Selasa, 18 Januari 2022

MENGGELIKANNYA MENJAWAB PERTANYAAN "APA KABAR?" DENGAN KATA-KATA "LUAR BIASA"

Oleh: Join Kristian Zendrato

Entah berapa kali saya mendengar banyak orang, entah di kampus, di Gereja, dan tempat lainnya sering menjawab "luar biasa" saat mereka ditanya "apa kabar?"

Sepintas lalu, jawaban "luar biasa" itu terkesan menunjukkan tingkat kerohanian yang tinggi. Tetapi setelah memikirkan lebih dalam, saya mendapati bahwa jawaban "luar biasa" itu agaknya menggelikan.

Pernahkah anda berpikir apa arti dari "luar biasa" itu? Bagi saya sendiri "luar biasa" (extraordinary) berarti aneh, tidak beroperasi seperti biasanya, atau berjalan secara berbeda bahkan menyimpang dengan tatanan yang ada.

Untuk menjelaskan maksud saya maka saya akan memberikan contoh.

Di bumi ini, jika kita melempar batu ke atas, maka batu itu akan kembali ke bawah. Nah, peristiwa itu disebut "biasa." Tetapi seandainya seseorang melempar batu ke atas, dan batu itu tidak pernah kembali ke bawah (kecuali nyangkut yah, itu ceritanya beda), atau batunya terus ke atas menembus langit, maka itu di sebut "luar biasa." Kenapa disebut "luar biasa"? Karena peristiwa itu berjalan atau beroperasi secara berbeda dengan tatanan yang ada. Peristiwa itu aneh.

Atau contoh lain, misalnya kalau kita melihat seseorang yang sedang mengeluarkan air mata, kita akan memaklumi hal itu, karena itu hal "biasa." Dia mungkin sedang sedih atau bahagia. Tapi coba bayangkan kalau kita melihat seseorang terus menerus mengeluarkan air mata tanpa pernah berhenti. Peristiwa itu jelas "tidak biasa." Itu peristiwa "luar biasa." itu aneh.

Atau contoh lain. Manusia normal, paru-parunya ada di dalam, dan tak kelihatan dari luar. Kita menyebut itu "biasa." Sekarang coba bayangkan kalau anda melihat seseorang yang paru-parunya berada di luar berjalan ke sana ke mari dan menyapa anda? Itu jelas aneh, tidak biasa. Nah, justru hal yang tak normal itulah yang "luar biasa."

Dari defenisi mengenai "luar biasa" dan contoh-contoh di atas, menurut saya adalah menggelikan untuk terus menerus menjawab pertanyaan "apa kabar?" dengan kata-kata "luar biasa."

Sebab waktu Anda mengatakan "luar biasa" itu artinya anda sedang mengakui bahwa anda sedang hidup aneh, dan berbeda dengan tatanan yang ada. Padahal kalau kita lihat keadaan Anda, Anda terlihat biasa-biasa saja. Paru-parunya masih di dalam. Lalu apa yang luar biasa? Apa karena anda lagi bahagia? Hah, bahagia itu "biasa" juga kok. Sedih juga "biasa." Dua-duanya biasa. Justru yang "luar biasa" adalah jika anda tak pernah bahagia atau sedih.

Luar biasa itu hanya cocok untuk Allah. Hanya Allah yang luar biasa. Itu dikarenakan Dia sepenuhnya berbeda dengan kita yang biasa, atau dalam kata-kata Karl Barth, Dia adalah "The Wholly Other."

Jadi menurut saya kalau kita ditanya "apa kabar" maka jawablah dengan sederhana: "seperti biasa, baik."

Kita memang biasa, dan biasa itu indah. Biasa itu normal.

JIKA ITU "KAIROS"KU BAGAIMANA?

Oleh: Join Kristian Zendrato

Dalam bahasa Yunani ada dua kata yang bisa diterjemahkan waktu, yakni kronos dan kairos. Kronos adalah waktu yang terus menerus berlanjut dan tetap ada. Dari sinilah kita mendapat istilah kronologi. Sedangkan kairos adalah momen tertentu yang terjadi suatu waktu ditengah-tengah waktu yang terus berlanjut. Kalau kronos selalu ada, kairos itu kadang-kadang ada. Oleh karena itu kairos sering diterjemahkan sebagai kesempatan.

