Selasa, 18 Januari 2022

KEBANGKITAN YESUS & KEBERANIAN PARA MURID

Oleh: Join Kristian Zendrato

Salah satu bukti bahwa Yesus bangkit dari kematian adalah keberanian para murid untuk memberitakan Injil pasca kebangkitan. Mereka siap mati dan mempertaruhkan hidup mereka demi klaim itu. 

Jika seandainya mereka tahu bahwa Yesus tak pernah bangkit maka adalah kegilaan untuk mau menderita dan siap mempertaruhkan nyawa mereka untuk memberitakan kepada setiap orang bahwa Yesus bangkit. 

Mereka berani karena Yesus benar-benar bangkit secara fisik, dan telah menampakkan diri kepada mereka (1 Kor. 15:3-11), dan kubur Yesus kosong (mis. Luk. 24:2-3). 

Timothy Keller dalam bukunya Rasio Bagi Allah menulis, "Pascal berkata, 'Saya [percaya] kepada para saksi mata yang mengorbankan nyawa mereka.' Semua rasul dan para pemimpin Kristen mula-mula mati karena iman mereka, dan sulit untuk percaya bahwa pengorbanan seperti ini akan dilakukan untuk mendukung sebuah kebohongan" (Rasio Bagi Allah, hal. 232).

Selamat Paskah yo!


NOTITIA (FEAT PROF. LOUIS BERKHOF)

Oleh: Join Kristian Zendrato

Membaca kembali buku Profesor Louis Berkhof pagi ini menyadarkan saya betapa sembarangannya kita berbicara mengenai "iman." Berkhof menunjukkan bahwa dalam iman yang sejati harus ada elemen-elemen tertentu. Salah satunya adalah elemen notitia (elemen intelektual). Elemen notitia mengharuskan setiap orang yang mengaku beriman harus memiliki pengetahuan yang disebut Berkhof sebagai "positive recognition of the truth" (pengenalan yang positif terhadap kebenaran).
 
Malangnya, banyak orang merasa beriman tanpa mempunyai positive recognition of the truth" (pengenalan yang positif terhadap kebenaran). Mereka berkata percaya kepada Kristus, tetapi kalau kita mendesak dan meminta mereka menggambarkan Kristus yang bagaimana yang mereka percayai, maka kita akan segera mendapatkan gambaran-gambaran yang salah tentang Yesus.
 
Atau contoh lebih dekat adalah peristiwa Jumat Agung (Kematian Yesus). Sebentar lagi kita akan merayakannya. Tetapi ketika kita bertanya kepada kebanyakan orang Kristen tentang makna kematian Yesus, maka jawaban populer adalah untuk menebus dosa kita. Tetapi kalau kita bertanya lebih jauh, bagaimana kematian Yesus bisa menebus dosa, maka mungkin saja jawabannya akan salah, dan mungkin juga tak ada jawaban.
 
Demikian juga misalnya untuk masalah Paskah (Kebangkitan Yesus). Orang-orang akan mengingat bahwa mereka telah atau akan ikut dalam pencarian telur Paskah. Tetapi para pencari telur ini, sama sekali tidak tahu apakah Yesus benar-benar bangkit dari kubur, dan apa makna dari kebangkitan-Nya. Sehingga jika ada orang yang menyerang doktrin kebangkitan Yesus, maka semuanya bungkam. Dan banyak contoh-contoh lain.
 
Anehnya orang seperti itu banyak dan mengaku diri punya "iman." Mereka lupa bahwa iman yang sejati harus mempunyai elemen-elemen tertentu di dalamnya, salah satunya adalah elemen notitia.
Ini terjadi karena dua kemungkinan: Pertama, pengajarnya yang salah karena tidak belajar, sehingga mengajar sembarangan. Kedua, pendengarnya yang tidak mau diajar atau belajar.

