Zakir Naik yang berbunyi kurang lebih demikian, "Di manakah dalam Alkitab Yesus pernah berkata, "Aku Allah, sembahlah Aku!"?

Nah, saya sudah sering mendengar pertanyaan ini dikumandangkan oleh Zakir Naik di Youtube. Ketika Zakir Naik bertanya "Di manakah dalam Alkitab Yesus pernah berkata, "Aku Allah, sembahlah Aku!"?, sebenarnya dia sedang ingin membuktikan bahwa Yesus bukan Allah. Jadi, sebenarnya Zakir Naik, melalui pertanyaannya itu sedang berargumen bahwa karena Yesus tidak pernah mengatakan dalam Alkitab "Aku Allah, sembahlah Aku," maka Yesus bukan Allah. 

Kira-kira begitulah rekonstruksi argumen dari Zakir Naik. 

Bagi saya sendiri, ini adalah argumentasi gembel yang tidak sah sama sekali untuk membuktikan bahwa Yesus bukan Tuhan. 

Langsung saja. Begini, identitas seseorang itu tidak serta merta hanya bisa dibuktikan dengan pengakuan langsung dari orang yang bersangkutan. Banyak cara lain. 

Misalnya, kalau ada seorang cewek masuk ke dalam sebuah ruangan, maka kemungkinan besar, kita akan langsung bisa mengidentifikasi orang itu sebagai cewek, tanpa pengakuan langsung dari orang itu bahwa ia seorang cewek. 

Pertanyaannya, mengapa kita langsung bisa mengidentifikasi orang itu sebagai cewek tanpa pengakuan langsung dari orang itu bahwa ia seorang cewek? Jawabannya karena meskipun dia tidak melakukan pengakuan langsung bahwa ia adalah seorang cewek, tetapi dari ciri-cirinya, kita sudah bisa langsung menyimpulkan bahwa dia cewek. 

Contoh lain. Kalau kita melihat Zakir Naik sedang ceramah di Youtube, kita sadar bahwa Zakir Naik adalah manusia tanpa pengakuan langsung dari Zakir Naik, "Aku manusia." 

Pertanyaannya, mengapa kita bisa menyimpulkan bahwa Zakir Naik adalah seorang manusia tanpa menunggu pengakuan langsung darinya bahwa ia adalah manusia? Jawabannya adalah meskipun ia tidak mengaku secara langsung bahwa ia adalah manusia, tetapi dari ciri-cirinya kita bisa menyimpulkan bahwa ia adalah manusia. 

Jadi dari dua contoh di atas, kita bisa melihat bahwa identitas seseorang itu tidak hanya bisa dibuktikan dengan mendengar pengakuan langsung dari orang itu, tetapi bisa dengan cara lain, seperti melihat ciri-cirinya, dsb. 

Jadi menurut saya, dalam kasus mengenai Yesus, tidak ada keharusan bagi orang Kristen untuk mencari pembuktian bagi Keilahian Yesus berdasarkan kata-kata langsung dari Yesus "Aku Allah, sembahlah Aku!" 

Sebab seandainya Yesus tak pernah mengaku secara langsung "Aku Allah, sembahlah Aku!", maka itu tak membuktikan bahwa Yesus bukan Allah, karena identitas Yesus sebagai Allah itu bisa terlihat dari ucapan-ucapan atau tindakan-tindakan-Nya.

Mari kita pertimbangkan data-data berikut. 

Dalam Matius 9:2 & 6, Yesus mengklaim bahwa Ia bisa mengampuni dosa. Kemudian dalam Yohanes 3:13, Yesus mengklaim bahwa Ia turun dari Sorga. Kemudian dalam Yohanes 8:58, Yesus berkata bahwa Ia sudah ada sebelum Abraham. Padahal Abraham sudah lama meninggal. Dalam Yohanes 14:13-14 Yesus mengklaim bahwa Ia bisa mengabulkan doa. Yesus juga mengklaim bahwa Dia akan datang sebagai Hakim pada akhir zaman (bdk. Mat. 25:31-32; Yoh. 5:22,27). Akhirnya Dia berkata bahwa Ia bisa menyuruh malaikat (Mat. 13:41).

Nah, dari data-data Alkitab di atas, semua tindakan dan ucapan-ucapan Yesus itu, meminjam kata-kata Millard J. Erickson, "tidak pantas diucapkan seandainya itu diucapkan oleh seorang yang bukan Allah" (Millard J. Erickson, Teologi Kristen, vol. 2, hal. 318).

Jadi, semua tindakan dan ucapan Yesus dalam tek-teks yang telah dikutip di atas hanya masuk akal jika Yesus benar-benar Allah. Karena orang biasa, tak mungkin menyuruh malaikat, sudah ada sebelum Abraham, atau turun dari Sorga. 

Nah, jadi Yesus tak perlu banget untuk membuat pengakuan langsung "Aku Allah, sembahlah Aku!" untuk membuktikan bahwa Dia adalah Allah, seperti yang dituntut oleh Zakir Naik. Identitas Yesus sebagai Allah bisa terbukti dari ciri-ciri-Nya (tindakan dan ucapan-Nya), sebagaimana Zakir Naik tidak perlu mengaku secara langsung "Aku manusia," untuk membuktikan bahwa ia adalah manusia. Karena dari ciri-cirinya, kita sudah bisa menyimpulkan bahwa Zakir Naik itu memang manusia. 

Dari semua penjelasan di atas, saya harus menyimpulkan bahwa argumentasi Zakir Naik untuk menolak Yesus sebagai Allah tidak lebih dari sebuah argumen gembel yang tidak akan pernah dipuja dan dipercaya oleh manusia waras di bumi ciptaan Tuhan ini, kecuali oleh orang-orang yang IQ-nya minus 212.

Sebenarnya banyak argumen-argumen lain yang bisa digunakan untuk menghancurkan propaganda Zakir Naik. Tapi saya pikir, ini sudah lebih dari cukup. 

Yesus adalah Tuhan.

King MU

https://sepakbolaupdate02.blogspot.com/2026/08/muat.html   https://idn00170.tigoals235.com/football/3048999-Info_LiveStreaming.html