Masing-masing kita mempunyai kairos atau kesempatan-kesempatan tertentu sepanjang kehidupan kita. Kairos kita bentuknya macam-macam, misalnya: pertemuan dengan seseorang, permintaan maaf, lowongan kerja, pelayanan, dan sebagainya.

Anda kadang tidak akan mendapatkan kairos dua kali. Jadi, ada hal-hal tertentu di mana kita tidak bisa tidak harus mengambil keputusan pada detik itu, karena bisa saja kairos hari ini tidak akan pernah muncul besok.

Untuk itu jangan terlalu cepat untuk menyalahkan seseorang jika ada keputusan-keputusan yang diambilnya bahkan dalam waktu cepat dan beresiko. Mungkin saja dia sedang mendapatkan kairos yang esok belum tentu ada. Itulah kenapa Heraklitus pernah berkata, “You cannot step twice to the river, for the fresh waters are ever flowing upon you” (artinya: kamu tidak akan dapat terjun pada sungai yang sama untuk ke dua kalinya karena air sungai itu telah mengalir). 

Sampai di sini paham yah?

Selasa, 28 Januari 2020

RAMBUTAN & KEBERADAAN ALLAH

Oleh: Join Kristian Zendrato

Selama liburan semester genap ini, saya menghabiskan waktu libur di kampus. Beruntungnya, musim rambutan juga sedang berlangsung. Buah rambutan di sini rasanya manis. Mantap pokoknya.

Saya memperhatikan bahwa batang rambutan, daunnya, buahnya - semuanya merupakan desain yang sangat rumit. Batangnya, daunnya, buahnya, mempunyai desain yang lebih rumit dari desain botol minuman mineral, lebih rumit dari desain gelas kaca, lebih rumit dari desain sandal jepit swallow. Wow deh pokoknya.

Itu masih rambutan, belum lagi kalau kita berbicara tentang seluruh alam semesta. Pasti desainnya luar biasa rumit dan megah luar biasa.

Waktu kita melihat pohon rambutan, kita tidak mungkin berpikir bahwa pohon rambutan itu ada dengan sendirinya. Saya percaya bahwa entah botol mineral atau sandal jepit swallow tidak pernah ada dengan sendirinya. Kita percaya bahwa barang-barang itu pasti diciptakan. Itu berarti rambutan juga tidak mungkin ada dengan sendirinya. Pasti ada Penciptanya. Siapakah Dia? Pasti bukan manusia, karena manusia tidak bisa membuat pohon rambutan.

Nah itu baru rambutan, belum lagi alam semesta yang luar biasa rumit dan megah, pasti tidak mungkin ada dengan sendirinya. Pasti ada Penciptanya.

Saya percaya bahwa ini justru bisa menjadi salah satu argumen tentang keberadaan Allah sebagai Pencipta. Allahlah pencipta rambutan dan seluruh alam semesta. Kalau bukan Allah, lalu siapa? Tak mungkin semua itu ada dengan sendirinya, seperti sandal jepit swallow tak mungkin ada sendirinya.

Allahlah yang menciptakan rambutan dan alam semesta. Dalam Kejadian 1:1 dinyatakan secara jelas bahwa "Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi."

APA MAKNA DARI KETIDAKBERUBAHAN ALLAH?

Oleh: Join Kristian Zendrato

Dulu, waktu mendengar mengenai 'ketidakberubahan Allah', saya mengalami kesulitan untuk memahaminya. Dalam pikiran saya, sesuatu itu dikatakan berubah bahkan jika hanya melakukan gerakan. Lalu saya berkesimpulan bahwa itu berarti Allah tidak bergerak sama sekali, karena Ia tidak berubah.

Tetapi saya semakin bingung ketika mempelajari bagian-bagian dalam Alkitab yang menunjukkan keaktifan Allah dalam bertindak. Saya berpikir, bahwa seharusnya Allah tidak bertindak, karena tindakan pasti bertentangan dengan ketidakberubahan. Jika Ia melakukan A hari ini maka bukankah Ia sedang berubah dari tidak melakukan A menjadi melakukan A.