Nasihat Profesor Louis Berkhof penting untuk diperhatikan sebagai penutup. Ia berkata, "Yang paling penting, terutama pada zaman sekarang, bahwa gereja harus melihat bahwa anggotanya mempunyai pengetahuan tentang kebenaran dengan tepat dan bukan dengan sembarangan" (lihat Louis Berkhof, Teologi Sistematika 4: Doktrin Keselamatan, hal. 201-204).

JIKA, JIKA, DAN JIKA VS. BERSYUKUR

Oleh: Join Kristian Zendrato

Hidup yang kita hidupi saat ini adalah fakta yang harus kita hadapi – entah kita suka atau tidak. Fakta hidup tak selalu seindah yang kita pikirkan, bahkan mungkin justru berbanding sangat terbalik dengan alam pikiran kita. Kita kadang frustasi melihat cita-cita dan mimpi-mimpi kita tergantung nun jauh di negeri ilusi yang tak pernah eksis. 

Karena banyak harapan-harapan kita yang tetap tinggal mimpi, maka tak salah jika William Shakespeare berkata, “Expectations is the root of all heartache” (Pengharapan adalah akar dari semua sakit hati). Harapan-harapan yang tak pernah kunjung terwujud memang adalah sumber segala sakit hati kita. Kita menginginkan persahabatan yang baik, tetapi fakta membubarkan hal itu – sahabat kita justru menyakiti kita, dan kita sakit hati. Kita menginginkan hubungan kita dengan seseorang langgeng terus, tetapi fakta sering membubarkan impian itu – dia justru selingkuh. Dan lagi-lagi kita sakit hati. Kita menginginkan hari yang menyenangkan, tetapi yang datang justru kecelakaan. Dan lagi-lagi kita sakit hati. Shakespeare memang benar bahwa harapan yang tak terwujud adalah akar dari segala sakit hati. 

Ketika hal-hal yang tak kita inginkan itu yang justru datang dalam hidup kita, maka biasanya kita berhalusinasi untuk menghidupi kehidupan lain. Kita memulai berpikir dan berkata: jika aku lebih kaya maka seharusnya sahabatku tak akan pergi. Jika aku lebih cantik, maka pasanganku tak akan selingkuh. Jika aku punya mobil, maka kecelakaan hari ini tak akan terjadi. Pikiran kita dipenuhi dengan “jika, jika, dan jika.” Itulah yang sering kita lakukan saat kita berada dalam kesulitan hidup. 

Jadi, harapan yang tak terwujud menimbulkan sakit hati, dan sakit hati menimbulkan kata, “jika, jika, dan jika.” 

Waktu pikiran kita dipenuhi dengan konsep “jika, jika, dan jika,” maka sebenarnya kita sedang membenci kehidupan riil kita, dan lebih menginginkan kehidupan yang lain, yang tak pernah eksis. Malang memang, kita justru menambah penderitaan kita dengan memikirkan kehidupan lain yang nyatanya tak pernah eksis dalam dunia riil. Bukankah itu menggelikan? Kita jarang menyadari bahwa ini menggelikan karena sudah take for granted. 

Kontras dengan konsep “jika, jika, dan jika,” adalah tindakan bersyukur. Konsep “jika, jika, dan jika,” membuat kita tak menghargai hidup, menyesali hidup, dan sebagainya. Tetapi tindakan bersyukur sebaliknya, membuat kita menghargai hidup, dan tak menyesali hidup. 

Sebagai orang percaya, seharusnya kita meninggalkan konsep “jika” ketika kita menghadapi masalah atau penderitaan. Konsep yang harus kita tunjukkan seharusnya adalah bersyukur. Bersyukur menunjukkan bahwa kita menghargai pemberian Allah bagi kita. Bersyukur menunjukkan bahwa kita mengamini kebijaksanaan Allah dalam mengatur hidup kita. Bersyukur berarti mengamini bahwa bahkan dari penderitaan yang buruk sekalipun, Allah akan mendatangkan kebaikan yang tak pernah kita pikirkan sebelumnya. 