Dalam kebingungan itu, saya berusaha mencari tahu. Ternyata, setelah membaca cukup banyak buku tentang hal itu, saya mendapati bahwa ketidakberubahan Allah tak berarti Allah tak bisa bergerak sama sekali. Waktu Allah dinyatakan tidak berubah, maka maksudnya adalah Dia tidak berubah dalam Natur-Nya, sifat-sifat-Nya, dan janji-janji-Nya. Dia tidak bisa menjadi tidak kudus, menjadi tak sempurna, dst. Itulah makna ketidakberubahan Allah.

By the way, buku yang sangat membantu saya memahami hal ini dulu adalah buku Louis Berkhof, Teologi Sistematika I: Doktrin Allah (Jakarta: Lembaga Reformed Injili Indonesia, 1993), hal. 92-94.

REFLEKSI SINGKAT TENTANG KEMATIAN

Oleh: Join Kristian Zendrato
 
Dalam beberapa minggu terakhir ini, saya kehilangan 2 orang yang pastinya sangat saya cintai: kakek (ayah dari mama; 6 Desember 2019) dan keponakanku Faldi (28 Desember 2019). Kematian memang mengerikan, ia tak pandang bulu. Seandainya saya tak percaya akan kehidupan setelah kematian seperti disaksikan dalam Perjanjian Baru, maka pastinya tak ada pengharapan bagi orang-orang yang pergi meninggalkan kita. Tetapi saya percaya akan hal itu, sehingga itu cukup menjadi penghiburan.

Kematian tidak bisa kita usir, dia datang kepada orang kaya dan miskin, berkedudukan dan rakyat biasa. Bahkan ketika kita mengabaikannya, kematian tetap akan datang kepada siapa pun, seperti yang dinyatakan oleh Richard L. Pratt, "Kematian tidak akan pergi ketika kita mengabaikannya" (Richard L. Pratt, Designed for Dignity, p. 68).

Refleksi tentang kematian sebenarnya membuat kita sadar bahwa kita ini fana dan terbatas oleh waktu. Kita hanya hidup dan bernafas selama waktu yang ditetapkan bagi kita. Untuk itu tinggalkanlah kesombongan, dengki, kebencian. Sebaliknya usahakanlah damai, kasih dan empati kepada sesama selama hidup.

Saya mau menutup tulisan ini dengan sebuah ungkapan dari bahasa Latin: memento mori (artinya: ingat kita pasti akan mati).

HUKUMAN KEKAL TIDAK ADIL? JAWABAN DARI JONATHAN EDWARDS

Oleh: Join Kristian Zendrato
 
Keberatan umum yang ditujukan untuk menolak doktrin Hukuman Kekal dalam Neraka adalah bahwa itu tidak adil. Terhadap keberatan ini, Teolog Reformed, Jonathan Edwards memberikan jawaban sebagai berikut:
"Kejahatan dari seseorang adalah memandang rendah dan melemparkan penghinaan kepada orang lain, secara sebanding lebih kurang kejam, tatkala ia berada di bawah kewajiban yang lebih besar atau kecil untuk menaatinya. Dan oleh sebab itu, jika ada keberadaan apa pun yang terhadapnya kita berkewajiban secara tidak terbatas untuk mengasihi, dan menghormati, dan menaatinya, maka yang berlawanan terhadap keberadaan itu tentulah bersalah secara tidak terbatas. Kewajiban kita untuk mengasihi, menghormati, dan menaati keberadaan apa pun sebanding dengan keelokannya, kelayakannya untuk dihormati, dan otoritasnya. ... Namun Allah adalah satu keberadaan yang tidak terbatas eloknya, karena Ia memiliki kecemerlangan dan keindahan yang tidak terbatas. ... Jadi, dosa melawan Allah, suatu pelanggaran atas kewajiban-kewajiban yang yang tidak terbatas, pastilah suatu kejahatan yang tidak terbatas kejamnya, dan oleh sebab itu layak mendapatkan hukuman yang tidak terbatas. ... Kekekalan dari hukuman atas orang-orang yang tidak beriman membuatnya menjadi tidak terbatas ... dan oleh karena itu membuatnya semata-mata sebanding dengan dengan kekejaman atas apa kebersalahan mereka."
Sumber: Jonathan Edwards, "The Justice of God in the Damnation of Sinners," dalam The Works of Jonathan Edwards, vol. 1 (Edinburgh: Banner of Truth, 1974), hal. 669, dikutip oleh John Piper, Mendambakan Allah: Meditasi Seorang Hedonis Kristen, hal. 61.

Jumat, 08 November 2019

APAKAH MANUSIA BERDOSA DAPAT DATANG KEPADA KRISTUS DENGAN KEMAMPUANNYA SENDIRI?

Oleh: Join Kristian Zendrato

Datang dan menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat satu-satunya merupakan satu-satunya cara supaya manusia berdosa dapat diselamatkan (bdk. Kis. 4:12). Kemudian, jika seseorang akhirnya memutuskan untuk datang dan menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya, kita mungkin bertanya apa yang membuat seseorang itu pada akhirnya memutuskan untuk melakukan hal itu? Apakah itu terjadi karena inisiatifnya sendiri? Apakah itu terjadi karena memang ia mampu dengan kekuatan sendiri untuk datang kepada Kristus?

Jika kita membaca Alkitab dengan teliti, jawaban yang pasti untuk pertanyaan di atas adalah tidak. Sebab Alkitab menggambarkan manusia sebagai manusia yang berdosa, memusuhi Allah dan dengan demikian tidak pernah menginginkan Kristus secara alami.

Jika pada akhirnya, ia memutuskan untuk menerima Kristus, pasti ada sesuatu di luar dirinya yang membuat ia melakukan hal itu. Yesus mengerti problem manusia ini, sehingga misteri ini juga dibukakan oleh Yesus Kristus sendiri. Dalam Yohanes 6:65, kita membaca kata-kata Kristus sebagai berikut: “… Tidak ada seorangpun dapat datang kepada-Ku, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya.”

R.C Sproul telah menjelaskan teks ini dengan sangat baik dalam bukunya Umat Pilihan Allah.[1] Saya akan meringkas penjelasan Sproul tersebut berikut ini:

Pertama, berkenaan dengan kata-kata “tidak ada seorangpun” dalam teks itu, Sproul menyebutnya sebagai universal negative, yang berarti mencakup semua orang tanpa terkecuali.

Kedua, berkenaan dengan kata “dapat” dalam teks itu, Sproul menyatakan bahwa “Ini menunjuk pada suatu kemampuan, bukan menyatakan ijin.”

Ketiga, berkenaan dengan kata-kata, “kalau … tidak” dalam teks itu, Sproul menyatakan bahwa itu “menunjukkan pada apa yang merupakan suatu ‘kondisi yang harus’ (necessary condition). Suatu keharusan yang menunjukkan bahwa itu harus terjadi sebelum hal berikutnya dapat terjadi.”
                                             
Apa keharusan yang harus terjadi itu terlebih dahulu? Tidak lain adalah: “Bapa … mengaruniakan kepadanya.” Ini adalah penyebab supaya hal berikutnya bisa terjadi, yakni: “dapat datang kepada-Ku [Yesus].” Dengan kata lain, supaya seseorang bisa datang kepada Kristus, Bapa terlebih dahulu harus bekerja dalam hati orang tersebut. Tanpa pekerjaan Bapa terlebih dahulu dalam hati manusia, maka siapapun tidak dapat datang kepada Kristus.

Teks kedua yang akan saya bahas adalah Yohanes 6:44, di mana Yesus berkata: “Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman.”

Dalam teks tersebut, lagi-lagi kita diberitahukan secara negativ bahwa seseorang tidak dapat datang kepada Yesus, kalau Bapa tidak bertindak terlebih dahulu. Secara positif dapat dinyatakan bahwa seseorang dapat datang kepada Kristus, karena Bapa telah terlebih dahulu bertindak dalam hati orang itu.