Itulah sebabnya, Rasul Paulus dalam Roma 8:28 menyatakan dengan tenang, “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”

Paulus mengerti bahwa bahkan dalam penderitaan pun kita patut bersyukur, bukan berkonsep “jika, jika, dan jika,” karena bagi Paulus Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi orang percaya, termasuk dalam harapan-harapan mereka yang tak terwujud.

COBALAH DENGARKAN SEBAB KITA INI TERBATAS

Oleh: Join Kristian Zendrato

Dalam teologi Kristen, manusia dianggap sebagai ciptaan Allah yang finit (terbatas). Implikasi dari konsep ini jelas banyak. Misalnya, karena kita terbatas, maka kita tidak bisa mengenal Allah sepenuhnya, atau dalam kata-kata Profesor Louis Berkhof, "Finitum non possit capere infinitum." 

Implikasi lainnya dari status kita sebagai ciptaan yang finit juga menyangkut kehidupan kita. Dalam menjalani hidup, kita tetap terbatas. Kita tak bisa terbang. Tak bisa hidup tanpa udara, dsb. Kita bersifat dependen terhadap Allah.

Namun salah satu yang mau saya tekankan adalah keterbatasan kita dalam menangkap dan memahami seluruh peristiwa yang terjadi. Itu jelas pernah dan akan selalu kita alami. Ini kita alami karena kita tidak mahatahu.

Apesnya, keterbatasan kita dalam menangkap dan memahami seluruh peristiwa yang terjadi seringkali memimpin kita pada kesalahpahaman (misunderstanding). 

Misalnya, kalau kita melihat orang yang lewat di depan kita, dan orang itu terkesan buang muka, maka kemungkinan besar mayoritas dari kita akan menganggap itu sombong. 

Anggapan kita itu bisa benar, bisa tidak. Anehnya, kita selalu berpikir anggapan kita benar. Padahal kemungkinan yang lain masih ada. Bisa saja orang itu sebenarnya tidak sombong, hanya saja dia orangnya pemalu, atau dia lagi buru-buru. 

Saya sering melihat banyak orang terus menerus ngotot tinggal dalam kesalahpahaman tentang orang lain. Bahkan ketika orang lain berusaha menjelaskan posisinya, kita sering mengakhiri penjelasannya dengan berkata, "Ah, sudahlah" - tanpa pernah berpikir secara rasional tentang alasan-alasannya bertindak seperti itu. 

Ada juga yang sedang salah paham kepada orang lain dan bersikap tak mau mendengarkan penjelasan dari orang lain itu. Mungkin orang itu mau menjelaskan maksud dari tindakannya bahwa apa yang terjadi tak seperti dugaan kita, tetapi kita terlebih dahulu sudah menutup telinga. Dan banyak kasus berujung buruk gara-gara tak mau mendengar penjelasan orang lain ini.

Bukankah di antara kita begitu banyak orang dengan sikap seperti itu? 

Kita kadang lupa bahwa kita ini terbatas. Kita lupa bahwa kita ini makhluk yang finit, yang pemahamannya akan sebuah peristiwa tidak komprehensif. Kita lupa bahwa mata kita tak selalu bisa melihat segala sesuatu dengan utuh. Kita lupa kalau kita butuh penjelasan. Kita menghindari penjelasan dan ngotot pada apa yang kita lihat. Padahal banyak hal yang kita salah pahami. Banyak fakta sebenarnya tak selalu seperti yang kita lihat.

Maksud saya begini: kadang memang, kita bisa menilai sesuatu atau seseorang berdasarkan apa yang terlihat di mata kita. Tetapi itu tak selalu benar. Karena pasti ada kasus di mana kita mungkin salah menilai. Ingatlah pepatah, "Don't judge a book by its cover."

Dalam hal ini perbanyaklah mendengar penjelasan orang lain tentang tindakannya yang mungkin anda salah pahami. Kita kadang menganggap diri lebih paham orang lain lebih dari orang itu sendiri. Dan itu tidak selalu benar. Ingat kita ini terbatas, tak mahatahu.

Berusahalah untuk mau mendengar.