Penting untuk diperhatikan bahwa tindakan yang dilakukan oleh Bapa supaya seseorang dapat datang kepada Kristus adalah “menarik” orang itu. Apa yang dimaksud dengan Bapa menarik manusia datang kepada Kristus? Sproul mengatakan bahwa ada orang-orang yang menafsirkan kata “tarik” dalam teks itu sebagai “merayu” atau “membujuk.” Sproul menulis:

Saya sering mendengar teks ini dijelaskan bahwa Bapa harus merayu atau membujuk untuk datang kepada Kristus. Apabila pembujukan ini tidak dilakukan, maka tak seorang akan datang kepada Kristus. Dan manusia memiliki kemampuan untuk melawan bujukan dan menolak rayuan tersebut. Meskipun pembujukan itu merupakan suatu keharusan, namun pembujukan itu tidak dapat memaksa manusia untuk melakukannya. Dalam bahasa filsafat dapat dikatakan bahwa penarikan oleh Bapa merupakan suatu kondisi yang cukup untuk membawa manusia kepada Kristus. Dalam bahasa yang lebih sederhana dapat dikatakan bahwa kita tidak dapat datang kepada Kristus tanpa bujukan, namun bujukan itu tidak menjamin bahwa kita pasti akan datang kepada Kristus.[2]

Tafsiran di atas, bagi saya menggambarkan Allah yang sangat loyo dan terbatas, sebab Dia sepertinya tidak dapat merealisasikan kehendak-Nya. Ia berusaha membujuk manusia supaya datang kepada Kristus dan diselamatkan, tetapi banyak orang akhirnya menolak Kristus.

Juga, jika kita mengikuti tafsiran di atas, maka pada analisis terakhir, keselamatan manusia berada dalam tangan manusia sendiri. Setidaknya, manusia memiliki sedikit andil dalam keselamatannya. Suatu doktrin yang jelas dikutuk dalam Perjanjian Baru.

Tafsiran yang seperti itu jelas keliru. Kata Yunani yang dipakai untuk kata “tarik” dalam teks di atas adalah elko. Dalam Kittel’s Theological Dictionary of The New Testament – sebagaimana dikutip oleh R.C Sproul – kata itu didefenisikan sebagai: “membuat/memaksa seseorang untuk melakukan sesuatu dengan otoritas yang tidak dapat ditolak.” Sproul melanjutkan dengan berkata, “Secara linguistik maupun dari lexicon, kata tersebut berarti: ‘to compel’ (memaksa seseorang untuk melakukan sesuatu).[3]

Sproul kemudian memberikan beberapa contoh teks lain dalam Perjanjian Baru di mana kata elko digunakan. Dalam Yakobus 2:6 dinyatakan, “Tetapi kamu telah menghinakan orang-orang miskin. Bukankah justru orang-orang kaya yang menindas kamu dan yang menyeret kamu ke pengadilan?” Dalam Yakobus 2:6 tersebut kata yang sama artinya dengan “tarik” dalam Yohanes 6:44 adalah “menyeret.” Sekarang, cobalah mengganti kata “menyeret” dengan kata “merayu” atau “membujuk.” Bukankah teks itu akan menjadi lelucon?

Ayat lain yang mengandung kata elko adalah Kisah Para Rasul 16:19 yang berbunyi, “Ketika tuan-tuan perempuan itu melihat, bahwa harapan mereka akan mendapat penghasilan lenyap, mereka menangkap Paulus dan Silas, lalu menyeret mereka ke pasar untuk menghadap penguasa.” Kata yang sama artinya dengan “tarik” dalam Yohanes 6:44 dalam teks di atas adalah “menyeret.” Lagi-lagi, jika kita mengganti kata “menyeret” dengan “merayu” atau “membujuk,” maka teks itu akan menjadi lelucon.