BERIKANLAH SEDIKIT APRESIASI

Oleh: Join Kristian Zendrato

Kita – manusia diberikan kadar keberanian yang berbeda-beda oleh Sang Allah Tritunggal. Ada yang terlihat sangat berani, agak berani, kurang berani. Anda bahkan bisa menemukan orang-orang yang untuk berbicara kepada orang lain saja harus mengeluarkan semua keberaniannya untuk melakukan itu. Baginya, memulai pembicaraan kepada orang lain itu tidak mudah.

Ekspresi-ekspresi mengenai tingkat keberanian terlihat dalam berbagai tingkah laku kita. Maka bayangkanlah jika ada orang yang berniat baik melakukan sesuatu kepada Anda, dan dia melakukan itu dengan segenap keberaniannya kepada Anda. Sebenarnya dia tidak biasa melakukan hal itu, tapi mungkin karena baginya Anda adalah The Special One, maka ia berani melakukannya.

Jangan berpikir bahwa keberanian itu hanya dibuktikan dengan tindakan yang membahana dan spektakuler seperti meloncat dari gedung pencakar langit, melawan hiu, menguras samudera Pasifik, atau menghentikan gemuruh Niagara. Semua itu memang tindakan berani, tetapi bahkan dalam tindakan-tindakan remeh sekalipun, mungkin saja itu dilakukan seseorang dengan anggapan bahwa itu adalah tindakannya yang sangat berani atau bahkan paling berani.

Misalnya jika Anda dichat, ditelpon, diperhatikan, disapa, dilihat, dimintai maaf, ditulisi sesuatu, dimintai sesuatu yang remeh oleh seseorang, maka ingatlah selalu bahwa ketika seseorang melakukan itu kepada Anda, mungkin saja dia melakukannya dengan anggapan bahwa itu adalah tindakannya yang sangat berani atau paling berani. Itu adalah perjuangan baginya. Atau bahkan mungkin itu adalah ekspresi kebahagiannya karena Anda. Walaupun bagi Anda sendiri itu adalah hal-hal biasa, yang take for granted.


Maksud saya adalah berikanlah sedikit apresiasi bagi orang-orang seperti itu. Saya tak mengatakan bahwa semua orang begitu. Tak seadanya orang juga harus kita apresiasi. Tapi setidaknya, ini bisa menjadi semacam warning bagi kita dalam menjalani hidup di bumi ini dengan sesama kita.

MENGGELIKANNYA MENJAWAB PERTANYAAN "APA KABAR?" DENGAN KATA-KATA "LUAR BIASA"

Oleh: Join Kristian Zendrato

Entah berapa kali saya mendengar banyak orang, entah di kampus, di Gereja, dan tempat lainnya sering menjawab "luar biasa" saat mereka ditanya "apa kabar?"

Sepintas lalu, jawaban "luar biasa" itu terkesan menunjukkan tingkat kerohanian yang tinggi. Tetapi setelah memikirkan lebih dalam, saya mendapati bahwa jawaban "luar biasa" itu agaknya menggelikan.

Pernahkah anda berpikir apa arti dari "luar biasa" itu? Bagi saya sendiri "luar biasa" (extraordinary) berarti aneh, tidak beroperasi seperti biasanya, atau berjalan secara berbeda bahkan menyimpang dengan tatanan yang ada.

Untuk menjelaskan maksud saya maka saya akan memberikan contoh.

Di bumi ini, jika kita melempar batu ke atas, maka batu itu akan kembali ke bawah. Nah, peristiwa itu disebut "biasa." Tetapi seandainya seseorang melempar batu ke atas, dan batu itu tidak pernah kembali ke bawah (kecuali nyangkut yah, itu ceritanya beda), atau batunya terus ke atas menembus langit, maka itu di sebut "luar biasa." Kenapa disebut "luar biasa"? Karena peristiwa itu berjalan atau beroperasi secara berbeda dengan tatanan yang ada. Peristiwa itu aneh.