Sproul menceritakan kisah perdebatannya dengan seorang kepala bagian Departemen Perjanjian Baru di sebuah Seminari yang Arminian. Penantang Sproul mengartikan kata “tarik” dalam Yohanes 6:44 itu sebagai bujukan. Menanggapi hal itu, Sproul langsung mengarahkannya pada Kittel’s Theological Dictionary of The New Testament dan ayat Perjanjian Baru lain yang menterjemahkan kata tersebut dengan “menyeret.” Awalnya Sproul menduga dia telah mengalahkan penantangnya. Tetapi, kemudian penantang tersebut mengutip sebuah buku syair Yunani di mana kata Yunani yang sama digunakan untuk melukiskan tindakan untuk menimba air keluar dari sumur, dan ia berkata, “Profesor Sproul, menurut saudara apakah seseorang menyeret air keluar dari sumur?” Sproul berdiri dan menjawab, “Tidak Pak, saya harus menerima bahwa kia tidak menyeret air keluar dari sumur. Namun bagaimana kita dapat mengambil air dari sumur itu? Apakah kita membujuknya supaya keluar? Apakah kita berdiri di sisi sumur dan berteriak: ‘air…air… kemarilah…, kemarilah…, kemarilah…?’[4]

Intinya adalah kata elko tidak bisa ditafsirkan sebagai “merayu” atau “membujuk.” Lalu apa artinya jika Bapa menarik seseorang? Maksudnya adalah sebelum seseorang datang kepada Kristus, ia harus dihidupkan terlebih dahulu oleh Allah, sehingga ia bisa menyadari bahwa ia manusia berdosa yang membutuhkan Kristus. Manusia karena dosa adalah mati secara rohani (bdk. Ef. 2:1), sehingga harus ada tindakan supranatural dari Allah terlebih dahulu supaya manusia itu bisa hidup (bdk. Ef. 2:4-dst). Inilah yang disebut sebagai kelahiran kembali yang disinggung Yesus dalam Yohanes 3:3, “… Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seseorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat kerajaan Allah.”

Jadi, Tuhan Yesus mengharuskan suatu kondisi awal yang harus kita miliki sebelum kita dapat melihat dan masuk dalam kerajaan Allah. Kondisi awal itu adalah dilahirkan kembali. Dalam kelahiran kembali manusia itu pasif, karena Allah Roh Kuduslah yang melahirkan kita kembali. Itulah artinya dihidupkan dari kematian rohani. Itulah artinya ditarik oleh Allah.

Jadi, kelahiran baru mendahului iman. Kita bisa beriman kepada Kristus, karena Allah telah melahirbarukan kita terlebih dahulu. R.C Sproul menegaskan:

Sifat kita telah sangat tercemar, kuasa dosa begitu besar, sehingga kecuali Allah bertindak dengan cara yang supranatural dalam jiwa kita, maka kita tidak akan pernah memilih Kristus. Kita tidak percaya dengan tujuan untuk dilahirkan kembali; kita dilahirkan kembali dengan tujuan agar kita boleh percaya.[5]

Bagi saya pribadi, ini merupakan anugerah yang begitu luar biasa, yang karenanya kita berhutang ucapan syukur kepada Allah yang berlimpah dengan anugerah. Jika kita bisa datang kepada Yesus, itu hanya dimungkinkan oleh pekerjaan Allah dalam jiwa kita.

Sebelum saya akhiri, saya ingin kembali pada judul artikel ini sejenak. Berdasarkan pembahasan di atas, maka jawaban untuk pertanyaan yang menjadi judul artikel ini, “Apakah Manusia Berdosa Dapat Datang Kepada Kristus Dengan Kemampuannya Sendiri?” adalah TIDAK!

Soli Deo Gloria!

[1]R.C Sproul, Umat Pilihan Allah (Malang: Literatur SAAT, 2003), 61-62.  
[2]Sproul, Umat Pilihan Allah, hal. 63.  
[3]Sproul, Umat Pilihan Allah, hal. 63.  
[4]Sproul, Umat Pilihan Allah, hal. 64-65.  
[5]Sproul, Umat Pilihan Allah, hal. 66-67. Saya beranggapan bahwa iman itu sendiri juga adalah karunia Allah. Saya telah menulis artikel mengenai topik ini. Baca di sini.

King MU

https://sepakbolaupdate02.blogspot.com/2026/08/muat.html   https://idn00170.tigoals235.com/football/3048999-Info_LiveStreaming.html