Atau contoh lain, misalnya kalau kita melihat seseorang yang sedang mengeluarkan air mata, kita akan memaklumi hal itu, karena itu hal "biasa." Dia mungkin sedang sedih atau bahagia. Tapi coba bayangkan kalau kita melihat seseorang terus menerus mengeluarkan air mata tanpa pernah berhenti. Peristiwa itu jelas "tidak biasa." Itu peristiwa "luar biasa." itu aneh.

Atau contoh lain. Manusia normal, paru-parunya ada di dalam, dan tak kelihatan dari luar. Kita menyebut itu "biasa." Sekarang coba bayangkan kalau anda melihat seseorang yang paru-parunya berada di luar berjalan ke sana ke mari dan menyapa anda? Itu jelas aneh, tidak biasa. Nah, justru hal yang tak normal itulah yang "luar biasa."

Dari defenisi mengenai "luar biasa" dan contoh-contoh di atas, menurut saya adalah menggelikan untuk terus menerus menjawab pertanyaan "apa kabar?" dengan kata-kata "luar biasa."

Sebab waktu Anda mengatakan "luar biasa" itu artinya anda sedang mengakui bahwa anda sedang hidup aneh, dan berbeda dengan tatanan yang ada. Padahal kalau kita lihat keadaan Anda, Anda terlihat biasa-biasa saja. Paru-parunya masih di dalam. Lalu apa yang luar biasa? Apa karena anda lagi bahagia? Hah, bahagia itu "biasa" juga kok. Sedih juga "biasa." Dua-duanya biasa. Justru yang "luar biasa" adalah jika anda tak pernah bahagia atau sedih.

Luar biasa itu hanya cocok untuk Allah. Hanya Allah yang luar biasa. Itu dikarenakan Dia sepenuhnya berbeda dengan kita yang biasa, atau dalam kata-kata Karl Barth, Dia adalah "The Wholly Other."

Jadi menurut saya kalau kita ditanya "apa kabar" maka jawablah dengan sederhana: "seperti biasa, baik."

Kita memang biasa, dan biasa itu indah. Biasa itu normal.

JIKA ITU "KAIROS"KU BAGAIMANA?

Oleh: Join Kristian Zendrato

Dalam bahasa Yunani ada dua kata yang bisa diterjemahkan waktu, yakni kronos dan kairos. Kronos adalah waktu yang terus menerus berlanjut dan tetap ada. Dari sinilah kita mendapat istilah kronologi. Sedangkan kairos adalah momen tertentu yang terjadi suatu waktu ditengah-tengah waktu yang terus berlanjut. Kalau kronos selalu ada, kairos itu kadang-kadang ada. Oleh karena itu kairos sering diterjemahkan sebagai kesempatan.

Masing-masing kita mempunyai kairos atau kesempatan-kesempatan tertentu sepanjang kehidupan kita. Kairos kita bentuknya macam-macam, misalnya: pertemuan dengan seseorang, permintaan maaf, lowongan kerja, pelayanan, dan sebagainya.

Anda kadang tidak akan mendapatkan kairos dua kali. Jadi, ada hal-hal tertentu di mana kita tidak bisa tidak harus mengambil keputusan pada detik itu, karena bisa saja kairos hari ini tidak akan pernah muncul besok.

Untuk itu jangan terlalu cepat untuk menyalahkan seseorang jika ada keputusan-keputusan yang diambilnya bahkan dalam waktu cepat dan beresiko. Mungkin saja dia sedang mendapatkan kairos yang esok belum tentu ada. Itulah kenapa Heraklitus pernah berkata, “You cannot step twice to the river, for the fresh waters are ever flowing upon you” (artinya: kamu tidak akan dapat terjun pada sungai yang sama untuk ke dua kalinya karena air sungai itu telah mengalir). 

Sampai di sini paham yah?

King MU

https://sepakbolaupdate02.blogspot.com/2026/08/muat.html   https://idn00170.tigoals235.com/football/3048999-Info_LiveStreaming.html